Warga Pedalaman Rawan Kaki Gajah

Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh Utara menemukan 101 penderita kaki gajah atau filariasis yang sudah terjadi pembengkakan

Warga Pedalaman Rawan Kaki Gajah
Surya.co.id
Ilustrasi penyakit kaki gajah. 

* 101 Penderita Terdeteksi di Aceh Utara

LHOKSUKON – Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh Utara menemukan 101 penderita kaki gajah atau filariasis yang sudah terjadi pembengkakan pada kaki, dan tangan, serta anggota tubuh lainnya, Penderita penyakit ini umumnya adalah warga pedalaman Aceh Utara karena banyak tempat berkembang biak di kawasan tersebut. Namun, penderita filariasis tidak menularkan lagi penyakitnya ke orang lain karena sudah meminum obat.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Aceh Utara, Khalmidawati kepada Serambi, Jumat (7/9), menyebutkan, kasus penyakit kaki gajah terbanyak ditemukan di Kecamatan Baktiya yaitu mencapai 21 kasus, disusul Nisam 12 kasus, selanjutnya Tanah Jambo Aye 12 kasus, serta Kuta Makmur dan Lhoksukon masing-masing 8 kasus, plus beberapa kasus di kecamatan yang lain. “Kasus penyakit kaki gajah ini, semua kecamatan ada. Namun, terbanyak di Kecamatan Baktiya,” kata Khalmidawati di sela-sela rapat koordinasi (rakor) tingkat kabupaten dalam rangka pemberian obat pencegahan kaki gajah secara massal tahun ke-4.

Dia mengungkapkan, warga yang tinggal di wilayah pedalaman memang lebih rentan terserang penyakit kaki gajah. Sebab, daerah pedalaman biasanya banyak terdapat tempat berkembang biak nyamuk yang menjadi pembawa cacing filaria melalui gigitannya. “Cacing atau parasit filaria ini masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk yang sudah terinfeksi. Cacing tersebut akan bertahan hidup selama 6 hingga 8 tahun, dan terus berkembang biak dalam jaringan limpa,” jelasnya. “Penderita kaki gajah biasanya tiap bulan akan mengalami deman dan terjadi pembengkakan pada tempat terinfeksi,” ulas dia.

Plt Kadinkes menambahkan, untuk mencegah penyebaran penyakit kaki gajah itu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan masyarakat. Di antaranya adalah, menjaga lingkungan selalu bersih sehingga tidak bisa menjadi sarang nyamuk.

“Kemudian, meminum obat yang disediakan petugas. Ke-101 kasus yang kita temukan ini pun adalah penderita sebelum ada program pemberian massal obat pencegahan penyakit kaki gajah,” ucapnya. “Dari tahun 2015 lalu, kita sudah mengadakan bulan eliminasi penyakit kaki gajah dengan kegiatan pemberian obat pencegahan secara massal selama lima tahun berturut-turut. Dan ini tahun keempat kita mengadakan pemberian obat tersebut,” tukas dia.

Khalmidawati memaparkan, pemberian massal obat pencegah filariasis tahun ini akan dilakukan pada Oktober 2018 dengan menyediakan 951 pos di 852 desa dalam 27 kecamatan di Aceh Utara. Setiap pos, nantinya akan disediakan dua petugas dibantu 3 kader kesehatan yang sudah terlatih. “Waktu pelaksanaan pemberian obat massal pencegahan kaki gajah ini kita agendakan selama 1 bulan penuh pada Oktober mendatang,” tandasnya.

Butuh Komitmen Semua Pihak
Pada bagian lain, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Aceh Utara, Khalmidawati menyatakan, pihaknya sanggat berharap komitmen serta kerja sama semua pihak, termasuk organisasi profesi dan kemasyarakatan, Perguruan Tinggi, serta dunia usaha, untuk keberhasilan pemberian massal obat pencegahan kaki gajah ini sekali setahun, selama lima tahun berturut-turut. Karena itu, bebernya, dalam kegiatan rakor tersebut diadakan penandatanganan komitmen bersama antara pejabat Aceh Utara dengan unsur muspida.(jaf)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help