Salam

Merantau Boleh, tapi Jangan Sampai Jadi PSK

Dalam dua hari terakhir, Harian Serambi Indonesia menempatkan pada posisi headline halaman 1 berita tentang dua perempuan Aceh

Merantau Boleh, tapi Jangan Sampai Jadi PSK
TKW ini adalah korban perdagangan orang yang berhasil melarikan diri bersam lima TKW lainnya, dari tempat mereka disekap di Turki(KOMPAS.com/ FITRI RACHMAWATI) 

Dalam dua hari terakhir, Harian Serambi Indonesia menempatkan pada posisi headline halaman 1 berita tentang dua perempuan Aceh yang dijadikan pekerja seks komersial (PSK) di Malaysia. Kedua perempuan muda itu berasal dari Kota Lhokseumawe, masing-masing berinisial N (24) dan D (20). Keduanya masuk perangkap jaringan perdagangan orang (human trafficking) setelah diiming-imingi bekerja di kafe di Kuala Lumpur, Malaysia, dengan gaji yang dibayangkan cukup untuk membiayai kebutuhan keluarganya di kampung.

Kasus perdagangan orang ini terungkap setelah N melapor ke Polres Lhokseumawe bahwa dia adalah korban human trafficking atas jebakan Fau (29), warga Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Dikisahkan, Fau mengajaknya ke Malaysia untuk bekerja di kafe dengan upah Rp 6 juta hingga Rp 8 juta sebulan. Fau juga berbaik hati membuatkan paspornya di Medan. Hal yang sama juga dilakukan Fau terhadap D yang empat tahun lebih muda dibanding N.

Setelah paspor selesai, mereka pun dibawa Fau ke Batam untuk tujuan Malaysia. Tapi sesampai di Batam, Fau menyatakan harus segera balik ke Lhokseumawe dengan dalih ada kesalahan pada paspornya sehingga tak bisa menyeberang ke Malaysia, kecuali paspor tersebut diurus ulang kembali di Kantor Imigrasi Lhokseumawe.

Menjelang pulang ke Lhokseumawe, Fau menitipkan N dan D kepada seorang pria kenalannya di Batam. Bersama pria yang tak dikenal N dan D itulah kedua gadis asal Lhokseumawe itu akhirnya bertolak ke Malaysia via jalur laut. Sesampai di Malaysia, pria asal Batam tadi menyerahkan gadis N dan D kepada Koko, pria keturunan Cina yang tentu saja tak dikenal N dan D. Keduanya dibawa ke sebuah mes yang ternyata di mes itu terdapat puluhan perempuan warga Indonesia.

Dari mes itu mereka dibawa ke tempat prostitusi dan dipekerjakan sebagai PSK, tapi tanpa dibayar. Setelah enam bulan tersandera di tempat maksiat itu, N pun nekat lari dengan cara melompati pagar mes. Ia sempat menjadi gelandangan beberapa hari sampai akhirnya bertemu seorang warga Lhokseumawe di Malaysia yang berbaik hati mengurus pemulangan dan memberinya ongkos pulang.

Dua minggu setelah kembali ke Lhokseumawe, dia pun membuat pengaduan ke Polres Lhokseumawe. N juga menyebutkan bahwa bukan cuma dia, tapi temannya berinisial D pun ikut menjadi korban. Polisi langsung bergerak ke rumah D dan ternyata gadis itu pun sudah kembali dengan upayanya sendiri ke Lhokseumawe. Kedua saksi korban ini menyebutkan identitas dan alamat Fau, sehingga warga Muara Dua, Kota Lhokseumawe itu pun berhasil diringkus tanpa perlawanan. Dia kini ditahan di sel Mapolres Lhokseumawe.

Polres Lhokseumawe terus mengembangkan pengusutan dugaan kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang melibatkan jaringan Aceh-Batam-Malaysia ini. Sehari setelah Fau diinterogasi, polisi mendeteksi adanya wanita lain yang menjadi korban jaringan ini, selain N dan D.

Nah, kasus ini sungguh membuat hati kita masygul. Kejadian ini haruslah menjadi pelajaran penting bagi para orang tua di Aceh bahwa jika lengah suatu saat hal seperti ini sangat mungkin menimpa anak gadisnya. Setiap ayah dan ibu yang mempunyai anak perempuan harus sangat berhati-hati. Jangan begitu mudah percaya melepas anaknya merantau ke luar negeri kepada orang lain yang rekam jejak (track record)-nya tidak dikenal dengan baik.

Anak-anak gadis Aceh pun juga jangan mudah tergiur bujukan bekerja di negeri jiran jika tak mempunyai saudara atau kenalan dekat di sana. Curigailah setiap proses rekrutmen tenaga kerja yang bukan melalui lembaga dan jalur resmi (PJTKI). Merantau boleh-boleh saja, tapi jangan sampai terjerumus jadi pelacur.

Pemerintah pun harus serius menyikapi kasus ini dan menutup setiap peluang terulangnya perdagangan orang, serta menindak siapa pun pelakunya. Termasuk melibatkan Interpol untuk mengendus dan menindak sel jaringan human trafficking ini di luar negeri.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved