Jadi Gelandangan Setelah Kabur dari Tempat Prostitusi

MENGHARUKAN sekali perjalanan hidup yang dilakoni dua perempuan muda asal Lhokseumawe, N dan D

Jadi Gelandangan Setelah  Kabur dari Tempat Prostitusi
SERAMBI/SAiFUL BAHRI
Penyidik polisi mengiring tersangka perdagangan manusia yang ditangkap tim Polres Lhokseumawe. Foto direkam Jumat (7/9).SERAMBI/SAiFUL BAHRI 

MENGHARUKAN sekali perjalanan hidup yang dilakoni dua perempuan muda asal Lhokseumawe, N dan D. Keduanya harus masuk perangkap jaringan kejahatan perdagangan orang (human trafficking) setelah diiming-iming bekerja di kafe di Malaysia dengan gaji yang dibayangkan bisa membantu membiayai kehidupan keluarga.

Harapan ternyata tinggal harapan. Ketika sampai di negeri seberang, kedua perempuan ini dipaksa menjalani hidup sebagai pekerja seks komersial (PSK) tanpa bayaran. Sedangkan perempuan yang mengurus ‘pekerjaan’ untuk mereka, berniaial Fau (29) yang sama-sama berasal dari Kota Lhokseumawe menghilang, namun kini sudah ditangkap dan menjadi tersangka kasus human trafficking tersebut.

Dalam laporannya kepada polisi, N mengaku tidak tahan dengan kondisi yang dihadapinya di Malaysia. Setelah sekitar enam bulan ‘tersandera’ di tempat prostitusi, dia pun nekat melarikan diri dengan melompat pagar. Karena tidak tahu wilayah Malaysia dan tidak ada paspor di tangan, maka dirinya pun menjadi gelandangan selama berbulan-bulan. Hingga suatu hari, dia bertemu warga Lhokseumawe di Malaysia dan mengurus pemulangannya ke kampung halaman. “N baru kembali ke Aceh sekitar dua pekan lalu. Beberapa hari kemudian membuat laporan ke kami terkait kasus yang dia alami,” kata Kapolres Lhokseumawe melalui Kasat Reskrim Iptu Riski Adrian.

Berdasarkan keterangan N diketahui kalau dia memiliki teman yang juga jadi korban, yakni D. Maka, polisi pun mendatangi rumah D yang ternyata D pun sudah tiba kembali ke Aceh sejak empat bulan lalu.

Setelah mendapatkan keterangan dari kedua korban, maka pada Senin, 3 September 2018, tim Polres Lhokseumawe menciduk Fau. Kini polisi masih melakukan pengembangan, di antaranya mencari teman Fau yang mengajarkan tersangka untuk melakukan aksi tersebut.

Jaringan di Medan, yakni tempat mereka tinggal sementara saat proses pembuatan paspor. Target lainnya adalah pria yang menunggu korban di Batam. “Bila ini sudah terungkap, kita akan melakukan koordinasi dengan Interpol untuk proses pengungkapan jaringan ini di Malaysia,” demikian Iptu Riski Adrian.(bah)

kronologis kasus
* Polres Lhokseumawe menerima laporan dari seorang perempuan berinisial N yang mengaku jadi korban perdagangan manusia ke Malaysia
* Menurut N, pada November 2017, dia bersama temannya berinisial D diajak oleh seorang perempuan berinisial Fau (29) bekerja di sebuah kafe di Malaysia dengan iming-iming gaji Rp 6 juta-Rp 8 juta/bulan
* Tergiur dengan kesempatan kerja dan iming-iming gaji, Fau bersama N dan D berangkat ke Medan mengurus pembuatan paspor
* Setelah paspor selesai, tersangka bersama kedua korban bertolak ke Batam melalui Bandara Kualanamu. Sampai di Batam, tersangka menyerahkan N dan D kepada seorang pria, sedangkan Fau kembali ke Lhokseumawe
* Bersama pria tidak dikenal itu, N dan D menyeberang ke Malaysia melalui jalur laut. Sampai di Malaysia, mereka bertemu dengan seorang pria warga keturunan yang dikenal dengan panggilan Koko
* Di Malaysia, kedua korban ditempatkan di sebuah mes bersama puluhan wanita lainnya yang kesemuanya warga negara Indonesia
* Dari mes tersebut, mereka diberangkatkan ke sebuah tempat prostitusi menjalani aktvitas sebagai PSK tanpa dibayar.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help