Sopir Truk Galus Demo

Ratusan sopir truk pengangkut material galian C berupa pasir dan batu (sirtu) atau juga tanah timbun

Sopir Truk Galus Demo
Ratusan sopir dan kernet serta pemilik dump truk datangi gedung DPRK Galus meminta pemerintah menentukan dan menetapkan lokasi yang dibebaskan untuk pengambilan material bangunan seperti bebatuan dan pasir (galian C) di kabupaten itu, Kamis (30/8). 

* Di Agara, Galian C Masih Bebas

BLANGKEJEREN - Ratusan sopir truk pengangkut material galian C berupa pasir dan batu (sirtu) atau juga tanah timbun menggelar demo ke gedung DPRK Gayo Lues di Blangkejeren, Kamis (30/8). Sebaliknya, para sopir truk di kabupaten tetangga, Aceh Tenggara (Agara) masih bebas mengambil galian C, bahkan tidak menutup bak belakang saat melaju di jalanan.

Dalam demo itu, para sopir meminta dewan untuk memastikan lokasi pengambilan batu dan pasir serta tanah yang diizinkan. Puluhan truk ikut dibawa saat demo dengan orasi disampaikan di atas truk melalui alat pengeras suara.

Kedatangan mereka yang tergabung dalam komunitas truk pengambil sirtu itu disambut oleh 11 anggota DPRK Galus dan para sopir dibawa ke dalam gedung dibawah pengaman petugas kepolisian dan Satpol PP. Koordinator lapangan (korlap) komunitas truk Galus, Dody Aprizal, dalam orasinya menuntut pemerintah daerah untuk memperhatikan nasib mereka yang memiliki keluarga.

Dia juga meminta dewan menetapkan lokasi pengambilan sirtu dan tanah yang bisa diambil maupun digali. Mereka juga meminta Pemkab Galus agar memberi pehamaman kepada masyarakat bahwa sungai milik negara, bukan milik pribadi seperti yang diklaim warga selama ini.

Ditambahkan, Pemkab Galus juga harus segera mengeluarkan peraturan tentang lokasi legal, sehingga bisa mengambil metarial galian C tanpa melangggar hukum. “Anggota dewan harus membentuk Pansus Galian C untuk menentukan lokasi pengambilan material sirtu dan tanah timbun,” katanya.

Begitu juga dengan sopir lainnya, Sukri Adi saat menyampaikan tuntutannya di dalam gedung dewan, di antaranya truk 10 roda harus dilarang beroperasi, karena bisa merusak jalan umum, kecuali di wilayah tertentu.

“Kami meminta pemerintah daerah menetapkan lokasi untuk pengambilan material bebatuan, pasir dan tanah, serta memprioritas truk lokal dalam setiap pekerjaan dari pemerintah,” tambahnya. Dia menegaskan sebelum ada kepastian lokasi pengambilan material C, maka seluruh proyek fisik p emerintah harus dihentikan terlebih dahulu, karena juga mengambil material dari sungai.

Sebaliknya, truk pengangkut material galian C di Aceh Tenggara (Agara) bebas berkeliaran di jalanan saat mengangkut sirtu atau juga tanah timbun. Bahkan, sopir tidak menutup bak belakang dengan terpal, sehingga dapat membahayakan pengendara di belakangnya.

Ketua LSM Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Aceh Tenggara, M Saleh Selian, mengatakan truk pengangkut material galian C di Agara sangat bebas berkeliaran di jalan raya, tanpa penutup atau terpal. Dikatakan, hal itu sangat membahayakan bagi kenderaan yang berada di belakang ruk tersebut.

Disebutkan, lemparan bebatuan dari truk maupun material lain dapat mengenai pengendara sepeda motor, termasuk kaca mobil. Dia mengaku, kesemrawutan Kota Kutacane semakin menjadi, karena aturan tidak diindahkan lagi.

Dia mencontohkan, mobil barang berbadan lebar masih menurunkan barang maupun parkir sembarangkan, sehingga menyuitkan pengguna jalan lain melintas. Dia berharap agar organisasi angkutan dan pihak terkait segera menertibkan mobar maupun truk pengangkut material tanpa penutup.

Menanggapi tuntutan para sopir truk itu, anggota DPRK Galus, Ramli Syarif mengatakan pihaknya hanya sebagai perpanjangan tangan, bahkan sudah memanggil dinas terkait mengenai izin pengambilan galian C. Dia menyatakan telah meminta dinas terkait untuk menjelaskan lokasi pengambial material galian C.

Dia menjelaskan Bupati Muhammar Amru tidak berada di tempat setelah dihubungi oleh anggota dewan. Tetapi, ujarnya, izin galian C dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Aceh, sedangkan Pemkab Galus hanya mengeluarkan rekomendasi mengenai hal itu.

Ironisnya, katanya, sungai tempat pengambilan material galian C sudah diklaim oleh masyarakat dan dikuasai oleh sekelompok orang-orang tertentu untuk mencari keuntungan. Dia mengakui hal itu sudah menjadi rahasia umum, padahal sungai milik negara dan dikelola oleh negara, bukan oleh masyarakat. (c40/as)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help