Opini

Hijrah Kekinian

PERISTIWA hijrah Rasulullah saw dalam tradisi Islam merupakan sebuah sejarah yang sangat monumental

Hijrah Kekinian
SERAMBINEWS.COM/IDRIS ISMAIL
Ribuan jamaah dari berbagai kabupaten larut dalalm zikir dan shalawat nabi pada puncak peringatan tahun baru Islam tahun baru Islam 

Secara maknawi hijrah Rasul saw dan para sahabatnya demi terjaganya misi Islam. Sebagai suatu peristiwa penting, hijrah menjadi proses transformasi spiritual. Di dalamnya tergambarkan perjuangan menyelamatkan akidah, penghargaan atas prestasi kerja, dan optimisme dalam meraih cita-cita.

Peristiwa hijrah mengisyaratkan adanya keteladanan untuk sebuah pengorbanan sejati yang mengapresiasikan perlawanan akan kebatilan sekaligus sikap konsisten mengedepankan kepentingan misi dari kepentingan apa pun, agar ia tetap lestari dan terjaga dari kepunahan meskipun karenanya harus meninggalkan negeri, harta, dan keluarga. Hijrah dalam perspektif historis dapat dimaknai sebagai tindakan pragmatis monumentalis yang didalamnya juga mencakup nilai-nilai normatif yang bersumber pada Alquran dan hadis.

Dalam konteks kekinian hijrah dapat dimaknai sebagai perubahan paradigma dan menjadi momentum perubahan secara kaffah, yaitu perubahan di segala bidang. Jika rumusan global ini secara konsisten dapat diterapkan di segala sendi kehidupan masyarakat, maka potensi yang luar biasa tersebut dapat mengantarkannya kepada kehidupan yang jauh lebih baik dan menjadi kekuatan dalam menghadapi persoalan hidup. Perwujudan makna hijrah tersebut menjadi lebih representatif bagi kontribusi kemajuan umat Islam. Kontribusi kemajuan umat Islam yang dilakukan dengan berbagai kegiatan ini menjadikan perubahan dalam kehidupan sesuai dengan harapan.

Esensi perubahan yang dimaksud dalam momentum hijrah Rasulullah saw, dapat dimaknai sebagai hijrah insaniah yang merupakan transformasi nilai-nilai kemanusiaan, terkait perbaikan hakikat hidup manusia agar dapar menjadi lebih baik.

Perubahan paradigma masyarakat Arab dan pola pikir mereka setelah kedatangan Islam menunjukkan bahwa materi utama dakwah Rasulullah saw terkait dengan sisi-sisi kemanusiaan. Bahwa semua manusia memiliki derajat yang sama, diungkapkan dalam inti kalimat syahadat (tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah). Ungkapan itu secara langsung mengeliminir segala bentuk perbudakaan dan penguasaan atas individu. Dengan demikian, sungguh Islam telah meletakkan sebuah pondasi tata nilai kemanusiaan.

Kesadaran barau
Pada hakikatnya, hijrah tidak sekadar perpindahan fisik, tetapi lebih dari pada itu hijrah secara mental dan spiritual untuk memperoleh kesadaran baru bagi peningkatan martabatnya sebagai umat manusia. Penekanan hijrah insaniah terkait dengan perbaikan hakikat hidup manusia agar dapat menjadi lebih baik dalam memaknai hidup itu sendiri.

Ini dapat disimpulkan dari pengorbanan ‘Ali bin Abi Thalib ketika menggantikan Rasul dipembaringannya untuk mengelabui kaum musyrik, yang pada hakikatnya adalah mempertaruhkan hidupnya. Ini menjelaskan bahwa hidup bukan sekadar menarik dan menghembuskan nafas. Tetapi hidup adalah kesinambungan dunia dan akhirat dalam keadaan bahagia. Karena itu, tidak ada arti hidup seseorang jika tidak menyadari bahwa ia mempunyai kewajiban yang lebih besar dan yang melebihi hari ini.

Pada konteks yang lebih luas, hijrah dapat dimaknai sebagai hijrah tsaqafiyyah atau hijrah dari kebudayaan jahiliyah menuju kebudayaan madaniyah, yaitu transformasi budaya terkait peningkatan peradaban manusia dengan ilmu dan teknologi. Nilai hijrah secara transformatif kebudayaan pada dasarnya ditujukan untuk mengambalikan keutuhan moral dan martabat kemanusiaan secara universal (rahmatan lil ‘alamiin).

Dalam pergaulannya, Rasul saw menghargai dan memperlakukan semua orang secara sama tanpa perbedaan, termasuk di dalamnya adalah kebersamaan, gotong royong dan kesetia kawanan. Tak dapat dipungkiri bahwa dalam perjalanannya, akhlak dan kepribadian manusia tidak terlepas dari degradasi dan pergeseran nilai. Maka momen hijrah ini sangat tepat untuk mengoreksi akhlak dan kepribadian sejalan dengan misi kenabian Muhammad saw, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Bukhari).

Sebagai transformasi keagamaan, hijrah Rasul juga menjadi hijrah Islamiyah yang terkait dengan membumikan nilai-nilai Islami kepada manusia dan kesehariannya. Artinya, peralihan diri menuju kepasrahan total kepada Allah Swt. Transformasi keagamaan dalam konteks hijrah ini, dapat dikatakan sebagai pilar utama keberhasilan dakwah Rasul Saw. Ketika Rasul menjadikan Madinah negeri yang tentram dan damai walaupun dihuni oleh masyarakat yang heterogen (Muhajirin dan Anshar) menganut agama Islam, Yahudi, dan Nasrani. Ini menunjukkan manifestasi dari nilai-nilai islami yang mampu mewujudkan masyarakat tentram, adil dan makmur.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved