Opini

Program Imunisasi MR, Bagaimana Nasibmu?

AGUSTUS dan September 2018 ini seharusnya menjadi waktu pelaksanaan imunisasi Measles Rubella (MR)

Program Imunisasi MR, Bagaimana Nasibmu?
SERAMBINEWS.COM/IDRIS ISMAIL
Bupati Pidie, Roni Ahmad atau Abusyik (Tengah) memangku salah satu murid SDN 1 Pasi Rawa Kota Sigli, Pidie untuk disuntik Imunisasi MR oleh tenaga medis dari Dinas Kesehatan , Rabu (1/8/2018). 

Penjelasan Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengenai istihalah, “bahwa Allah mengeluarkan benda yang suci dari benda yang najis dan mengeluarkan benda yang najis dari benda yang suci. Patokan bukan pada benda asalnya, tapi pada sifatnya yang terkandung pada benda tersebut (saat itu). Dan tidak boleh menetapkan hukum najis, jika telah hilang sifat dan berganti namanya.”

Contoh istihalah lainnya seperti khamar yang berubah menjadi cuka, air laut menjadi garam, minyak menjadi sabun. Contoh lainnya, yaitu pupuk kandang dengan kotoran hewan yang najis kotorannya, karena proses perubahan dan sudah dicampurkan dengan berbagai bahan, maka tanaman tersebut menjadi halal dan boleh kita makan.

Sedangkan istihlak adalah bercampurnya benda najis atau haram pada benda yang suci, sehingga mengalahkan sifat najisnya, baik rasa, warna dan baunya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “bahwa air itu suci, tidak ada yang menajiskannya sesuatupun.” Kemudian di hadis lainnya, “Jika air mencapai dua qullah maka itu tidak mengandung najis.” Jadi, jika benda tersebut, misalnya, najis sudah melebur dengan air dan najis tersebut kalah dengan zat yang meleburkan, yaitu air, maka benda najis tersebut dalam air tidak dianggap lagi dan air tetap suci.

Berkaitan dengan cara membersihkan najis babi ini, sudah dijelaskan oleh Rasulullah saw. Pada saat itu Abu Tsa’labah Al Khusyani bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, kami tinggal di daerah yang mayoritas penduduknya ahli kitab, apakah boleh kami makan menggunakan dengan wadah mereka? Rasulullah menjawab, jika Engkau mendapatkan wadah lainnya, jangan makan menggunakan wadah tersebut. Jika engkau tidak mendapatkan yang lainnya, maka cucilah wadah tersebut dan makanlah dengan menggunakan wadah itu.”

Dari hadis tersebut bisa disimpulkan bahwa bisa tetap menggunakan wadah tersebut, jika tidak ada pengganti dan mesti dicuci bersih. Hal ini juga berlaku untuk vaksin yang digunakan saat ini.

Para ulama dunia menerima istihalah pada penggunaan gelatin/tripsin babi pada vaksin dan menyatakan kehalalan zat yang telah mengalami transformasi. Di Indonesia yang sebagian besar menganut Mazhab Syafii, di mana membatasi istihalah hanya pada tiga kondisi saja, yaitu perubahan khamar menjadi cuka, kulit hewan najis yang mejadi halal setelah disamak, dan perubahan bangkai babi menjadi garam secara alamiah. Di luar tiga hal tersebut tidak berlaku konsep istihalah. Sedangkan tiga mazhab lain, konsep istihalah berlaku secara umum. Nah, itulah sebabnya di negara Islam lain masalah vaksin tidak seheboh di Indonesia.

Darurat syar’iyyah
Pernyataan dalam Fatwa MUI tersebut yang mengakui bahwa vaksin adalah satu-satunya metode imunisasi, sehingga dikatakan sebagai darurat syar’iyyah. Mengapa dikatakan darurat? Karena saat ini satu satunya cara untuk mencegah penyakit rubella yang akan mengakibatkan lahirnya bayi-bayi yang cacat karena CRS adalah hanya dengan vaksin MR.

Dan juga timbul banyak pertanyaan; mengapa dikatakan darurat, sedangkan saat ini tidak ada wabah rubella? Yang sebenarnya kasus campak dan rubella sangat banyak ditemukan. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir didapatkan 23.164 kasus campak dan 30.463 kasus rubella dan 2.767 kasus CRS.

CRS ini adalah kondisi kecacatan yang terjadi pada bayi baru lahir bila si ibu hamil menderita rubella. Kecacatan yang timbul ini bisa berupa penyakit jantung bawaan (bocor jantung), kerusakan jaringan otak yang bisa menyebabkan kelumpuhan ataupun retardasi mental, katarak kongenital (terdapat selaput putih di lensa mata), dan gangguan pendengaran atau tuli.

Bagi yang masih ragu, yakinkan diri ya. Bila di awal pelaksanaan menolak karena belum ada sertifikat MUI, sekarang sudah dikatakan dalam Fatwa MUI bahwa imunisasi MR hukumnya mubah, ya jangan mencari alasan lain. Sungguh naif di saat kita menolak vaksin untuk anak-anak kita yang sudah difatwa mubah, di sisi lain si Ayah malah merokok, yang sudah jelas dinyatakan haram.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved