Bahasa Daerah Sebagai “Warga” Bahasa Indonesia Dalam KBRI

Kamus merupakan kumpulan daftar katakata dan ungkapan yang disusun secara alfabetis dan diberi keterangan seperti makna

Bahasa Daerah Sebagai “Warga” Bahasa Indonesia Dalam KBRI

Oleh: Muhammad Toha

Kamus merupakan kumpulan daftar katakata dan ungkapan yang disusun secara alfabetis dan diberi keterangan seperti makna, padanan, terjemahan, dan pemakaiannya. Menurut jenisnya, kamus dapat dibedakan atas kamus umum dan kamus istilah. Kamus umum berisi daftar kata-kata yang diperuntukkan untuk emenuhi kebutuhan masyarakat umum.

Misalnya Kamus Umum Bahasa Indonesia atau Kamus Inggris-Indonesia. Sedangkan kamus istilah berisi istilah ilmu atau pengetahuan tertentu yang diperuntukkan bagi masyarakat yang menggeluti ilmu atau pengetahuan tertentu seperti KamusLinguistik atau Kamus Istilah Kedokteran. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) karangan Badan Pengembangan dan Pelindungan Bahasa masuk ke dalam kamus umum.

Banyak lema KBBI berasal dari bahasa daerah. Bahasa Jawa merupakan penyumbang terbesar pertama, sebanyak 1109 kosakata disusul bahasa Minangkabau sebagai penyumbang kedua sebanyak 929 kosakata. Hal ini memperlihatkan bahwa KBBI menerima bahasa-bahasa daerah sebagai bagian dari lema-lemanya sejak dulu.

Upaya tersebut saat ini lebih digalakkan lagi. Mungkin kita bertanya, mengapa baru sekarang bahasa daerah dibukakan pintu selebar-lebarnya dalam KBBI? Karena saat ini pemerintah sedang menaruh perhatian yang besar terhadap KBBI. Pemerintah berkeinginan agar lema KBBI diperkaya jumlahnya karena indikator kamus yang kaya dilihat dari jumlah lema.

Upaya tersebut dilakukan dengan menyerap lema-lema dari bahasa daerah. Hal ini dimaksudkan untuk mengakomodasi dan juga merawat bahasa daerah itu sendiri. Jangan sampai bahasa daerah dengan kekayaan budaya yang dimilikinya punah. Oleh karenanya saat ini siapapun dapat mengusulkan lema dari bahasa daerahnya masingmasing ke dalam KBBI. Meski demikian, Balai Bahasa Aceh tetap dilibatkan dalam proses yang berkaitan dengan urusan pengusulan tersebut.

Dulu, pengusul lema hanya boleh dilakukan sekelompok orang saja. Itulah sebabnya Badan Pengembangan dan Pelindungan Bahasa atau populer disebut Badan Bahsasa menerbitkan KBBI versi daring, Hal ini bertujuan untuk memberi akses informasi seluas-luasnya kepada masyarakat tentang bahasa Indonseia dan memfasilitasi partisipasi masyarakat dalam pengembangan kosakata bahasa Indonesia.

Adapun cara mengusulkan kata atau makna bar itu dengan membuka alamat kbbi.kemdikbud.go.id. Memang untuk mengusulkan lema dalam KBBI boleh siapa pun, namun kata yang diusulkan tidak boleh apa saja. Maksudnya, kata yang diusulkan sebaiknya berasal dari kosakatakosakata khas yang berhubungan dengan tradisi atau budaya sebuah masyarakat seperti pada bidang kuliner, peralatan, tumbuhan, tradisi, dan lainnya. Misalnya saja kata timpan, ulee kupi, atau meugang yang terdapat dalam bahasa Aceh, kata racin yang berasal dari bahasa

Alasataupun kata bebalen dari Bahasa Gayo.Terdapat sejumlah syarat bagi lema bagi bahasa asing maupun bahasa daerah agar diterima sebagai “warga” bahasa Indonesia dalam KBBI. 1) Unik, kata itu maknanya belum ada dalam bahasa Indonesia sehingga dapat menutup kekosongan makna yang terdapat dalam bahasa Indonesia. Misalnya kata tinggimini, sebuah tradisi pemotongan jari tangan untuk menunjukkan kekecewaan atau duka mendalam atas meninggalnya salah satu anggota keluarga. Tradisi ini berlaku di masyarakat Papua khususnya bagi kaum perempuan suku Muyu dan Dani. 2) Eufonik (enak didengar), kata itu sesuai dengan kaidah fonologi bahasa Indonesia.

Hal ini dimaksudkan agar kata tersebut mudah dilafalkan penutur bahasa Indonesia yang beragam bahasa ibunya. Misalnya saja kata ojeg yang berakhiran /g/ dalam bahasa Betawi, Sunda, Jawa akan menjadi /k/ dalam bahasa Indonesia sehingga kata ojeg menjadi ojek. Demikian pula halnya dengan bunyi /eu/ dalam bahasa daerah akan menjadi /e/. Oleh sebab itu kata keukeuh dalam bahasa Sunda menjadi kekeh dalam bahasa Indonesia. 3) Seturut bahasa Indonesia, maksudnya kata tersebut dapat dibentuk dan membentuk kata lain dengan kaidah pembentukan kata bahasa Indonesia, seperti pengimbuhan dan pemajemukan. Misalnya kata kundur dapat menjadi terkundur, terkunduri, atau kunduri. 4) Tidak berkonotasi negatif, kata yang diusulkan memiliki makna berkonotasi negatif yang sama meski belum ada dalam bahasa Indonesia .

Misalnya kata okasisi dan pelokalan memiliki makna yang sama. Kata pelokalan lebih dianjurkan untuk diusulkan kerena berkonotasi lebih positif. Hal ini dapat dilihat dari sanding kata yang mengikutinya. Jika kita berbicara mengenai bahasabahasa daerah di Aceh, mungkin kita bertanya apakah ada kata-kata dari bahasa-bahasatersebut yang menjadi ‘warga’ bahasa Indonesia? Jawabannya ya. Sebanyak 112 lema dalam KBBI diserap dari Bahasa Aceh. Bahasa Aceh merupakan penyumbang tertinggi dalam KBBI jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa daerah lainnya di provinsi ini. Misalnya kata apon, boh luping, ataupun kata menasah.

Kata menasah dalam KBBI berasal dari kata meunasah. Perubahan ini terjadi untuk menyesuaikan dengan bunyi bahasa Indonesia, seperti pada kata kekeh di atas. Lagi pula, kata meunasah iucapkan menasah dalam bahasa Aceh. Selain itu, dalam bahasa Aceh baik kata menasah maupun meunasah masing-masing keduanya tidak memiliki arti tersendiri.

Selain bahasa Aceh, bahasa Gayo dan bahasa Alas juga turut berkontribusi sebagaipenyumbang kosakata bahasa daerahnya dalam KBBI. Misalnya kata awis dari bahasa Gayo sebagai tempat membawa barang, biasanya terbuat dari kain, digantungkan di bahu. Dari sejumlah bahasa daerah yang ada di provinsi ini, hanya bahasa Aceh, Gayo, dan Alas saja yang berkontribusi.

Peluang bahasa-bahasa daerah lain untuk menyumbangkan kosakatanya sebagai “warga” bahasa Indonesia masih terbuka lebar. Maka dari itu, masyarakat sebagai pemilik sebuah bahasa daerah ditunggu peranannya sebagai pengusul lema dalam KBBI. Mari kita ramaikan lema KBBI dengan kosakata dari bahasabahasa daerah yang ada di provinsi ini.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved