Opini

Menjadi Guru ‘Generasi Z’

SEBUTAN guru profesional sejak zaman dulu hingga kini masih sering terdengar.

Menjadi Guru ‘Generasi Z’
FACEBOOK/EDI FADHIL
Untuk menuju desa ini kita harus naik boat selama 7 jam dari Kuala Simpang, Kab. Aceh Tamiang. Di Desa ini hanya ada sekolah SD Negeri dan SMP Swasta. Pasca tamat SMP kebanyakan anak perempuan harus menikah dan anak laki-laki akan bekerja mencari kayu ke hutan. 

Semakin kompleks
Jadi, tantangan guru di era milenial dan generasi Z menjadi semakin berat. Apalagi kalau guru yang lahir di zaman generasi X dituntut untuk mengimbangi cepatnya perubahan gaya hidup dan kemampuan anak-anak zaman milenial dan generasi Z yang dibesarkan dengan teknologi digital, guru zaman milenial memang tidak bisa tinggal diam. Tantangan guru di era milenial dan generasi Z menjadi semakin kompleks. Karena semua berubah dengan begitu cepat, tanpa mampu difilterisasi oleh guru di sekolah.

Para guru yang lahir dari generasi X penting sekali mengetahui perilaku generasi Z bila ingin sukses dalam mengajar dan mendidik generasi ini. Sebagai generasi yang lahir dan dibesarkan dalam era digital, anak-anak sebagai peserta didik akan sangat dekat dengan media sosial, dan produk teknologi internet tersebut.

Aulia Adam dalam artikelnya, “Selamat tinggal generasi milenial, Selamat datang generasi Z” menulis bahwa “Sejauh ini, Generasi Z dikenal sebagai karakter yang lebih tidak fokus dari milenial, tapi lebih serba-bisa; lebih individual, lebih global, berpikiran lebih terbuka, lebih cepat terjun ke dunia kerja, lebih wirausahawan, dan tentu saja lebih ramah teknologi.” (Tirto.com, 12/4/2017).

Kedekatan generasi ini dengan teknologi sekaligus membuktikan masa depan sektor tersebut akan semakin cerah di tangan mereka. Dari segi ekonomi, menurut survei Nielsen, generasi Z sudah memengaruhi perputaran ekonomi dunia sebagai 62 persen konsumen pembeli produk elektronik. Ini dipengaruhi oleh kehidupan mereka yang sudah serba terkoneksi dengan internet.

Pertanyaan kita selanjutnya adalah bagaimana di dunia pendidikan? Perubahan apa yang akan dihadapi oleh para guru di lembaga-lembaga pendidikan? Bukankah ketika perilaku generasi Z yang berubah begitu cepat dan sangat dipengaruhi oleh teknologi informasi dan komunikasi yang membuat mereka sangat terfokus pada teknologi digital. “Ya, generasi Z, adalah generasi paling berpengaruh, unik, dan beragam dari yang pernah ada,” lanjut Aulia Adam mengutip kata Blakley dalam wawancaranya dengan Forbes.

Jadi tantangannya cukup besar dan berat bukan? Maka, kiranya, guru di lembaga-lembaga pendidikan memang harus berbenah dengan cepat bila ingin sukses mengajar dan mendidik anak-anak generasi milenial dan generasi Z yang sangat menantang tersebut. Para guru harus mau dan dengan sungguh-sungguh meningkatkan kapasitas pengetahuan, harus banyak dan rajin membaca perkembangan zaman.

Para guru juga harus menguasai metode pembelajaran yang sesuai dengan kemajuan media pembelajaran yang serba komputer. Dengan demikian pula guru dituntut mampu mengoperasikan teknologi digital secara mumpuni dan harus siap mental menghadapi perubahan tersebut. Pendek kata, menjadi guru di era milenial dan mengajar anak-anak generasi Z, para guru adalah sosok yang harus memahami perkembangan perilaku anak-anak tersebut. Oleh sebab itu, jangan tunda-tunda lagi waktu berbenah diri!

Tabrani Yunis, pemerhati masalah-masalah pendidikan, berdomisili di Banda Aceh. Email: potret.ccde@gmail.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved