Warga Laweung Tuntut Penyelesaian Tapal Batas

Ratusan warga Gampong Ujong Pidie dan Sagoe, Kecamatan Muara Tiga (Laweung), mendatangi Kantor Bupati Pidie

Warga Laweung Tuntut Penyelesaian Tapal Batas
Sekda Pidie, Muliyadi SPd MM, menggelar rapat sengketa tapal batal pada tanah kosong antara Gampong Ujong Pie dengan Gampong Sagoe, Kecamatan Muara Tiga (Laweung), di Kantor Bupati Pidie, Sabtu (1/9). SERAMBI/M NAZAR 

SIGLI - Ratusan warga Gampong Ujong Pidie dan Sagoe, Kecamatan Muara Tiga (Laweung), mendatangi Kantor Bupati Pidie, Sabtu (1/9), untuk meminta Pemkab segera menyelesaikan sengketa tapal batas tanah kosong yang diklaim milik kedua gampong tersebut. Karena di atas tanah itu rencananya akan digunakan untuk pembangunan sarana olahraga.

Ratusan warga Laweung yang mendatangi Kantor Bupati Pidie itu menggunakan pikap L300. Puluhan polisi melakukan penjagaan di setiap pintu kantor bupati agar warga tidak bisa menerobos masuk ke kantor pemerintahan. Beberapa menit kemudian, perwakilan kedua gampong diperbolehkan masuk untuk mengikuti rapat sengketa tapal batas yang dipimpin Sekda Pidie, Muliyadi SPd MM. Juga hadir dalam pertemuan itu Waka Polres Pidie, Kompol Iskandar, Kabag Ops Polres Pidie, Kompol Juli Effendi dan sejumlah SKPK.

Kapolres Pidie, AKBP Andy Nugraha Setiawan Siregar SIK, melalui Kabag Ops Kompol Juli Effendi, Sabtu (1/8) mengatakan, masalah tapal batas tanah kosong antara Gampong Ujong Pie dengan Gampong Sagoe telah diupayakan polisi untuk penyelesaian, tapi belum ada titik temu. Sehingga warga di dua gampong tersebut mendatangi Kantor Bupati Pidie.

Ia menambahkan, Pemkab harus menyelesaikan secara tuntas masalah sengketa tapal batas di Laweung. Sebab, masalah tersebut bisa berpotensi bentrok sesama warga. Seperti di Gampong Ujong Pie dan Sagoe nyaris bentrok jika polisi tidak turun tangan.(naz)

Sekda Pidie, Muliyadi, menjelaskan bahwa hasil kesepakatan rapat sengketa tapal batas antara Gampong Ujong Pie dengan Sagoe melahirkan dua opsi. Yakni, opsi pertama tanah tersebut dibagi dua. Menurutnya, jika opsi pertama tidak disetujui kedua gampong, maka opsi kedua, tanah tersebut akan diambil alih menjadi milik Pemkab Pidie, yang nantinya dijadikan lahan untuk untuk kepentingan umum. Tanah tersebut luasnya sekitar 15.000 meter, rencananya akan digunakan warga untuk sarana olahraga.

“Masalah sengketa tanah ini telah final. Hasil rapat, diberikan waktu satu minggu waktu berpikir bagi kedua gampong tersebut. Warga bisa memilih salah satu opsi yang telah disepakati di dalam rapat tersebut,” demikian ungkap Sekda Pidie tersebut.(naz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved