Bahasa, Lagukan dan Nyanyikanlah!

Sama halnya dengan keragaman hayati, keragaman bahasa juga cenderung semakin terancam

Bahasa, Lagukan dan Nyanyikanlah!

Oleh: Baun Thoib Soaloon Siregar

Sama halnya dengan keragaman hayati, keragaman bahasa juga cenderung semakin terancam. Di negara kita, beberapa bahasa telah punah dan sebagian besar berada dalam posisi terancam. Hanya beberapa bahasa yang diyakini masih aman. Di Aceh, sementara ini, diperkirakan hanya bahasa Aceh saja yang masih “aman”.

Selain jumlah penutur yang minim, ruang pemakaian bahasa-bahasa tersebut juga semakin sempit dan terbatas karena tekanan bahasa-bahasa lain (khususnya bahasa Indonesia). Pertanyaannya, dapatkah kita menghempang laju ancaman perubahan bahasa tersebut? Saya tidak bisa menjamin. Namun setidaknya kita harus berusaha dengan berbagai cara. Ya, dengan berbagai cara. Idealnya begitu.

Namun kali ini saya mencoba menawarkan salah satunya yakni melalui lagu, syair, nyanyian, atau semacamnya. Mohon maaf! Meskipun sangat ingin, saya tidak bisa menyebutkannya dalam bahasa-bahasa daerah kita, karena takut salah. Adakah pembaca yang ingin membantu saya?

Mengapa lagu? Sederhana, sesungguhnya kita semua menyukai lagu, nyanyian, dan sejenisnya. Karena unsur utama lagu adalah fragmen bahasa yang digubah sedemikian rupa, maka dengan sendirinya, lewat lagu kita menghidupi dan menghidupkan bahasa, baik secara sadar maupun tidak. Keduanya tak terpisahkan.

Di sanalah bahasa bernafas dengan langgam dan irama, tumbuh dengan ragam khas, dan berkembang sedemikian rupa untuk mengekspresikan beragam nilai dan pengalaman manusia yang begitu kaya. Lagu-lagu menyuguhkan cara-cara unik kita untuk menikmati dan memperkaya kehidupan ini. Dendang dan lagu dalam beragam jenisnya hampir selalu menyertai kehidupan umat manusia sejak dahulu kala, baik untuk sekadar kesenangan atau hiburan maupun untuk tujuan-tujuan yang lebih spesifik (pendidikan dan peribadatan misalnya).

Pada setiap zaman, para penyair silih berganti menciptakan beragam tembang. Bahkan kita pun sesekali menggubahnya untuk konsumsi pribadi.Sejak lahir kita sudah akrab dengan senandung dan lagu-lagu. Di sekolah, kita belajar (melalui) lagulagu. Setelah dewasa, kita memanfaatkannya untuk berbagai hal dan mencoba menikmatinya dengancara yang berbeda. Bahkan ketika memasuki liang kubur kembali menghadap Sang Khalik pun kita diantarkan dengan alunan salawat, zikir, dan azan.

Begitulah, lagu dan nyanyian dalam berbagai kemasan selalu mengisi dimensi tertentu sepanjang kehidupan kita. Mungkin agak berlebihan jika saya mengatakan bahwa pada dasarnya lagu dan nyanyian nyaris mengiringi setiap penggal perjalanan hidup kita. Ungkapan “simfoni kehidupan” kiranya tepat mengabstraksi eratnya kehidupan dengan lagu.

Oh ya. Ketika menulis artikel ini, teman saya sedang mendengarkan lagu-lagu Barat (Inggris) melalui perangkat ponselnya. Ini memang kebiasaannya. Sesekali saya mendengarnya ikut larut bernyanyi atau sekadar bersenandung. Katanya, selain hobi menyanyi, tembang-tembang tersebut mengasah kemampuan dan rasa bahasa Inggrisnya semakin baik. Barangkali Anda juga pernah atau bahkan sering melakukannya, bukan? Tentu tidak mesti lagu-lagu Barat. Anda mungkin lebih suka tembang-tembang dangdut maupun pop Indonesia dan menikmatinya dengan cara lain atau barangkali lagu-lagu berirama “padang pasir” (Arab).

Bagaimana dengan nasyid atau lagu-lagu religi berirama gambus? Tidak masalah dan tidak perlu juga selalu menjadi hobi. Itu berarti Anda masih bisa melalui hari-hari sibuk Anda dengan lebih santai. Saya sendiri memfavoritkan lagu-lagu daerah Batak, tanah kelahiran saya. Bukan narsis, hanya masalah selera. Entah kenapa simfoninya membantu saya mengenali diri dan memaknai kehidupan ini. Setiap orang tentu punya alasan subyektif dalam memilih lagu dan musik.

Hal itu tak perlu kita perdebatkan. Tidak seperti teks tulisan, simfoni lagu dannyanyian lebih mudah mengorkestrasi segenap modalitas kita sehingga tidak saja memanjakan indra dengar, tetapi juga menggugah emosi dan pikiran, bahkan tanpa disadari merangsang saraf motorik kita untuk bergerak bergoyang. Kesan dan efeknya jauh lebih dalam dan total. Itulah sebabnya syair-syair tembang dan lagu (terutama yang kita senangi) lebih mudah kita ingat. Betapa banyak syair dan lagu yang tetap langgeng melintasi pergantian zaman, terpatri kuat dalam memori kolektif masyarakatnya, bahkan digubah berulang kali dengan berbagai versi.

Itu artinya, jika suatu bahasa memiliki khazanah tembang, syair, lagu, atau semacamnya apalagi yang digubah dengan langgam syair dan irama yang memesona, maka peluang bahasa itu untuk tetap aman dan lestari pasti jauh lebih besar. Ia akan bertahan hidup dan sintas dalam mengarungi ecamuk kompetisi dan perang bahasa yang eskalasinya semakin tinggi. Andai pun suatu masa ia mengalami ancaman serius, maka langkah-langkah revitalisasinya cenderung akan lebih mulus meskipun minim sumber-sumber tertulis.

Bukankah budaya bahasa masyarakat etnik kita memang masih mengandalkan tradisi cakapan dan masih jauh dari kemajuan tulis menulis? Saya tidak bermaksud mendorong kembalinya verbalisme dan mengesampingkan pemajuan literasi tulis, elektronik, dan digital demi kemajuan peradaban kita. Bagaimana pun tulis menulis itu dalam beragam moda dan wujudnya sangat penting dalam segala hal, apalagi dalam upaya konservasi dan pembinaan bahasa. Kata orang, tulisan itu abadi, sementara hafalan, cepat atau lambat akan mati (hilang). Persoalannya, Anda pun kiranya tahu bahwa menulis dan membaca merupakan pekerjaan yang sulit bagi banyak orang.

Sebaliknya, bernyanyi atau berdendang dengan cara bagaimanapun kita menikmatinya tak perlu menguras energi dan pikiran. Semua orang telah dan akan selalu melakukannya dengan beragam cara dan media serta memanfaatkannya untuk berbagai tujuan mulai dari yang duniawi sampai pada yang ukhrawi. Bayangkan apabila aktivitas menyenangkan ini dapat kita maksimalkan untuk pemertahanan dan kemajuan bahasa-bahasa!

Jadi, jika ingin terlibat dalam pelestarian bahasa, sidang pembaca tak mesti harus menjadi bahasawan. Bernyanyilah, lagukan bahasamu, dan kalau bisa (kata orang) viralkan melalui beragam wahana dan media! Sebagai penutup, saya mulai berpikir bahwa para pujangga, penyair, pencipta lagu, dan penyanyi lagu-lagu daerah kiranya layakkita angkat menjadi duta bahasa daerah dan mendapatkan penghargaan kebahasaan atas sumbangan mereka bagi kelestarian dan kemajuan bahasa dan budaya daerah. Bagaimana sidang pembaca, setuju?

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help