Opini

Kunci Meraih Ilmu

KAMPUS-KAMPUS negeri saat ini kedatangan ribuan mahasiswa barunya. Dari Darussalam, Universitas Islam Negeri

Kunci Meraih Ilmu
MAHASISWA baru Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen mengikuti pembukaan Masa Orientasi Studi Kampus (Moska), Jumat (31/8). 

Jadi, penggalan ayat “Allah mengajarmu”, bermakna bahwa jika kita bertakwa kepada Allah, maka Dia akan memberi kita ilmu yang dengan ilmu itu kita dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil. Dan itulah ilmu dalam Islam, yaitu ilmu yang memadukan antara dimensi akhirat dengan dimensi duniawi. Pemahaman semacam ini menegaskan bahwa Islamisasi ilmu pengetahuan adalah sebuah keniscayaan.

Ayat pada ujung surat al-Baqarah di atas menegaskan bahwa satu kunci mendapatkan ilmu adalah takwa. Sementara esensi dari takwa adalah “menjalankan segala perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangan-Nya”. Jadi, takwa adalah syarat untuk memperoleh ilmu. Dan takwa itu tidak lain adalah menjalankan syariat Islam sebagai konsekuensi dari iman. Pengertian takwa adalah mengerjakan perintah Allah Swt dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Maka dapat disimpulkan bahwa syarat utama diperolehnya ilmu adalah dengan takwa.

Sementara takwa akan muncul dengan implementasi syariat Islam, baik syariah yang menjadi domain negara, seperti jinayah, zakat, haji, hudud, ekonomi Islam, jihad dan sebagainya. Begitu juga syariat yang menyangkut persoalan individual, seperti shalat sehari semalam lima waktu, ibadah Jumat, zikir, sedekah, akhlak yang mulia dan seterusnya. Jadi, penerapan syariat Islam oleh negara maupun oleh individual muslim akan membentuk karakter takwa, yang pada akhirnya akan memancarkan cahaya ilmu dari Allah Swt sebagai Pencipta Alam Semesta.

Cahaya Allah
Bagi diri kita pribadi, ilmu yang berkah akan terhalang sekiranya kita bermaksiat kepada Allah Swt, tidak menjalankan syariat Islam, atau melanggar hukum-hukum syariah, baik dalam konteks kenegaraan maupun pada level individual. Sebab, ilmu adalah cahaya Allah, dan cahaya tersebut tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat, baik maksiat pribadi maupun maupun di level negara dengan cara meninggalkan ayariat Islam.

Imam Syafi’i dalam kitab I’anatuth Thalibin karya Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha ad-Dimyathi mengatakan, “Saya pernah mengadukan kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku. Lalu beliau mengarahkan saya untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan saya bahwa ilmu adalah cahaya Allah. Dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan kepada pelaku maksiat.” (juzuk 2: 190).

Jadi, sangat erat kaitannya antara ilmu dengan syariat Islam, di mana ilmu yang diberkahi Allah Swt lahir dari ketakwaan seorang muslim, sementara ketakwaan muncul dengan menjalankan seluruh syariat Islam. Pada dasarnya suatu ilmu tidak boleh dipisahkan dari Islam, sebab Islam datangnya dari Allah, dan bahwa Allah adalah Yang Maha Mengetahui.

Ilmu yang berkah adalah ilmu yang pemiliknya mampu melihat keagungan Allah Swt dan kemudian membuat si pemilik ilmu tersebut ber-tafakkur dan bersyukur. Lalu, ia menjadi seorang hamba Allah yang patuh atas aturan-aturan Allah Swt dan meninggalkan segala larangan-Nya. Dengan kata lain, menjalankan segala ketentuan syariat Islam dan meninggalkan apa saja yang bertentangan dengan syariat Islam.

Setelah kita ber-tafakkur, sesungguhnya Allah Swt sebagai Zat Yang Maha Mengetahui, Dia menghendaki kita menggunakan ilmu yang diberikannya untuk selalu mengagungkan-Nya, sebab memang ilmu tersebut berasal dariNya. Pesan-pesan semacam ini hanya mampu ditangkap oleh Muslim, yang mau ber-tafakkur. Itulah yang dilakukan oleh generasi terdahulu yang di tangan mereka Islam memimpin peradaban. Jika syariat Islam menjadi gaya hidup (way of life) umat Islam di era kejayaan peradaban Islam, maka ilmu adalah obsesi mereka dalam menata bumi sesuai fungsi manusia sebagai khalifah di atas permukaan bumi. Wallahu a’lam bish-shawab.

* Teuku Zulkhairi, M.A., alumnus Dayah Babussalam Matangkuli Aceh Utara, saat ini sebagai Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: abu.erbakan@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help