Opini

Sekolah Bebas Rasa Takut

SEKOLAH, rumah kedua bagi anak-anak di seluruh penjuru bumi. Tempat yang ditujukan bagi mereka untuk menimba

Sekolah Bebas Rasa Takut
SERAMBINEWS.COM/SARI MULIYASNO
Siswa Simeulue memperlihatkan hadiah yang diraih dari berbagai lomba yang diikuti di tingkat daerah maupun di luar daerah usai upacara Hardikda ke-59, Senin (3/9/2018). 

Beban jam mengajar yang tinggi, kelengkapan administrasi yang rumit, tingkah polah siswa dan wali siswa yang beragam, hingga kebijakan-kebijakan sekolah hingga pemerintah yang tak rasional menjadi beban besar bagi guru. Ruang geraknya terbatas pada kebijakan yag bersifat mutlak, karena ada target besar di akhir proses belajar, ketuntasan materi sampai perkara anak-anak harus lulus UN dengan nilai maksimal.

Guru tak lagi bisa berkreasi bersama siswanya, bersenang-senang menyelami ilmu tanpa beban. Guru kian tercabut otonominya saat berada di ruang kelas. Menurut Great Schools Partnership, ketiadaan otonomi bagi guru akan menyebabkan guru kehilangan gairah dalam mengekplor potensinya dan siswanya selama proses pembelajaran. Dan hal ini dapat terjadi akibat dari kebijakan yang bersifat preskriptif, pengawasan administrasi yang lebih dominan, dan persyaratan kurikulum yang sangat ketat.

Maka wajar jika guru-guru di negara dengan pendidikan terdepan, seperti Finlandia dan Jepang, diberikan otonomi yang cukup besar. Mereka benar-benar diberikan kekuasaan dan keleluasaan saat ‘manggung’ di kelas. Robert Timoti dalam bukunya Teach Like Finland (2017), mengatakan bahwa guru-guru Finland diberikan ‘hak kuasa penuh’ pada kelas yang diampunya. Sekolah percaya penuh pada guru yang mengajar, sehingga tidak ada kekhawatiran guru akan bermalas-malasan atau tidak bertanggung jawab terhadap tugasnya. Kepercayaan inilah yang membuat para guru tersebut berusaha memberikan performa terbaiknya di sekolah. Selain itu, para pendidik di Finland tak diijinkan berlama-lama di sekolah, mereka datang beberapa saat menjelang jam mengajar, dan pulang saat tugas mengajar selesai. Berlama-lama di sekolah bukanlah hal yang wajar di sana. Karena mereka yakin, guru perlu me-recharge energinya, sehingga akan tampil maksimal di hari berikutnya.

Sukacita belajar
Belajar yang harusnya mengasikkan, seasik bermain, layaknya taman siswa yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara hilang tak berbekas di bumi Nusantara. Padahal, diawal berdirinya persekolahan di Indonesia, sekolah dengan sistem yang menyenangkan sudah diterapkan, hal inilah yang mendasari sekolah pada masa awal terbentuknya disebut “Taman Siswa”. Taman sebagai tempat yang menyenangkan, tempat bermain, sekaligus tempat untuk mendapatkan pengetahuan baru.

Kini, kita bagai mengalami kemunduran. Taman Siswa yang dulunya terfokus pada kearifan lokal, mengajarkan keterampilan hidup, dan menyiapkan manusia secara utuh, kini tergantikan dengan sistem pendidikan yang memberhalakan sentralisasi dan standarisasi. Sehingga siswa yang dulunya belajar dengan sukacita, kini penuh rasa takut menghabiskan waktunya di sekolah. Edi Sutarto (2016), dalam bukunya Sekolah Cinta menjelaskan bahwa guru dan sekolah harus menjadi tempat yang menyenangkan, mampu mengikat setiap makna ilmu untuk peserta didiknya dengan cara yang indah, dan melibatkan ikatan hati, bukan sekadar menjadi profesi yang berorientasi pada gaji.

Sekarang pilihan ada di tangan kita, akan mengembalikan sekolah menjadi taman siswa yang dengannya para siswa belajar dengan sukacita, atau meneruskan pendidikan yang memaksakan standarisasi di segala aspek? Sistem pendidikan yang kita tinggalkan, yang justru dipakai di negara dengan pendidikan terdepan di dunia, Finlandia adalah bukti betapa konsep Taman Siswa harus kita kembalikan. Sekolah yang memerdekan siswa dan gurunya hingga mencapai sukacita dalam belajar.

* Muazzah, S.Si., M.A., Magister of Teacher Education, Tampere University, Finland, Guru Sekolah Sukma Bangsa Pidie, dan anggota FAME Pidie Raya. Email: muazzahmuhammad@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help