Citizen Reporter

Melawat ke Saint Petersburg

KAMI berada di Rusia untuk kunjungan wisata dan menghabiskan waktu sepuluh hari untuk mengunjungi Kota Moskow

Melawat ke Saint Petersburg
FADHLI ALI

OLEH FADHLI ALI, warga Aceh Barat Daya, melaporkan dari Saint Petersburg, Rusia

KAMI berada di Rusia untuk kunjungan wisata dan menghabiskan waktu sepuluh hari untuk mengunjungi Kota Moskow, Saint Peterburg, Kremlin, dan kota lain di sekitarnya.

Setelah menempuh penerbangan sembilan jam lebih dari Bangkok, kami mendarat di salah satu bandara internasional di Moskow. Hanya beberapa jam saja di Moskow kami pun naik kereta api menuju Saint Petersburg, kota terbesar kedua di Rusia. Kota ini masuk dalam deretan salah satu kota terindah di dunia dan memiliki sejarah yang panjang dan luar biasa.

Kota Saint Petersburg terletak di tepi Teluk Finsky yang menghadap ke Laut Baltik. Tercatat sekitar 6 juta turis mengunjungi kota ini tahun lalu. Banyak sisi menarik yang dapat diungkap tentang kota ini. Pasca-Piala Dunia 2018 Saint Petersburg terus dibenahi, bahkan semakin pesat pembenahannya di sana-sini. Kunjungan wisata tahun ini diperkirakan meningkat pesat, selain pengaruh “iklan” gratis sebagai sisi lain dari keuntungan sebagai tuan rumah Piala Dunia. Dampaknya sangat positif terhadap citra dan popularitas Kota Saint Petersburg.

Selain sangat ramah, warga Kota Saint Petersburg secara fisik gagah-gagah dan cantik-cantik. Dari sisi keramahan mereka malah jauh lebih ramah dibanding warga Kota Moskow yang lebih heterogen. Warga setempat tampaknya sangat sadar bahwa setiap tamu atau turis yang datang ke negerinya adalah sumber rezeki, membawa keberuntungan, dan kesejahteraan. Oleh karenanya, tamu harus diperlakukan dengan sebaik-baiknya.

Warganya periang, suka bercanda. Beberapa kali kami temukan pria dewasa pukul-pukulan, kejar-kejaran, dan saling tendang satu sama lain. Semula saya mengira mereka berkelahi. Rupanya cuma bercanda. Saat masih kecil kita sering berperilaku demikian, setidaknya saya, orang yang berasal dari kampung yang memang sering terlibat percandaan demikian bersama teman di masa kecil.

Dulu saya berpikir cara bermain kami kampungan, tapi setelah melihat perilaku serupa dilakukan oleh orang-orang dewasa di sini, pikiran saya berubah ternyata cara bermain seperti kami adalah permainan berkelas “internasional”. He...he...

Dari beberapa referensi saya akhirnya tahu bahwa Great Peter atau Peter the Great (dalam istilah Inggris) atau Peter Yang Agung itu merupakan tsar atau kaisar terakhir yang berkuasa di seluruh Rusia. Dia adalah penguasa kerajaan yang memiliki jiwa seni luar biasa.

Peter juga mengirim orang-orang Rusia untuk sekolah ke berbagai negara di Eropa, termasuk dalam bidang engineering. Ia memimpin perubahan budaya dengan menggantikan tatanan lama dan tradisional beserta sistem politiknya dengan tatanan baru yng lebih modern dan kebarat-baratan berdasarkan pencerahan.

Dalam literatur sejarah kita ketahui ada istilah Renaisanse atau Abad Pencerahan, yaitu suatu masa pada abad ke-18, atau tepatnya zaman pencerahan terjadi sekitar tahun 1687 sampai 1789 M. Masa Renaisanse itu memiliki semangat merevisi atas kepercayaan tradisional, memisah pengaruh-pengaruh agama dari pemerintahan yang hal ini begitu kentara terjadi pada abad 12 hingga 13 atau Abad Kegelapan.

Pernah memiliki pemimpin yang memiliki visi jauh ke depan, apalagi memiliki jiwa seni yang berkelas “platinum”, yaitu Great Peter pada dua abad silam, Kota Saint Petersburg berwujud seperti sekarang. Rasanya tak berlebihan jika saya mengatakan meski tidak memiliki potensi sumber daya alam apa pun, tapi dengan mengelola dan memanfaatkan peninggalan Great Peter, warga kota ini bisa hidup sejahtera dari penghasilan yang diperoleh pemerintah dan warganya dari jasa pariwisata.

Saya tak berani mengatakan berjumlah ribuan, tapi saya yakin ada ratusan taman kota dengan berbagai ukuran, bahkan di antaranya memiliki luas berhektare-hektare di tengah kota. Sementara salah satu tempat yang sangat brsejarah dan paling ramai dikunjungi di kota ini adalah istana musim panas, Peterhof yang memiliki taman luas. Tak kurang dari 50 ha luasnya menurut ukuran pandangan mata saya saat kembali ke apartmen melalui pelabuhan laut yang dibangun tepat sekitar 500 meter persis di bagian belakang istan “raksasa” yang memiliki 1.500 kamar, 1.786 pintu, dan 1.945 jendela. Tak hanya itu, Istana Peterhof juga dilengkapi 117 tangga.

Selain itu, masih ada sangat banyak bangunan, benteng, dan tempat-tempat bersejarah yang bukan hanya indah, tapi juga sarat pengetahuan yang layak untuk dikunjungi. Di antaranya salah satu yang paling terkenal adalah Museum Ermitaz atau Hermitage, istana musim dingin yang kini jadi Museum Nasional Rusia di tengah Kota Saint Pitersburg. Istana ini menyimpan lebih dari 3 juta karya seni dari berbagai karya seni dunia dari zaman batu hingga abad ke-20. Dilengkapi interior mewah dan autentik bergaya Barok hingga Emperis. Untuk menelusuri ruang demi ruang dari sejumlah gedung di kompleks istana ini butuh waktu dua hari. Itu pun hanya untuk mendokumentasikan objek yang dipajang di setiap sudut ruangnya.

Sisi lain yang tidak kalah menariknya adalah tata ruang dan seni arsitektur bangunan yang lega, asri, indah, dan nyaman. Tentu saja hal ini membuat warga dan pengunjung di kota ini merasa nyaman dan betah berlama-lama. Arsitektur bangunan tidak hanya Istana Tsar musim dingin, Peterhof dan istana musim panas, Hermitage, museum terbesar milik Rusia dalam berbagai bangunan lain seperti kantor, pasar, dan apartemen semuanya memiliki estetika tinggi dan bergaya klasik. Corak ini tetap dipertahankan, meskipun ada banyak bangunan baru, termasuk hotel ternama dunia, tapi pembangunannya diwajibkan mengikuti arsitektur klasik yang sudah menjadi “kiblat” seni bangunan di Kota Saint Petersburg.

Semua ruas jalan dan pinggir sungai memiliki space untuk pejalan kaki yang cukup lebar. Apalagi di sekitar Sungai Seva atau Seva River, space untuk pejalan kaki sengaja dibuat lebih lebar, 2-3 meter. Semua taman memiliki ruas-ruas yang dapat di gunakan oleh pejalan kaki dan untuk jogging. Terlihat sekali bahwa apa pun yang dibangun dimulai dari perencanaan yang matang dan memiliki perspektif jauh ke depan maka tidak hanya untuk 10 sampai 25 tahun, tapi untuk 100 atau beratus-ratus tahun pun dapat dinikmati oleh generasi ke generasi. Jadi, apa pun yang dibangun dapat diwarisan untuk anak cucunya. Adakah demikian konsep pembangunan di negeri kita yang tercinta ini?

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help