Diduga Hirup Gas Beracun

Polsek Geumpang telah selesai memeriksa enam warga sebagai saksi dalam kasus meninggalnya tiga penambang emas ilegal

Diduga Hirup Gas Beracun
KETIGA jenazah penambang emas dibaringkan di rumah keluarga di Kecamatan Geumpang, Pidie, Minggu (2/9). 

SIGLI- Polsek Geumpang telah selesai memeriksa enam warga sebagai saksi dalam kasus meninggalnya tiga penambang emas ilegal di kawasan pegunungan Gampong Pulo Loih, Kecamatan Geumpang, Pidie. Keenam warga yang diperiksa itu tercatat sebagai rekan Murtada (33), pemodal dalam usaha tambang ilegal tersebut yang tewas bersama dua rekan lainnya.

Berdasarkan keterangan saksi, ketiga korban meninggal karena diduga ada zat di dalam lubang yang belum bisa diperkirakan jenisnya. Selain itu, mereka juga kekurangan oksigen.

Lubang galian sedalam 17 meter itu hampir 1,5 bulan ditelantarkan. Itu sebab saat hendak dipakai lagi untuk aktivitas penambangan, lubang itu dipeusijuek atau ditepungtawari.

Kapolres Pidie AKBP Andy Nugraha Setiawan Siregar SIK, melalui Kapolsek Geumpang Iptu Agustiar kepada Serambi, Kamis (6/8) menjelaskan, polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap enam warga yang terlibat langsung melakukan evakuasi tiga korban, termasuk Murtada (33) selaku pemodal. Dua lainnya adalah buruh tambang, yakni Pendi (27) warga Sumatera Utara dan Saiful Amri (27), warga Kecamatan Sungai Raya, Aceh Timur.

Menurutnya, pemeriksaan keenam warga sebagai saksi untuk memastikan kejadian yang menimpa ketiga penambang emas ilegal yang ambruk di dalam satu lubang galian akibat kekurangan oksigen. Kepada polisi, keenam warga memberikan jawaban yang sama bahwa ketiga penambang merenggang nyawa karena kekurangan oksigen.

Kecuali itu, lanjutnya, berdasarkan keterangan saksi, penyebab lainnya akibat menghirup zat di dalam lubang galian. Sebab, lubang galian tersebut telah ditelantarkan selama 1, 5 bulan lebih.

“Kemungkinan adanya zat yang terhirup yang kita belum mengetahui jenisnya, karena lubang itu telah lama ditinggalkan. Sebab, berdasarkan keterangan saksi, saat turun korban langsung ambruk ke dasar lubang,” kata Iptu Agustiar.

Dijelaskan, ketiga korban turun sendiri ke dalam lubang galian setelah proses peusijuek selesai. Yang terakhir turun ke lubang adalah Murtada. Dia langsung membuka baju untuk menolong dua pekerja di dasar lubang yang tak muncul-muncul lagi. Lubang tersebut berukuran 80x80 cm, posisinya lurus menurun ke bawah seperti galian sumur. “Pada dinding lubang dipasang kayu, mungkin untuk pengaman tanah,” ujarnya.

Dikatakan, proses evakuasi ketiga penambang menggunakan tali. Sementara jasad dimasukkan ke dalam kain sarung yang melibatkan enam warga. Tak hanya itu, kata Agustiar, proses evakuasi juga menggunakan empat blower, yang mengaliri oksigen ke dalam lubang.

“Satu blower tidak optimal menyuplai oksigen ke lubang tersebut. Sebab, Fakhrul, adik kandung korban yang sempat turun mengevakuasi, harus naik lagi ke atas,” kata Iptu Agustiar, mengutip keterangan Fakhrul.

Kemungkinan Dihentikan
Saat ditanya apakah penyelidikan akan dilanjutkan atau dihentikan setelah adanya indikasi korban tewas akibat kekurangan oksigen, Iptu Agustiar mengaku akan menyampaikan hasiltersebut ke pimpinannya. “Saya akan melaporkan kepada pimpinan. Jadi, nanti berdasarkan petunjuk pimpinan. Sebab, dalam kasus itu telah jelas bahwa ketiga korban meninggal akibat kekurangan oksigen,” pungkasnya.

Seperti diketahui, tiga penambang emas ilegal tewas di dalam lubang galian di kawasan pegunungan Gampong Pulo Loih, Kecamatan Geumpang, Minggu, (2/9) sekitar pukul 15.00 WIB. Satu dari tiga korban bernama Murtada (33), yang juga pemodal. Lelaki yang telah berkeluarga itu tercatat sebagai warga Gampong Blang Dalam, Kecamatan Mane, Pidie. Dua lainnya merupakan buruh tambang, yakni Pendi (27) warga Medan, Sumatera Utara, dan Saiful Amri (27), warga Kecamatan Sungai Raya, Aceh Timur.(naz)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved