RSUZA Kekurangan Kamar Operasi

Panjangnya antrean pasien yang membutuhkan tindakan operasi di Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin

RSUZA Kekurangan Kamar Operasi
AZHARUDDIN,Direktur RSUZA Banda Aceh

BANDA ACEH - Panjangnya antrean pasien yang membutuhkan tindakan operasi di Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh tidak berbanding lurus dengan ketersediaan kamar operasi. Rumah sakit milik Pemerintah Aceh itu kini membutuhkan sedikitnya empat kamar operasi baru, selain delapan kamar operasi yang sudah ada.

Hal itu dikemukakan Direktur RSUZA, Dr dr Azharuddin SpOT K-Spine FICS kepada Serambi, Kamis (30/8), di rumah sakit tersebut. Dikatakan, dengan delapan kamar operasi yang tersedia saat ini, pihaknya hanya mampu mengoperasi 50-60 pasien per hari, baik yang terjadwal maupun emergency. “Sedangkan kebutuhan operasi cukup tinggi di RSUZA. Kami butuh empat kamar operasi lagi, sehingga bisa mengoperasi sampai 100 pasien per hari,” ujarnya.

Meski kekurangan kamar operasi, Azharuddin mengaku SDM rumah sakit tersebut memadai, karena hingga saat ini pihaknya sudah memiliki hampir 200 spesialis dari berbagai keahlian. Masalahnya, kata dia, keahlian para dokter tersebut tidak tersalur secara optimal akibat masih kurangnya fasilitas RS. “Bahkan ada kamar operasi yang harus dibagi, atau dipakai selang-seling untuk kasus yang berbeda,” jelas Direktur RSUZA, dan mencontohkan untuk ortopedi saja sehari bisa 10 kali operasi.

Selain itu, lanjut Azharuddin, sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang sudah berjalan 10 tahun, RSUZA semestinya sudah mampu membiayai dirinya sendiri. Namun kenyataannya, BLUD tersebut masih bergantung pada APBA meskipun sudah menghasilkan Rp 510 miliar per tahun, yang digunakan untuk operasional RS. “Fasilitas RSUZA harus lebih lengkap, agar masyarakat Aceh dapat terlayani maksimal di daerahnya sendiri,” kata dia.

Spesialis Ortopedi itu menambahkan, di samping penambahan kamar operasi, RSUZA saat ini juga sangat membutuhkan Pusat Traumatologi, atau ‘Instalasi Gawat Darurat (IGD) terpisah’ untuk melayani secara maksimal pasien kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, dan kasus trauma lainnya. “IGD kami sekarang hanya memiliki 40 bed dengan rasio tahun 2009. Kita butuh Pusat Trauma agar penanganan pasien trauma bisa lebih fokus dan optimal,” timpalnya.

Azharuddin juga menyinggung soal perlunya tempat parkir kendaraan di RSUZA yang representatif, sebab selama ini kendaraan pengunjung RS ‘dijemur’ dalam terik matahari. Sebagai BLUD, katanya lagi, RSUZA juga bisa membangun ‘Wing Layanan Eksekutif’ untuk melayani pasien kelas menengah ke atas. “Dengan adanya layanan ini, pasien tidak perlu lagi berobat ke luar negeri,” imbuh dia.

Pada bagian lain, Direktur RSUZA, Dr dr Azharuddin SpOT K-Spine juga mengungkapkan rasa pesismisnya terhadap Pusat Layanan Kanker atau Radio Onkologi, yang menurutnya terancam gagal dibangun. Meskipun pembangunannya sudah dimulai sejak 2016, hingga kini bangunan tersebut belum tampak wujudnya karena macet di tengah jalan.

“Ini memang sudah direncanakan proyek multiyears. Tapi selalu faktor X yang menggagalkannya yaitu pemenang tendernya hantu,” kata Azharuddin mengkiaskan. Dijelaskan, pemenang tender tersebut tidak memenuhi syarat karena masuk dalam daftar hitam, sehingga proyek tak bisa dilanjutkan. Menurutnya, yang sudah terbangun saat ini hanya lah fondasi dengan besi-besi yang sudah berkarat.

Azharuddin berharap gedung Pusat Radio Onkologi yang merupakan proyek multiyears itu dapat cepat rampung dan dikerjakan oleh pihak yang punya kualitas seperti BUMN. “Kualifikasi pembangunan dengan biaya mahal itu idealnya dikerjakan selevel BUMN. Saya berharap gedung ini dikerjakan oleh profesional,” pungkasnya.(fit)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved