Opini

Refleksi Pendidikan Umat

NAMANYA shuffah, ruang sederhana yang dimaksudkan secara khusus untuk menyukseskan agenda maha penting

Refleksi Pendidikan Umat
getty images
Ilustrasi seorang pemuda sedang membaca Alquran. 

Pendidikan Islam di tengah muwahhidun itu juga mengingatkan tema penting tentang misi penyelamatan universal, maka mereka terlibat aktif pula dalam mengemban dan menyebarkan risalah Islam di lintas peradaban. Dengan determinasi tinggi, jiwa kepahlawanan, dan penuh keberanian. Mereka bukan saja tak gentar jika harus berhadapan dengan musuh, lebih dari itu mereka juga merindukan kematian. Kematian bagi mereka adalah perjumpaan yang disegerakan dengan yang maha memiliki kehidupan.

Kekaisaran Bizantium dan Imperium Persia, adalah dua kekuatan superpower yang saat itu telah kukuh berabad-abad lamanya. Di antara keduanya, selama 700 tahun belum pernah sampai selesai saling menguasai. Namun kurang dari setengah abad saja seluruh wilayah Persia itu dan teritori Bizantium di Syam, takluk dalam kekuasaan umat Islam.

Dalam skala lebih luas; 1.000.000 mil persegi di masa Rasulullah saw, 200.000 mil persegi di masa Abu Bakar, 1.500.000 mil persegi di masa Umar, dan 800.000 mil persegi di masa Utsman, dalam waktu singkat dikooptasi oleh umat Islam. Sebagian melalui deputasi (kafilah dakwah), dan sebagian lainnya melalui ekspansi militer.

Usia juang 35 tahun dengan capaian 3,5 juta mil persegi (meliputi dua kekuatan adidaya), dari bangsa yang baru berusia tiga dasawarsa, tanpa tata kelola militer yang dapat dikatakan mapan serta prestasi perang yang membanggakan, diliputi kapasitas pasukan dan persenjataan yang serba minimalis, adalah kurang masuk akal dalam kalkulasi militer yang wajar. Namun fakta unik ini telah menarik perhatian jumhur sejarawan lintas iman untuk meneliti bagaimana capaian yang luar biasa itu ditoreh.

Logika keimanan
Adapun mukmin yang insaf, tahu betul, bahwa capaian itu adalah soal logika keimanan (asbab syar‘iyyah). Mereka yakin akan janji Allah Swt dalam firman-Nya, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Ia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Ia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Ia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku.” (QS. an-Nur : 55).

Menjadi persoalan kini, bagaimana sejumlah besar manusia di banyak tempat yang mengafiliasikan imannya pada Islam, namun tampaknya tak juga beroleh janji Allah berupa kekuasaan/kejayaan itu? Tentu kita tak akan berkata bahwa Allah Swt telah mengingkari janjinya. Dengan penuh kesadaran, kita mesti menunjuk kepada kualitas keberislaman kolektif kita. Pada generasi awal, fakta kualitas menaklukkan perasaan lemah sebagai minoritas. Sedangkan kini, kita ramai, namun sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Seperti buih”.

Di tubuh keberislaman kita, hiruk-pikuk gelombang pendidikan Islam dengan segala modelnya memang begitu riuh. Namun sudahkah secara signifikan mampu memengaruhi umat kolektif? Mengembalikan cita, identitas, dan rasa percaya diri seorang mukmin yang kian lenyap di tengah derasnya semangat zaman.

Sesungguhnya, problem kita amatlah serius. Ruh Islam sendiri seakan terlepas dari banyak ikhtiar pendidikan umat. Pendidikan agaknya tak lagi dicitakan demi memahami diri dan mengabdi semata kepada Allah Swt. Namun demi pengabdian pada diri sendiri dan demi kepuasan, kekuasaan, kemasyhuran, serta sederet “prestise hawa nafsu” lainnya. Wallahul musta`an.

* Nauval Pally Taran, pengajar di Pondok Studi Islam Mahasiswa (Postim). Email: nauvalpally@yahoo.co.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved