Opini

Konsep Pendidikan Berbasis Syariah

MARAKNYA berbagai praktik “haram” dalam beberapa tahun terakhir, seperti narkoba, aliran sesat

Konsep Pendidikan Berbasis Syariah
IST
Drs Muhammad Nasir (kiri) mewakili Kadis Pendidikan Dayah Aceh, menyerahkan hadiah kepada juara lomba baca kitab kuning di Dayah Perbatasan Safinatussalamah, Desa Biskang, Kecamatan Danau Paris, Aceh Singkil, Rabu (9/5/2018). 

(2) Mencintai Rasulullah saw. Mencintai Rasulullah dengan sering bershalawat kepadanya, mengikuti contoh amaliah dan disiplin menjalankan perintah Allah Swt, seperti shalat dan lainnya. Shalat menjadi satu hal penting diterapkannya di dalam keluarga, seperti sabdanya, “Muru as-shabiya bis shalah idza balagha sab’a sinin, fa idza balagha `asyra sinin fadhribuhu `alaiha (Suruhlah anak-anakmu mendirikan shalat bila berumur tujuh tahun, bila sudah beranjak sepuluh tahun (tidak mau), maka berilah sanksi kepadanya)” (HR. Abu Daud, dan Turmidzi).

Konsep seperti digagas Rasulullah dinilai sangat penting, terlebih dalam era modern, di mana dampak dari pengaruh lingkungan sangat tidak mudah diawasi. Namun bila si anak sudah disiplin dengan shalat, insya Allah dengan sendirinya bisa mengawal dirinya masing-masing sekalipun saat berada di luar rumah;

(3) Mencintai dan mengenal keluarga Rasulullah saw. Dalam kaitan ini orang tua dianjurkan membawa ke rumah bacaan-bacaan yang bernilai agama, seperti kisah-kisah keluarga Rasulullah, sejarah para nabi dan rasul, atau CD lagu yang bernafaskan Islami. Bahkan yang penting juga mengontrol, mengawasi alat komunikasi yang digunakan seperti handphone/smartphone, pemakaian jaringan internet/komputer, medsos, dan lain-lain.

Hal itu bisa dilakukan baik melalui contoh dari orang tua, pesan moralitas, nasihat yang santun dan bersifat persuasif, dan cara-cara lainnya bilhikmati walmauidzah. Karena menurut Rasulullah saw, setiap anak yang lahir dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yang menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani atau Majusi (HR. Bukhari Muslim). Rasulullah juga bersabda, “Didiklah anakmu karena ia akan hidup kelak berbeda dengan situasi zamanmu.”

Dan, ketiga, Rasulullah saw juga menganjurkan, akrimu awladakum wa ahsinu adabahum (muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah akhlak mereka). Memuliakan si anak bukanlah berarti memenuhi semua permintaannya atau juga bukanlah memanjakan secara berlebihan. Bila cara seperti ini yang dipraktikkan, akhirnya bukan si anak yang merasa segan dan hormat kepada orang tuanya, tetapi justeru orang tuanya yang merasa takut kepada anaknya.

Inilah yang diingatkan Imam Syafi’i ra, laitsal yatimu alladzi qad mata waliduhu walakinnal yatima yatimul ilmi wal adabi (tidaklah seorang anak itu dinamakan yatim karena meninggal kedua orang tuanya, tapi anak itu dinamakan yatim karena miskin ilmu dan akhlaknya).

Tanggung jawab keluarga
Sekalipun keberhasilan anak dalam sebuah keluarga tidak sepenuhnya di tangan orang tua, karena dalam sistem pendidikan modern juga dikenal adanya keterlibatan guru di sekolah, dan masyarakat di luar lembaga rumah tangga. Namun bila merujuk kepada teori dan konsep pendidikan Rasulullah saw dan perintah Allah Swt dalam Alquran, tanggung jawab utama tetap berada di pihak keluarga dengan dukungan para pendidik di sekolah dan masyarakat.

Alquran dengan tegas mengingatkan orang tua agar tidak menjerumuskan anaknya ke dalam neraka, yang kayu apinya terdiri dari manusia dan batu. Di mana siksaan api neraka lebih dahsyat dari api di dunia sekarang ini.

Anak adalah anugerah terindah sekaligus amanah (titipan) yang Allah berikan kepada setiap orang tua. Oleh karena itu, orang tua hendaknya memperhatikan kebutuhan dan perkembangan anak-anaknya, agar mereka tumbuh menjadi anak yang cerdas, sehat baik jasmani maupun rohani, dan bar-akhlaqul karimah, serta berbakti orang tua, agama, bangsa dan negara.

Anak dapat membuat senang hati kedua orang tuanya, manakala anak tersebut berbakti kepada mereka, serta taat dalam menjalankan ibadahnya. Namun anak juga dapat membuat susah kedua orang tuanya manakala anak tersebut tidak berbakti kepadanya, serta tidak taat beribadah, apalagi kalau sampai terlibat atau tersangkut dalam masalah kriminalitas atau kenakalan remaja yang lain.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help