Bireuen Diajak “Tidur” Cepat

Pemkab Bireuen menerbitkan edaran standardisasi warung kopi/kafe dan restoran sesuai syariat Islam

Bireuen Diajak “Tidur” Cepat
Kolase Serambinews.com
Edaran Bupati Bireuen (kiri), Bupati Bireuen, Saifannur (tengah) dan Wakil Bupati Muzakkar A Gani 

Pemkab Bireuen menerbitkan edaran standardisasi warung kopi/kafe dan restoran sesuai syariat Islam. Dalam salah satu poin edaran yang diteken Bupati Bireuen, H Saifannur SSos tersebut ditegaskan haram hukumnya laki-laki dan perempuan makan dan minum satu meja kecuali dengan mahramnya. Menyusul sosialisasi edaran itu, tim dari Dinas Syariat Islam akan terus memantau secara intensif operasional kafe atau warung-warung di wilayah Bireuen.

Edaran yang terdiri 14 poin itu dimaksudkan sebagai bentuk dakwah Islam serta sosialisasi yang dilakukan Pemkab Bireuen agar warung kopi, kafe, dan restoran dapat mengetahui bagaimana standar sebuah warung dalam prinsip dan ketentuan Islam. Menuruit pejabat berwenang setempat, edaran tersebut sebetulnya sudah pernah diterbitkan pada masa bupati Ruslan M Daud dan sekarang diedarkan lagi. “Initinya, Pemkab Bireuen berharap pengelola warung, kafe, dan restoran dapat menyesuaikan operasional dengan edaran tersebut,” kata Kadis Syariat Islam Bireuen, Jufliwan SH MM.

Dikeluarkan edaran itu, terkait dengan suasana warung kopi atau kafe di Kota Bireuen yang dinilai mencemaskan. Banyak kaum perempuan duduk di kafe dengan para lelaki yang diperkirakan bukan pasangan resminya. “Remaja-remaja putri nongkrong di kafe berlama-lama sehingga memunculkan pandangan tidak baik,” kata Jufliwan.

Menyusul sosialisasi edaran itu, tim dari Dinas Syariat Islam akan terus memantau secara intensif operasional kafe atau warung-warung di wilayah Bireuen.

Bupati Bireuen H Saifannur dan Wakil Ketua MPU Bireuen Drs Tgk Jamaluddin Idris mengatakan, edaran tersebut bersifat dakwah atau amar makruf nahi mungkar. Yakni, setiap orang wajib menyampaikan dakwah Islam, sedangkan dipatuhi atau tidak tergantung kepada orangnya.

Ya, edaran itu memang bersifat dakwah, sebab tidak terbaca adanya sanksi-sanksi bagi mereka yang tak mematuhi edaran itu. Cuma saja, edaran tersebut memang mengundang banyak tanggapan dari berbagai kalangan. Misalnya, tentang point yang menyebutkan kafe boleh buka mulau pukul 06.00 WIB sampai pukul 24.00 WIB. Pertanyaannya, karena edaran itu berlaku umum, bagaimana nasib warung-warung seperti warung makan di tepi jalan nasional kawasan Bireuen, yang ramainya memang setelah tengah malam hingga pagi? Atau ada lagi yang bertanya, bagaimana jika pemilik dan pelayan warung itu adalah wanita, apakah tak boleh menerima pelanggan dari kalangan pria?

Yang jelas, kita percaya, sesuatu untuk tujuan baik, pada akhirnya tetap akan bisa diterima. Akan tetapi, dakwah amar makruf nahi mungkar itu harus disosialisasikan secara matang, yang tentu saja perlu melibatkan kalangan ulama. Dan bila ada yang kurang jelas, edarannya bisa diperbaiki agar semuanya memahami dan dapat mematuhi.

Harus diingat juga, Bireuen adalah salah satu kota di Aceh yang kehidupan malamnya sangat meriah, karena itu kota ini memang susah diajak “tidur”. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved