Opini

Program Imunisasi MR, Bagaimana Nasibmu?

AGUSTUS dan September 2018 ini seharusnya menjadi waktu pelaksanaan imunisasi Measles Rubella (MR)

Program Imunisasi MR, Bagaimana Nasibmu?
SERAMBINEWS.COM/IDRIS ISMAIL
Bupati Pidie, Roni Ahmad atau Abusyik (Tengah) memangku salah satu murid SDN 1 Pasi Rawa Kota Sigli, Pidie untuk disuntik Imunisasi MR oleh tenaga medis dari Dinas Kesehatan , Rabu (1/8/2018). 

Oleh Aslinar

AGUSTUS dan September 2018 ini seharusnya menjadi waktu pelaksanaan imunisasi Measles Rubella (MR) untuk luar Pulau Jawa, termasuk di Aceh. Di Pulau Jawa sudah berlangsung tahun lalu pada Agustus dan September 2017. Vaksin MR ini adalah satu vaksin yang baru digunakan di Indonesia. Vaksin ini merupakan produksi dari Negara India dan disubsidi oleh pemerintah, yang berarti diberikan secara gratis kepada masyarakat. Vaksin ini untuk mencegah penyakit measles (campak) dan Rubella.

Manfaat dilakukan imunisasi MR ini adalah untuk meningkatkan kekebalan masyarakat terhadap penyakit campak dan rubella secara cepat, memutuskan transmisi (penularan) virus campak dan rubella, menurunkan angka kesakitan akibat penyakit campak dan rubella serta menurunkan angka kejadian CRS (congenital rubella syndrome) atau sindrom rubella kongenital. Namun yang terjadi adalah pelaksanaan imunisasi MR tahap II ini harus terhenti.

Hal tersebut dikarenakan banyaknya penolakan dari masyarakat, termasuk di Aceh. Para masyarakat meminta kejelasan tentang adanya sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pada 1 Agustus dimana dilakukan pencanangan tersebut, akan tetapi hanya di beberapa sekolah saja dilakukan.

Di berbagai kabupaten di Aceh juga timbul banyak respons, termasuk dari para kepala daerah, kepala kantor kemenag. Bahkan, Bapak Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah pada 5 Agustus 2018 lalu, juga turut mengimbau untuk menunda pelaksanaan imunisasi MR tersebut. Walaupun imbauan Bapak Plt Gubernur tersebut tidak tertuang dalam surat resmi, akan tetapi berita penundaan yang dimuat di media cetak di Aceh saat itu cukup memberi pengaruh besar.

Alhasil sebagian besar Dinas Kesehatan di berbagai Kabupaten menghentikan pelaksanaan imunisasi tersebut. Cakupan imunisasi MR di Provinsi Aceh mendapat posisi yang paling rendah, yaitu hanya 6,5%.

Fatwa MUI
Kemudian pada 20 Agustus 2018, sudah dikeluarkan Fatwa MUI No.33 Tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin MR (Measles Rubella) Produk dari SII (Serum Institute of India) untuk munisasi. Isi fatwa memutuskan bahwa secara ketentuan hukum: Pertama, penggunaan vaksin yang memanfaatkan unsur babi dan turunannya hukumnya haram; Kedua, vaksin MR produk dari SII hukumnya haram, karena dalam proses produksinya memanfaatkan bahan yang berasal dari babi;

Dan, ketiga, penggunaan vaksin MR produk dari SII pada saat ini, dibolehkan (mubah), karena ada kondisi keterpaksaan (darurat syar’iyyah), belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci, serta ada keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi dan belum adanya vaksin yang halal. Kebolehan vaksin MR tidak berlaku jika ditemukan adanya vaksin yang halal dan suci.

Nah, dengan adanya Fatwa MUI yang sudah dikeluarkan tersebut, menjadi tidak beralasan lagi bagi para orang tua untuk masih menolaknya. Fatwa MUI mengatakan mubah, itu berarti boleh melakukan vaksin pada anak-anak kita dan ini harusnya menghilangkan keraguan kita. Pernyataan yang tertuang dalam Fatwa MUI “dalam proses memanfaatkan bahan yang berasal dari babi” bukan berarti mengandung babi. Jadi hasil akhir vaksin MR ini tidak mengandung babi dan ini sudah dilakukan pemeriksaannya yang membuktikan hal tersebut. Di sinilah diberlakukan prinsip istihalah dan istihlak.

Istihalah adalah berubahnya sesuatu dari tabiat asal atau sifatnya yang awal. Berkaitan dengan vaksinasi, istihalah berkaitan dengan perubahan benda najis atau haram menjadi benda suci yang telah berubah sifat dan namanya, di mana enzim tripsin babi tersebut telah berubah nama dan sifat atau bahkan hanya sebagai katalisator pemisah saja dan yang menjadi patokan adalah sifat benda tersebut sekarang.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help