Citizen Reporter

Saat Arafah Mulai Teduh

KETIKA mendengar kata Padang Arafah, kita biasanya membayangkan sebuah suasana yang gersang lagi panas

Saat Arafah Mulai Teduh
NURMAHDI NURDHA

OLEH NURMAHDI NURDHA, jamaah haji Kloter BTJ 1 Aceh dari Kabupaten Pidie, anggota FAMe Chapter Pidie Raya, melaporkan dari Arab Saudi

KETIKA mendengar kata Padang Arafah, kita biasanya membayangkan sebuah suasana yang gersang lagi panas oleh terpaan terik matahari dan temperatur Kota Mekkah yang melampaui 45 derajat Celcius. Sepertinya saat-saat yang dilalui dalam rangka menunaikan salah satu rukun haji di sini demikian beratnya.

Namun sekarang, bayangan seperti itu tidak lagi demikian. Arafah tidak lagi segersang yang kita bayangkan. Sekarang, lorong-lorong yang menghubungkan tenda penampungan jamaah terlihat begitu rimbun. Pepohonan tumbuh subur berjejeran di seluruh hamparan Padang Arafah dan tertata rapi.

Tidak ada lagi pasir yang menebarkan debu. Yang terlihat malah hamparan tanah yang dibuat memetak sesuai letak bangunan tenda yang berjejer sehingga pepohonan tumbuh dengan subur walaupun temperatur udara tetap panas menyengat. Kerimbunan pohon inilah yang kini menghadirkan kesan teduh dan bisa mengurangi paparan panas yang menerpa.

Pohon-pohon ini konon dinamakan ‘pohon Soekarno’ (mungkin bibitnya Soekarno yang bawa dari Indonesia atau dia yang tanam pertama saat berhaji dulu). Nah sekarang, pohon itu dibudidayakan secara besar-besaran di Arab Saudi. Mungkin pohon ini dianggap cocok dan bisa tumbuh dengan baik untuk iklim seekstrem Kota Mekkah. Sehingga tak hanya di Padang Arafah, di Kota Mekkah pun pohon ini telah ditanam untuk mengisi beberapa sudut kota dan terlihat tumbuh dengan baik.

Menunggu waktu wukuf pada 9 Zulhijah tiba, di tengah suasana yang menggerahkan di Arafah, memang terasa melelahkan. Apalagi sebagian besar jamaah telah tiba satu hari sebelum tanggal tersebut sehingga dibutuhkan kiat tersendiri untuk membunuh kejenuhan akibat temperatur ruangan tenda yang sangat menyengat. Keberadaan kipas angin besar yang menyemburkan uap air yang diletakkan di tiap sudut tenda ternyata tak sepenuhnya mampu menurunkan suhu ruangan yang menampung ratusan jamaah tersebut.

Oleh karena itu, selama berada di Arafah tidak semua jamaah menghabiskan waktunya di dalam tenda penampungan yang luasnya mampu memuat sekitar 200 orang lebih, tetapi banyak di antara mereka yang memanfaatkan waktu sambil berzikir di bawah naungan pepohonan yang rimbun itu. Mereka duduk santai di kursi plastik yang telah disediakan oleh muasasah sebagai pengelola kegiatan. Dalam hal ini semakin terlihat suasana yang menyenangkan dan setiap sisi tenda-tenda memperlihatkan suasana yang serupa.

Bahkan, pada saat terjadi sebuah peristiwa badai yang melanda Mekkah pada malam 9 Zulhijah lalu, tepat seusai salat Magrib, secara tiba-tiba langit terlihat gelap dan mengeluarkan suara bergemuruh. Seketika itu pula hujan turun membasahi setiap jengkal tanah yang telah lama dihantam hawa panas yang menyengat.

Hujan yang hanya sekitar sepuluh menit itu ternyata mampu membuat seluruh tanah di Arafah menjadi basah. Pada saat hujan reda, angin kencang pun datang menghantam seluruh yang ada di Padang Arafah yang saat itu dihuni oleh lebih dari dua juta jiwa jamaah calon haji. Embusan badai tersebut sangat dahsyat. Sampai-sampai atap tenda dan kerangkanya bergoyang dan mengeluarkan suara berderak. Sungguh sebuah suasana yang menegangkan.

Hantaman badai ini tak hanya terjadi di Arafah, tetapi juga melanda seluruh Kota Mekkah. Tetapi yang menarik dari Arafah kini adalah keberadaan pohon yang rimbun itu ternyata ikut andil dalam menghadang embusan badai yang dahsyat itu.

Mungkin saja, jika pepohonan tidak ada, hantaman badai ini akan dengan mudah menerpa bangunan tenda yang terdapat di seluruh hamparan Padang Arafah ini. Efek yang akan ditimbulkannya pun akan berbeda.

Sungguh besar makna penghijauan bagi pembangunan infrastruktur di Saudi Arabia. Mereka sangat menghargai setiap tanaman yang tumbuh di setiap sudut kota. Untuk menumbuhkannya, negara tak segan-segan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, mengingat lahan yang penuh bebatuan dan temperatur udara yang ekstrem, dibutuhkan upaya khusus dalam menumbuhkan setiap tanaman tersebut.

Melihat realitas ini, bukan tak mungkin, suatu saat nanti, wukuf di Arafah akan terasa seperti berada di dalam sebuah hutan tropis yang menyejukkan, seperti di hutan-hutan tropis Indonesia. Semoga.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved