Ulama Dukung Edaran Haram Duduk Semeja

Edaran yang dikeluarkan Bupati Bireuen tentang standardisasi warung, kafe, dan restoran yang salah satu poinnya

Ulama Dukung Edaran Haram Duduk Semeja
NURUZZAHRI, Pimpinan Dayah Ummul Ayman Samalanga

BIREUEN - Edaran yang dikeluarkan Bupati Bireuen tentang standardisasi warung, kafe, dan restoran yang salah satu poinnya menegaskan haram hukumnya laki-laki dan perempuan makan dan minum satu meja kecuali dengan mahramnya, didukung oleh seorang ulama di daerah tersebut, Tgk Nuruzzahri atau yang lebih dikenal dengan panggilan Waled Nu.

“Edaran yang dikeluarkan Bupati Bireuen itu adalah suatu kepedulian terhadap pelaksanaan dan penegakan syariat Islam sehingga perlu didukung meski belum menjadi sebuah keputusan bupati atau qanun,” kata Waled Nu yang juga Pimpinan Dayah Ummul Ayman, Samalanga.

Menurut Waled Nu, edaran tentang standardisasi warung, kafe, dan restoran yang sesuai syariat Islam adalah bentuk menjaga marwah Aceh umumnya dan Bireuen pada khususnya. Apalagi, katanya, Bireuen termasuk salah satu daerah yang banyak pesantren. “Edaran tersebut berupa dakwah sehingga harus didukung karena bentuk kepedulian pemerintah dalam hal penegakan syariat Islam,” kata Waled Nu.

Sebenarnya, lanjut Waled Nu, sejak zaman dulu dan adat Aceh tidak ada wanita minum kopi di warung apalagi berlama-lama sampai tengah malam. Bila kaum ibu berhasrat minum kopi maka suami akan membawa pulang ke rumah.

“Sekarang kondisinya sudah tidak bagus lagi dan edaran tersebut sebagai langkah mengingatkan masyarakat, pengelola warung, dan usaha lainnya sebagai upaya pemerintah menjaga marwah dan martabat Aceh,” demikian Waled Nu.

Seperti diberitakan, Pemkab Bireuen menerbitkan edaran standardisasi warung kopi/kafe dan restoran sesuai syariat Islam. Dalam salah satu poin edaran yang diteken Bupati Bireuen, H Saifannur SSos tersebut ditegaskan haram hukumnya laki-laki dan perempuan makan dan minum satu meja kecuali dengan mahramnya.

Kepala Dinas Syariat Islam (DSI) Bireuen, Jufliwan SH MM kepada Serambi, Selasa (4/9) mengatakan, edaran yang terdiri 14 poin tersebut sebagai bentuk dakwah Islam serta sosialisasi yang dilakukan Pemkab Bireuen agar warung kopi, kafe, dan restoran dapat mengetahui bagaimana standar sebuah warung dalam prinsip dan ketentuan Islam.

Tanggapan terhadap edaran yang diterbitkan Bupati Bireuen tentang standardisasi warung, kafe, dan restoran juga disuarakan Rektor Institut Agama Islam (IAI) Al-Muslim, Peusangan, Bireuen, Drs Tgk H Saifullah SAg MPd.

“Edaran tersebut sebagai bentuk kepekaan dan kepedulian yang perlu didukung karena bertujuan untuk menjaga marwah Aceh,” kata Saifullah menjawab Serambi, Rabu (5/9).

Rektor IAI Almuslim menyarankan, pada poin tertentu sebaiknya menggunakan bahasa yang lebih bijaksana, karena bila tidak hati-hati dalam penggunaan bahasa, bisa memunculkan multitafsir. Poin yang perlu menggunanakan bahasa yang lebih bijaksana itu, menurut Saifullah adalah poin 7 dan poin 13.

Poin 7 edaran tersebut menulis; Dilarang melayani pelanggan wanita di atas pukul 21.00 WIB kecuali bersama mahramnya. Sedangkan poin 13,

Haram hukumnya laki-laki dan perempuan makan dan minum satu meja kecuali dengan mahramnya.

“Perlu kehati-hatian menggunakan bahasa agar lebih bijaksana sehingga kenyamanan tidak terganggu mengingat kondisi Aceh saat ini. Karena tidak semua masyarakat umum pemahamannya sama dengan yang kita pahami,” ujarnya.

Mengenai edaran itu sendiri, dalam penilaian Saifullah merupakan bagian dari tugas dan tanggung jawab pemerintah menyampaikan amanah, mendakwahkan dan melakukan sosialisasi dan perlu melibatkan berbagai pihak yang lebih mumpuni dalam bidang syariat Islam sehingga tidak mumunculkan multitafsir.(yus)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved