Dokter Azharuddin Sebut Ada 'Hantu' pada Proyek Gedung Onkologi RSUZA, Makanya tak Siap-siap

Pembangunan proyek multiyears yang dimulai sejak 2016, hingga kini belum tampak wujudnya karena macet di tengah jalan.

Dokter Azharuddin Sebut Ada 'Hantu' pada Proyek Gedung Onkologi RSUZA, Makanya tak Siap-siap
IST
Gedung Pusat Radio Onkologi RSUZA Banda Aceh. 

Laporan Eddy Fitriady | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Direktur Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, Dr dr Azharuddin SpOT K-Spine menyebut ada 'hantu' dalam proyek Pusat Layanan Kanker atau Radio Onkologi rumah sakit itu.

Pasalnya, pembangunan proyek multiyears yang sudah dimulai sejak 2016, hingga kini belum tampak wujudnya karena macet di tengah jalan.

“Gedung ini proyek multiyears. Tapi selalu faktor x yang menggagalkannya," kata Azharuddin, Jumat (31/8/2018).

Lebih lanjut, ahli bedah tulang ini mengkiaskan bahwa faktor x yang dimaksud yaitu adanya 'hantu' dalam proyek tersebut.

"Pemenang tendernya itu hantu. Mereka tidak memenuhi syarat karena masuk dalam daftar hitam, sehingga proyek tak bisa dilanjutkan," kata Azharuddin.

Antrean Pasien Panjang, RSUZA Butuh Tambahan Empat Kamar Operasi

RSUZA Operasi Cangkok Ginjal Ketiga Kalinya, dari Adik Perempuan ke Abang Kandung

Dia pun mengungkapkan rasa pesismisnya terhadap Pusat Radio Onkologi RSUZA yang menurutnya terancam gagal dibangun.

Karena sudah memasuki tahun ketiga pembangunannya, pusat layanan kanker hanya lah berupa fondasi dengan besi-besi yang sudah berkarat.

“Kualifikasi pembangunan gedung dengan biaya sekitar Rp 175 miliar itu idealnya dikerjakan selevel BUMN. Saya berharap gedung ini dikerjakan oleh profesional,” harapnya.

Belum lagi pengadaan peralatan lengkap pusat kanker yang menelan biaya sekitar Rp 150 miliar. Praktis pusat layanan ini menyedot Rp 300 miliar lebih.

BPJS Ketenagakerjaan Ingatkan Masyarakat soal Penipuan Berkedok Survei, Dipastikan Hoax

BPJS Kesehatan Batasi Rehabilitasi Medik, Pasien akan Dibebani Biaya Pengobatan

Direktur RSUZA berharap Pemerintah Aceh baik eksekutif maupun legislatif mau menaruh perhatian lebih terhadap gedung itu, karena memang sangat dibutuhkan masyarakat Aceh.

Menurutnya, masyarakat Aceh sering kali terpaksa ‘terbang’ ke luar daerah bahkan luar negeri untuk mendapatkan terapi dan pengobatan kanker.(*)

Penulis: Eddy Fitriadi
Editor: Safriadi Syahbuddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved