Harga Kopi Stabil

Harga kopi, khususnya jenis arabika masih stabil, walau nilai tukar dolar AS terhadap rupiah telah mengalami

Harga Kopi Stabil
Seorang petani kopi warga Kampung Blanggele, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah sedang memetik buah kopi. 

* Masa Panen Mulai Oktober 2018

TAKENGON - Harga kopi, khususnya jenis arabika masih stabil, walau nilai tukar dolar AS terhadap rupiah telah mengalami kenaikan dalam sepekan terakhir ini. Apalagi, para petani belum memasuki masa panen yang diperkirakan akan dimulai pada Oktober 2018 mendatang, sehingga ekspor kopi juga masih sepi.

Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Aceh, Armia Ahmad, kepada Serambi, Sabtu (8/9) menjelaskan kenaikan dolar terhadap Rupiah tidak mempengaruhi harga kopi, karena produksi masih rendah. “Kalaupun mata uang dolar AS tinggi, tidak ada kopi yang bisa dijual dalam jumlah banyak,” kata Armia.

Disebutkan, harga kopi arabika siap ekspor masih tetap stabil, yakni berkisar 6 dolar AS/kg atau jika dikurskan dengan Rp 14.800/dolar AS, maka harganya Rp 88.800/kg. Demikian juga, jika rupiah terus melemah terhadap dolar AS, maka akan berdampak pada besarnya nilai rupiah yang didapat.

“Harga kopi tidak naik, hanya nilai tukar dolar AS yang tinggi, tetapi sayangnya, petani kopi belum panen,” jelas Armia. Disebutkan, jika dibandingkan dengan kopi asal Amerika Latin yang berkisar 4-4,5 dolar AS/kg, maka harga kopi arabika Gayo jauh lebih mahal.

“Sebelumnya, harga kopi green bean ready ekspor berkisar antara Rp 79 ribu hingga Rp 81 ribu/kg dan harga ini masih sangat tinggi, dibandingkan dengan kopi Amerika Latin,” jelasnya. Berkaitan dengan hasil produksi kopi arabika Gayo tahun lalu, sekitar 60 persen dari produksi normal, tetapi tahun ini diperkirakan akan kembali normal dan meningkat.

“Kalau melihat perkembangan bunga kopi, maupun potensi buah kopi saat ini, sudah cukup baik,” katanya. Meski begitu, masih ada kekhawatiran karena kondisi cuaca yang masih musim kemarau, dimana bila cuaca panas masih tetap berlanjut, akan mempengaruhi hasil panen kopi, karena kurangnya pasokan air.

“Selain cuaca panas, sebelumnya juga ada angin kencang, sehingga sangat berdampak terhadap banyaknya buah kopi,” tutur Armia. Dia mencontohkan,

areal kebun kopi yang berada di bawah ketinggian 1.000 Meter Dari Permukaan Laut (MDPL), sudah mulai berbuah dan bentuk buah kopinya besar.

Tetapi karena kekurangan air, sehingga sebagian buahnya akan menjadi kosong. “Sekarang tergantung cuaca lagi. Kalau, hujan turun dalam beberapa hari ini, produksi kopi akan lebih baik lagi,” pungkasnya.(my)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved