Opini

Menyoal Kebudayaan Kita

SEANDAINYA ada Pekan Kebudayaan Jepang atau Jerman (PKJ), maka terbayangkah kita apa yang akan “dipekankan”?

Menyoal Kebudayaan Kita
PLT Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, menyematkan pin dan menyerahkan tropi kepada empat peraih anugerah utama dalam Malam Anugerah Budaya PKA Ke-7 di Kompleks Meuligoe Wali Nanggroe, Aceh Besar, Senin (13/8). 

Tuhan memberikan ruang kompetisi yang sama kepada semua manusia untuk itu. Kemampuan dan kemandirian untuk menciptakan alat-alat itulah yang kini menjadi ukuran kebudayaan suatu bangsa/negara apakah negara maju, negara berkembang, dan negara miskin. Jadi, klasifikasi negara sesungguhnya bukan pada ukuran ekonominya, tetapi ukuran kemampuan menggunakan akal budinya menciptakan alat.

Semua negara maju yang termasuk G7 atau G8 adalah negara-negara yang mandiri dan mampu menciptakan berbagai alat-alat dalam ukuran raksasa dan dalam ragam model, dari peniti hingga pesawat terbang dan mesin-mesin industri dan konstruksi raksasa. Sebagai kelompok negara produsen alat-alat, mereka dengan mudah dan cenderung sesuka hati untuk menentukan harganya, karena bangsa lain pasti tidak tahan untuk menggunakannya. Mantan Menteri Perdagangan RI di masa Presiden SBY, Gita Wiryawan, suatu kali pernah membeberkan biaya produksi sebuah HP yang dijual jutaan rupiah di Indonesia, ternyata biaya produksinya di bawah kisaran Rp 500 ribu saja.

Negara dan bangsa yang tidak bisa membuat alat yang serupa akan menjadi pasar konsumen; pada saat yang sama si negara dan bangsa produsen akan terus berinovasi dan berkompetisi tiada henti. Mungkin untuk membuat alat yang sama untuk memenuhi kebutuhan yang sama suatu negara dan bangsa konsumen seperti Indonesia tidak cukup berlari kencang untuk mengejar ketertinggalannya. Jika negara-negara Eropa, Amerika, Jepang, Cina telah membuat mesin-mesin raksasa, maka negara-negara berkembang seperti Indonesia, tampaknya harus realistis dan mencari celah lain yang belum menjadi perhatian bangsa-bangsa itu.

Sayangnya negara-negara maju itu justru mendominasi dalam semua alat dalam semua bidang. Indonesia terkenal dengan negara agraris dan maritim, tetapi semua alat-alat di dua dunia itu telah diciptakan oleh negara-negara maju itu. Ketika kita baru berpikir bagaimana bisa menanam dan memanen kentang atau padi secara mekanis, justru bangsa-bangsa itu sudah menciptakan mesinnya dan siap menjajakannya ke negara-negara konsumen yang setia.

Memenuhi kebutuhan
PKA, pekan kebudayaan apa? Jika parameter kebudayaan maju intinya adalah kemampuan dan kemandirian suatu bangsa untuk memproduksi alat-alat proses untuk memenuhi kebutuhannya, maka alat untuk proses apa saja yang telah mampu diciptakan secara mandiri oleh bangsa Aceh? Jika ada, maka seharusnya alat-alat itulah yang diperkenalkan dan dipamerkan kepada publik. Mengingat PKA diadakan empat tahun sekali, maka tidak boleh sama alat-alat yang dipertunjukkan itu; jika sama maka dalam kurun waktu itu artinya tidak ada perkembangan budaya Aceh; atau kesimpulan yang lebih sarkastis suku bangsa Aceh tidak menggunakan akal budinya untuk memproduksi alat-alat yang baru.

Sepenglihatan penulis, alat-alat yang dominan dipertunjukkan di hampir semua rumah adat dari setiap kabupaten hanya berkisar pada tiga daur hidup masyarakat Aceh, yaitu alat-alat untuk prosesi perkawinan seperti pelaminan, baju pengantin, aneka pernak-pernik pesta, dan lain-lain. Yang kedua adalah alat-alat untuk prosesi kebutuhan pokok sehari-hari, yaitu makanan dan minuman. Banyak rumah adat yang menampilkan alat-alat masak serta aneka jenis makanan dan minuman dari setiap daerah. Kemudian yang ketiga adalah alat-alat yang berhubungan dengan prosesi kesenian seperti alat musik dan penampilan seni musik dan tari dari semua kabupaten/kota. Jika diporsikan, maka porsi untuk kesenian persentasinya lebih banyak dari kegiatan-kegiatan lain.

Run-down kegiatan PKA 7 yang lalu secara umum senafas dengan apa yang dikemukakan di atas. Kegiatan pertama secara umum adalah Pembukaan dengan inti acara jamuan, pawai dan peresmian; kemudian kegiatan yang kedua bertajuk “Eksibisi dan Pameran” yang isinya adalah pameran budaya dari seluruh daerah di Aceh; rangkaian acara yang ketiga adalah “Aceh Art and Culture Festival” yang intinya adalah lomba kesenian dari setiap daerah; kemudian rangkaian acara yang keempat adalah seminar kebudayaan; yang kelima adalah anugerah budaya dan rangkaian acara keenam adalah penutupan.

Dari seluruh rangkaian acara selama PKA VII, sedikit sekali aspek yang mencerminkan kemampuan dan kemandirian bangsa Aceh dalam memproduksi alat-alat untuk kebutuhan hidupnya sendiri, bahkan untuk kebutuhan yang paling elementer. Terbayangkah kita jika dalam perang dagang antara Cina dan Amerika, tiba-tiba kedua negara produktif itu menghentikan ekspornya ke Indonesia, termasuk ke Aceh; apa yang akan terjadi?

Mungkin hanya dalam hitungan jam kita akan kembali ke zaman batu atau logam, sebab kita tidak menguasai zaman serba baja, serba plastik, serba karet, dan serba piranti-piranti yang ada saat ini. Jika alat-alat yang ditunjukkan di setiap rumah adat Aceh selama PKA VII itulah yang merepresentasikan kebudayaan Aceh, maka kita tidak boleh naik pitam jika orang luar Aceh menyimpulkan jika kebudayaan Aceh itu berkisar dalam tiga siklus/daur hidup zaman batu/logam: kawin, makan dan hiburan. Nah!

Dr. Marah Halim, S.Ag., M.Ag., MH., Widyaiswara Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Aceh; Pengajar Pola Pikir (Mindset) SDM Aparatur. Email: marahh77@gmail.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved