Elpiji Melon Dijual di Atas HET

Harga elpiji 3 kilogram (kg) atau elpiji melon di Aceh Barat Daya (Abdya) dijual Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per tabung

Elpiji Melon Dijual di Atas HET
Kapolres Aceh Selatan, AKBP Dedy Sadsono ST didampingi Wakapolres Aceh Selatan, Kompol Iskandar SE.Ak dan Kasat Reskrim Polres Aceh Selatan, Iptu Muhammad Isral S.IK memperlihatkan barang bukti Gas Elpiji 3 Kg yang dijual diatas HET. SERAMBI/TAUFIK ZASS 

BLANGPIDIE - Harga elpiji 3 kilogram (kg) atau elpiji melon di Aceh Barat Daya (Abdya) dijual Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per tabung. Harga tersebut di atas harga eceran tertinggi (HET) Rp 22.500 per tabung sesuai dengan surat edaran bupati. Pantauan Serambi keberadaan elpiji melon yang dinilai sangat membantu masyarakat miskin dalam dua hari terakhir sulit diperoleh.

Beberapa pangkalan enggan menjelaskan mengapa menjual elpiji melon melampaui HET yang telah ditetapkan Bupati. Hal yang sama juga disampaikan pangkalan di kawasan Susoh. Pemilik pangkalan mengaku pihaknya menjual harga gas 3 kg Rp 25.000 per tabung.

“Selama ini tidak ada yang komplain. Mengingat ada beberapa pengecer yang membeli (gas 3 kilo) pada kami. Jika kami jual harga Rp 22.500, pengecer atau kios-kios kecil yang membeli pada kami akan marah, karena tidak ada untung,” terangnya.

Disebutkan selain menjual gas 3 kg yang disubsidi oleh pemerintah, pihaknya juga menjual gas nonsubsidi yaitu gas 5,5 kg dan 12 kg. Menurutnya gas non subsidi itu diberikan kuota bebas oleh Pertamina, bahkan diberi penghargaan jika mampu menjual melampaui target.

“Kalau non subsidi tidak ada kuota, tapi semakin banyak kita jual, semakin besar reward atau penghargaan yang diberikan, dan itu diharuskan bagi setiap pangkalan, sehingga masyarakat tidak semua beli gas bersubsidi,” terangnya.

Bupati Abdya Akmal Ibrahim saat dikonfirmasi Jumat (6/9) merasa kesal masih ada pangkalan di Abdya yang tidak mengindahkan SK bupati tentang harga jual gas 3 kg Rp 22.500 per tabung. “Gas 3 kilogram itu untuk rakyat miskin. Kok masih ada pangkalan yang membebani rakyat dengan menjual Rp 25.000 bahkan ada Rp 30.000 per tabung. Itu jelas melampaui HET dan membebani rakyat,” kata Akmal.

Ia berjanji akan meminta tim yang beranggotakan wakil bupati, Sekda, Kadis Perindaghkop dan sejumlah pihak lainnya termasuk pihak keamanan untuk memantau dan turun ke sejumlah pangkalan untuk memastikan bahwa elpiji melon dijual sesuai HET atau Rp 22.500 per tabung.

“Jika ada yang melanggar dan tidak mengindahkan, kita tidak segan-segan melaporkan persoalan ini pada Pertamina, untuk mengevaluasi keberadaan pangkalan nakal itu,” tegasnya.

Bupati Akmal juga meminta agar meminta para pangkalan wajib menjual gas non subsidi ukuran 5,5 kg dan 12 kg, bagi PNS, para pelaku bisnis atau masyarakat yang memiliki pendapatan lebih.

“Jadi, usaha-usaha yang beromzet jutaan per hari, wajib membeli gas non subsidi. Dengan membeli gas non subsidi ini, salah satu cara dan solusi mengatasi kelangkaan gas 3 kilo di Abdya,” sebutnya.

Namun ironisnya, kata Akmal, pihaknya mendapat laporan adanya pihak tertentu yang menghalangi penjualan gas non subsidi di Abdya. Menurut Akmal apa yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu itu telah melanggar kebijakan Pertamina dalam upaya mendistribusikan penjualan gas kepada kelompok menengah atas dan pelaku usaha makro (besar).

“Setahu saya, tidak ada larangan menjual gas non subsidi, seperti gas new bright yang mulai diminati. Bahkan Pertamina memberikan penghargaan pada pangkalan yang mampu menjual gas non subsidi itu. Saya akan tanya langsung ke sana (Pertamina), kenapa itu terjadi, dan mereka harus dilindungi dan didukung, bukan dihukum atau menangkap tabung mereka,” sebutnya.(c50)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved