Polisi Deteksi Korban Baru

Polres Lhokseumawe terus mengembangkan dugaan kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO)

Polisi Deteksi Korban Baru
ARI LASTA IRAWAN, Kapolres Lhokseumawe

* Perempuan Aceh yang Dijadikan PSK di Malaysia

LHOKSEUMAWE – Polres Lhokseumawe terus mengembangkan dugaan kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang melibatkan jaringan Aceh-Malaysia. Polisi mendeteksi adanya perempuan lain yang jadi korban selain N (24) dan D (20).

Seperti diberitakan, dua perempuan muda asal Kota Lhokseumawe, yaitu N dan D sempat masuk perangkap jaringan perdagangan manusia (human trafficking) setelah termakan bujuk rayu seorang perempuan berinisial Fau (29) yang juga dari Lhokseumawe. Fau sudah ditangkap dan berstatus tersangka kasus TPPO.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan melalui Kasat Reskrim Iptu Riski Adrian, kepada Serambi, Sabtu (8/9) menjelaskan, menurut pengakuan N dan D, saat mereka ditempatkan di dalam sebuah mes di Malaysia, ternyata ada puluhan perempuan asal Indonesia, termasuk beberapa di antaranya asal Aceh, bahkan ada juga dari Lhokseumawe.

Berangkat dari keterangan itu, Polres Lhokseumawe langsung bergerak untuk melacak keberadaan korban lain. Untuk sementara sudah terdeteksi tempat tinggal satu korban lainnya yang berasal dari Lhokseumawe.

“Kita sudah mendatangi rumahnya. Tapi saat kita datang, yang bersangkutan sedang tidak di Lhokseumawe. Menurut keluarganya, yang bersangkutan sedang di Medan,” ujar Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe, Iptu Riski.

Selain mengembangkan pengakuan dari N dan D, polisi juga terus meminta keterangan dari Fau, misalnya tentang jumlah korban yang dibawanya dari Aceh (khususnya Lhokseumawe) dan selanjutnya masuk perangkap human trafficking yang dipekerjakan sebagai PSK di Malaysia. “Kita akan kembangkan terus, termasuk mengungkap jaringan tersebut di Medan,” kata Iptu Riski.

Dari Fau juga sudah diperoleh tambahan keterangan yaitu saat membawa korban, seluruh biaya transportasi, makan, serta penginapan di Medan dan Batam ditanggung oleh jaringannya. Juga uang harian Rp 100.000. “Kita masih dalami ini, apakah tersangka mendapatkan uang lebih dari kasus ini ataupun hanya segitu,” ujar Riski.

Seperti diketahui, terungkapnya kasus perdagangan manusia (human trafficking) ini berawal dari laporan seorang perempuan muda berinisial N yang mengaku jadi korban.

Disebutkan, pada November 2017, N dan temannya berinisial D diajak oleh seorang perempuan berinisial Fau, warga Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe untuk bekerja di sebuah kafe di Malaysia. Kepada N dan D diiming-iming menerima gaji (jika dirupiahkan) Rp 6 juta-Rp 8 juta/bulan. Fau memberi bayangan dengan gaji tersebut N dan D bisa membiayai kehidupan keluarganya termasuk membeli sepeda motor.

N dan D ternyata termakan dengan rayuan Fau. Maka, mereka pun sepakat berangkat ke Malaysia. Fau meminta kedua korban memberikan fotokopi KTP dan kartu keluarga untuk pengurusan paspor.

Selanjutnya Fau bersama N dan D berangkat ke Medan. Di Medan, Fau menempatkan N dan D di sebuah mes sambil menunggu selesai proses pembuatan paspor yang diurus oleh Fau.

Setelah paspor selesai, tersangka bersama kedua korban bertolak ke Batam melalui Bandara Kualanamu. Sampai di Batam, tersangka menyerahkan kedua korban kepada seorang pria yang tidak dikenal oleh kedua korban. Sedangkan Fau kembali ke Lhokseumawe dengan alasan paspornya ada masalah sehingga harus dilakukan pengurusan ulang ke Imigrasi Lhokseumawe.

Bersama pria tidak dikenal itu, N dan D menyeberang ke Malaysia melalui jalur laut. Sampai di Malaysia, mereka bertemu dengan seorang pria warga keturunan yang dikenal dengan panggilan Koko. Kedua korban pun ditempatkan di sebuah mes bersama puluhan wanita lainnya yang kesemuanya warga negara Indonesia.

Selanjutnya, dari mes tersebut, mereka diberangkatkan ke sebuah tempat prostitusi. Mereka--termasuk N dan D-- dijadikan sebagai PSK tanpa dibayar. Akhirnya, setelah sekitar enam bulan, N yang tidak tahan dengan kondisi itu nekat melarikan diri dengan melompat pagar. Karena tidak tahu wilayah Malaysia dan tidak ada paspor di tangan, maka dirinya pun menjadi gelandangan selama berbulan-bulan. Hingga suatu hari, dia bertemu warga Lhokseumawe di Malaysia dan mengurus pemulangannya ke kampung halaman.(bah)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved