Salam

RSUDZA Masih Harus Perbaiki Mutu Pelayanan

Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh mendapat predikat ‘Best of The Best’

RSUDZA Masih Harus Perbaiki Mutu Pelayanan

Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh mendapat predikat ‘Best of The Best’ atau terbaik dari yang terbaik dalam bidang pelayanan kesehatan untuk kategori RSUD Tahun 2018. Sebelumnya, rumah sakit rujukan terbesar di Aceh itu juga meraih Akreditasi Paripurna lima bintang, yang diberikan SNARS (Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit).

Direktur RSUZA, Dr dr Azharuddin SpOT K-Spine FICSDr mengatakan, predikat membanggakan itu adalah hasil kerja kolektif seluruh jajaran manajemen, mulai dari tataran pimpinan hingga staf di level akar rumput. Indonesia Hospitality Winner 2018-Choice Awards berupa plakat dan sertifikat itu ditandatangani Menteri Kesehatan RI, Nila Djuwita F Moeloek. Penghargaan itu diserahkan kepada pimpinan rumah sakit milik Pemerintah Aceh ini akhir bulan lalu di Bali.

Ya, kita juga mengucapkan selamat kepada manajemen RSUZA yang telah meraih penghargaan itu. Dan, kita berharap ke depannya terus memperbaiki pelayanan sehingga lebih baik lagi dan dapat memuaskan masyarakat. Sebab, sebagai rumah sakit daerah yang terbaik versi penilaian itu, belum tentu sudah cukup baik jika diminta pendapat publik, terutama masyarakat yang pernah menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.

Di Aceh, RSUZA memang rumah sakit terlengkap, terbesar, dan termodern, terbaik dibanding rumah sakit lainnya. Akan tetapi, predikat terbaik itu bukan berarti sudah memberi pelayanan yang memuaskan masyarakat. Masih banyak sisi yang sering mengundang komplain pasien dan keluarganya, termasuk soal sulitnya mendapat tempat/ruang perawatan di RSUZA.

Hampir semua lini pelayanan tak luput dari ungkapan kekecewaan masyarakat, mulai dari penerimaan pertama pasien di Instalasi Gawat Darurat atau poliklinik umum, terutrama terkait ketentuan BPJS yang memuakkan, lalu pelayanan dokter dan perawatan, hingga pada masalah penebusan biaya selama perawatan dan pelayanan pasien di rumah sakit. Inilah realitas rumah sakit kita.

Padahal, harapan pasien dan keluarganya, ketika masuk RS --apakah diopname atau atau tidak--si pasien akan mendapat pengobatan dan perawatan yang baik sehingga dapat segera sembuh. Dan, bila pengobatan di RS tidak menunjukkan hasil memuaskan, maka pasien sering berpikir bahwa pelayanan RS tersebut tidak bagus dan dokternya tidak profesional.

Profesionalitas dokter yang dimaksud masyarakat adalah ketelitian dokter dalam mendiagnosa penyakit, memilih obat, serta perlu tidaknya tindakan operasi. Sebab, banyak keluhan pasien terhadap sejumlah dokter yang dianggap kurang akurat mendiagnosa. Inilah yang harus diubah sehingga orang Aceh tak tertarik lagi berobat ke Kuala Lumpur, Penang, atau Singapura. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved