Citizen Reporter

Kampanye Selamatkan Anak di Malaysia

SAYA dari Pengurus Pusat Forum Silaturahmi Kemakmuran Masjid Serantau (Forsimas) mendapat undangan khusus

Kampanye Selamatkan Anak di Malaysia
BASRI A BAKAR 

OLEH BASRI A BAKAR, Sekretaris Umum Forsimas, melaporkan dari Kuala Lumpur, Malaysia

SAYA dari Pengurus Pusat Forum Silaturahmi Kemakmuran Masjid Serantau (Forsimas) mendapat undangan khusus dari Yayasan Wanita Islam Malaysia untuk menghadiri launching Kampanye Keselamatan Kanak-kanak (3K) pekan ini.

Event penting yang diikuti sekitar 200 peserta itu diselenggarakan di Ballroom Seri Pacific Hotel Kuala Lumpur, dirangkai dengan seminar oleh dua pembicara masing-masing ASP Yusnany (Polis Wanita Diraja Bukit Aman) dan Haji Sahlan bin Saruddin (Ketua Pegawai Eksekutif Institut Kajian Sosial dan Kemasyarakatan).

Acara tersebut cukup menarik perhatian media massa karena ikut dihadiri dan diresmikan oleh Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato’ Seri Dr Wan Azizah binti Dato’ Wan Ismail serta menampilkan tokoh boneka film kartun terkenal Upin dan Ipin sebagai Duta Program 3K. Sejumlah pihak terkait, termasuk lembaga pendidikan dan swasta, ikut meramaikan kampanye tersebut. Di lobi hotel tempat diselenggarakan kegiatan ini digelar pula pameran aneka produk, buku bacaan, bahkan pemeriksaan kesehatan gratis.

Terus terang, saya salut terhadap isu yang diangkat dalam acara tersebut. Artinya, Pemerintah Malaysia menaruh perhatian besar dan menganggap penting perlindungan dan keselamatan nasib anak-anak sebagai ahli waris masa depan. Tidak kalah mengagumkan adalah Wakil Perdana Menteri bersedia hadir dan membuka resmi acara tersebut. Bahkan setelah acara selesai, Dato’ Wan Azizah masih mau duduk di ruang acara jamuan makan siang bersama peserta. Meski tetap dijaga ketat oleh para pengawalnya, sosok yang baru sebulan menjabat orang kedua Malaysia itu mau melayani para peserta yang ingin bersalaman dengannya.

Presiden Yayasan Wanita Islam Hj Najwa binti Dato’ Abdul Azis menyampaikan dalam sambutannya bahwa kasus kekerasan dan kriminal anak di Malaysia cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai contoh pada tahun 2015-2016, kasus penganiayaan fisik mencatat angka tertinggi mencapai 2.470 kasus, diikuti kekerasan seksual sebanyak 2.012 kasus dan tekanan mental 170 kasus. Kasus jinayah terhadap anak-anak meliputi penganiayaan, menelantarkan, pembuangan, dan kekerasan. Itu sebabnya pihaknya merasa terpanggil untuk mengatasi masalah sosial yang kronis ini bersama pemerintah, media massa dan pihak-pihak lain. Ia berharap ke depan akan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu-isu keselamatan anak dan memelihara hak-hak mereka untuk hidup layak.

Dalam konteks ini, anak yang dalam bahasa Melayu disebut kanak-kanak didefinisikan seseorang yang masih di bawah umur 18 tahun, atau selaras dengan Akta Umur Dewasa 1971 di Malaysia, menetapkan umur dewasa adalah 18 tahun ke atas. Agaknya tidak berbeda dengan apa yang dipahami di negara kita Indonesia tentang pengertian anak. UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, Pasal 1 angka 5 menyebutkan, “Anak adalah setiap manusia yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah, terrnasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya.”

Sementara itu, Islam menyebutkan, “Anak adalah manusia yang belum mencapai akil balig (dewasa ), di mana laki-laki disebut dewasa ditandai dengan mimpi basah, sedangkan perempuan ditandai dengan menstruasi. Jika tanda-tanda tersebut sudah tampak berapa pun usianya maka ia tidak bisa lagi dikategorikan sebagai anak-anak yang bebas dari pembebanan kewajiban.”

Hari ini anak-anak dihadapkan kepada permasalahan kompleks di tengah majunya teknologi IT. Kedewasaan anak-anak masa kini berbeda dengan anak-anak masa lalu yang jauh dengan segala hal yang berbau teknologi. Bila orang tua salah dalam mendidik anak-anaknya pada usia sebelum dewasa, maka sang anak kelak akan menjadi manusia yang jauh dari nilai-nilai luhur. Oleh karena itu, anak-anak harus dijaga dengan baik, membimbing mereka menjadi manusia seutuhnya termasuk tidak terjebak dalam perkara kriminal sebagai pelaku maupun sebagai korban.

Tidak berlebihan kalau Wakil PM Malaysia yang juga merangkap Menteri Pembangunan Wanita, Keluarga, dan Masyarakat, Dato’ Seri Wan Azizah mengatakan bahwa anak adalah harta dan khazanah yang tidak ternilai harganya dalam rumah tangga, bangsa, dan negara. Pada merekalah akan diwariskan kehidupan ini agar berkesinambungan. Justru itu, isu perlindungan dan keselamatan anak bukanlah isu yang bisa dipandang remeh, karena menjadi tanggung jawab bersama masyarakat.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved