Opini

Muhasabah

TANPA terasa, bumi terus berputar. Setiap diri tahu berapa lama sudah berada di dunia ini, namun tak seorang pun tahu

Muhasabah
Para jamaah tetap mengikuti acara Zikir Akbar Gemilang dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam. SERAMBI/BUDI FATRIA 

Pandangan senada dikuatkan oleh Ibnul ‘Araby dalam tafsirnya Ahkâmul Qur’an, yaitu: Pertama, hijrah dari satu negeri yang sedang berperang atau dalam status darurat-perang ke negeri yang aman damai. Contohnya hijrah Rasulullah saw dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah. Hukumnya adalah wajib. Kedua, menyingkirkan diri dari negeri yang didominasi oleh perbuatan-perbuatan keagamaan yang diada-adakan (bid’ah), yang tidak bersumber dari Alquran dan Sunnah.

Ketiga, keluar dari negeri yang dikuasai oleh perbuatan-perbuatan maksiat (haram). Menentang perbuatan haram itu wajib bagi setiap Muslim. Keempat, menyingkirkan diri dari tindakan penindasan dan teror yang bersifat fisik, seperti Nabi Ibrahim as menyingkir dari kezaliman Namruzisme, Nabi Musa dari Fir’unisme dan lain-lain. Dan, kelima, menyingkirkan diri karena khawatir atau merasa tidak ada jaminan keselamatan harta-benda, yang menurut pandangan Islam setara dengan perlindungan terhadap jiwa kaum keluarga dan lain-lain.

Jika demikian kenapa manusia lalai dan terus berada dalam kubangan kemaksiatan, dan menunda-nunda waktu untuk taubat dan berbuat amalan shaleh. Bukankah kita sudah tahu bahwa ajal manusia adalah rahasia Allah Swt semata, sebagaimana firman-Nya, “Tiap-tiap umat memiliki batasan waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak akan mengundurkannya barang sesaat pun, dan tidak dapat pula memajukannya.” (QS. al-A’raf: 33). Ayat ini memberi informasi bahwa umur kita akan terus berjalan seiring jarum jam berputar.

Ini berarti umur kita bukannya semakin bertambah, tetapi sebaliknya dari tahun ketahun umur kita semakin berkurang, akhirnya mati. Oleh sebab itu, marilah kita isi hidup ini dengan memperbanyak amal saleh, belajar dengan giat, bekerja dengan ikhlas, dan beribadah dengan mengharapkan ridha Allah Swt semata. Sekarang kita masih hidup, tetapi siapa tahu besok pagi kita akan mati. Sekarang kita masih dapat menikmati tahun baru Hijriah, tetapi siapa tahu tahun depan kita akan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Untuk bahan renungan ada baiknya mengingatkan kembali riwayat yang menceritakan tentang anak Umar bin Khatab, saat pulang dari sekolahnya sambil menghitung tambalan-tambalan melekat di bajunya yang sudah usang dan kusut. Dengan rasa kasihan Umar bin Khattab, sang amirul mukminin sebagai ayahnya mengirim sepucuk surat kepada bendaharawan negara, yang isinya minta agar beliau diberi pinjaman uang sebanyak 4 (empat) dirham, dengan jaminan dipotong gajinya bulan depan. Kemudian bendaharawan itu mengirim surat balasan kepada Umar, yang isinya: Wahai Umar apakah engkau telah dapat memastikan bahwa engkau akan hidup sampai bulan depan? Bagaimana kalau engkau mati sebelum melunasi utangmu?

Membaca surat bendaharawan itu, maka seketika itu juga Umar tersungkur menangis, lalu beliau menasihati anaknya dan berkata: Wahai anakku, berangkatlah ke sekolah dengan baju usangmu itu sebagaimana biasanya, karena kamu tidak dapat memperhatikan umurku walaupun untuk satu jam. Sungguh, batasan umur manusia tidak ada yang mengetahuinya, kecuali Allah Swt. “Wama tadri nafsun madza taksibu ghadan, wama tadri nafsun biayyi ardhin tamut (Setiap diri tidak tahu apa yang dikerjakan besok, dan setiap jiwa tidak tahu di bumi mana ia akan dikuburkan).” (QS. Luqman: 34).

Introspeksi diri
Dengan demikian, marilah kita pergunakan kesempatan hidup ini dengan meningkatkan ketakwaan kita kepada-Nya dan menambah semangat beramal ibadah yang lebih besar lagi. Mari terus-menerus semua kita melakukan introspeksi diri (muhasabah) dalam menyambut tahun baru Hijriah. Sangat perlu bagi kita untuk berkaca diri, menilai dan menimbang amalan-amalan yang telah kita perbuat selama ini, kiranya hari esok lebih baik dari hari kemarin. Penilaian ini bukan hanya untuk mengetahui seberapa besar perbuatan kita, tapi untuk mengendalikan semua bentuk amalan perbuatan yang hendak kita lakukan dengan penuh pikiran, pertimbangan, dan pertanggungjawaban.

Sebab, manusia yang tidak pernah bercermin diri bagaikan binatang liar yang terlepas dari jeratan, ia akan berlari dengan sekencang-kencangnya dan melompat dengan sekuat tenaga tanpa menghiraukan kalau itu akan membahayakannya kembali. Manusia yang demikian akan berbuat sekehendak hatinya, tanpa berpikir dan pertimbangan, yang pada akhirnya ia akan terjatuh di tempat yang sama dan meratapi perbuatannya dengan berulang kali, sungguh malang nasibnya jika setiap tahun ia harus terjatuh dan terjatuh lagi di tempat atau di lobang yang sama.

Rasulullah saw juga mengingatkan umatnya tentang perbuatan tercela dalam sabdanya, “Tanda kecelakaan itu ada empat: Pertama, tidak mau mengingat dosa yang telah lalu, padahal dosa-dosa itu tersimpan di sisi Allah Swt; Kedua, menyebut-nyebut segala kebaikan yang telah diperbuat, padahal siapa pun tidak tahu apakah kebaikan-kebaikan itu diterima atau ditolak; Ketiga, memandang orang yang lebih unggul dalam soal duniawi; Dan, keempat, memandang orang yang lebih rendah dalam hal agama.”

Allah Swt berfirman, “Aku menghendaki dia, sedang dia tidak menghendaki diri-Ku, maka dia Aku tinggalkan.” Sungguh sangat malang dan tiada ungkapan bagi manusia yang ditinggalkan sang Khaliq. Akan tetapi Allah Swt Maha bijaksana, sehingga ia tidak menghendaki hamba-hamba-Nya terjerumus dalam kehancuran. Akan tetapi Allah SWT memberikan tuntunan hidup berupa agama Islam, yang di dalamnya terdapat ajaran-ajaran yang menuju kepada kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help