Opini

Generasi ‘Yatim Piatu’

AKHIR-AKHIR ini banyak anak-anak yang berubah menjadi “yatim piatu”. Bukan karena tidak lagi memiliki ayah dan ibu

Generasi ‘Yatim Piatu’
maxmanroe.com
Media Sosial

Orang tua bersedia hadir dalam kegiatan-kegiatan sekolah, membantu anak menyelesaikan tugas-tugas pendidikan karakter di rumah, dan seterusnya. Komitmen guru dan orang tua ini harus dituangkan secara hitam putih yang kemudian ditandatangani oleh kedua orang tua. Sekolah dan orang tua tentu harus komit atas kesepakatan yang telah dibuat itu, jika menginginkan anak-anak yang sukses.

Pendidikan karakter mutlak menjadi tugas rumah dan sekolah. Kegiatan parenting dapat diadakan sebulan sekali atau lebih, berupa seminar, training. Parenting dapat memberi banyak pencerahan dan inspirasi bagi orangtua dalam mendidik anak. Parenting juga menjadi stimulus bagi orang tua untuk menjalankan kurikulum pendidikan karakter di rumah. Bahkan banyak juga dari orang tua yang mendapati dirinya lebih baik setelah mengikuti parenting secara rutin di sekolah anak.

Setiap sekolah wajib memiliki minimal satu orang konselor profesional atau guru bimbingan konseling. Idealnya konselor sekolah tidak diberi kewajiban mengajarkan mata pelajaran. Konselor sekolah semata bertugas merencanakan dan menginisiasi implementasi program-program pencegahan dan penanganan atas kasus-kasus psikologis yang terjadi di sekolah, pada seluruh sistem sekolah. Program-program pencegahan meliputi juga kegiatan parenting bulanan, training komunikasi teurapeutik untuk para guru dan petugas sekolah, mengaktifkan media-media informasi untuk pengembangan karakter anak, serta membina konselor teman sebaya sebagai perpanjangan tangan konselor/guru BP dalam penanganan pertama masalah-masalah teman sebayanya.

Lagu jiwa yang
menenangkan
Padatnya pelajaran sekolah merupakan satu sumber tekanan bagi anak-anak sekolah. Oleh karena itu, “lagu jiwa” yang menenangkan perlu di-install sedini mungkin dalam jiwa anak-anak. Lagu jiwa yang berada pada gelombang alpha atau gelombang ketenangan seperti saat bangun tidur, menjadi satu sumber penawar bagi ketegangan (stress) yang dialami anak setiap harinya. Lagu jiwa yang tenang membantu seseorang untuk terus berada dalam kondisi alpha yang siap memperkuat fokus dan kosentrasinya.

Jika saja setiap hari anak-anak sekolah terus mengawali dan mengakhiri belajar dengan bacaan asmaul husna, misalnya, maka gelombang ketenangan dalam tangga nada asmaul husna akan ter-install dalam diri anak. Ditambah lagi penghayatan pada makna arti nama-nama Allah, akan menjadi modal karakter iman pada anak. Mengapa anak-anak yang bagus hafalan Alquran cenderung tenang tanpa masalah? Karena lagu jiwanya adalah Alquran sebagai nasihat (al-mau’izhah), obat (syifa’), petunjuk (hudan), kasih sayang (rahmat), dan pembeda (furqan).

Gerakan wajib madrasah. Pondok pesantren merupakan tradisi pendidikan Islam sejak zaman Rasulullah saw dan sahabat yang dikenal dengan madrasah. Pendidikan Islam mengenal dua pendidikan dasar wajib bagi anak-anak muslim yaitu kuttab dan madrasah. Madrasah atau pondok pesantren sekarang ini merupakan pendidikan lanjutan bagi anak-anak yang telah baliqh atau kira-kira berusia 12 tahun (selepas kuttab).

Aceh sebagai provinsi yang memiliki otonomi di bidang agama dan pendidikan, sudah saatnya menghidupkan tradisi kearifan lokal mengaji di pondok pesantren. Karena keterbatasan, tidak semua pemuda-pemudi Aceh tempo doeloe dapat mengecap pendidikan di pondok pesantren. Namun demikian sebagian dari mereka memiliki tradisi bermalam di meunasah gampong yang boleh dikata sebagai pengejawantahan dari pondok pesantren, sedangkan pemudinya bermalam di rumah guru ngaji.

Selepas shalat Magrib dan Isya berjamaah, pemuda-pemudi Aceh dulu di gampong-gampong memiliki aktivitas positif, yaitu mengaji Alquran serta mengkaji kitab-kitab. Setiap harinya mereka mengecap pendidikan takzim pada orang tua dan guru, saling menghormati, pelajaran tenggang rasa, kerukunan, kekeluargaan, serta kesusteraan, teknik diplomasi dan sosialisasi yang berbeda dengan anak-anak sekolah modern zaman now.

Sayangnya, tradisi tersebut harus berakhir seiring dengan masuknya televisi dan hidupnya warung-warung kopi di malam hari. Ditambah lagi dengan kondisi sosial politik yang tidak kondusif di Aceh saat itu. Nah!

Hafnidar, S.Psi., M.Sc., Dosen Psikologi Universitas Malikussaleh (Unimal), penerima beasiswa LPSDM Aceh untuk Program Doktoral (PhD) Educational Psychology di UPSI Malaysia. Email: hafnidar.psy@gmail.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help