Pembangunan Jembatan Masuk TNGL

Pembangunan satu unit jembatan gantung Gunung Setan di Desa Aunan Sepakat, Kecamatan Ketambe, Aceh Tenggara

Pembangunan Jembatan Masuk TNGL
Mongabay Indonesia / Junaidi Hanafiah
Taman Nasional Gunung Leuser yang telah berubah menjadi kebun jagung di Kabupaten Aceh Tenggara. 

* DPRA Diminta Turunkan Tim

KUTACANE - Pembangunan satu unit jembatan gantung Gunung Setan di Desa Aunan Sepakat, Kecamatan Ketambe, Aceh Tenggara, masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Oleh karena itulah pihak terkait diminta berhati-hati dan pembangunannya menyesuaikan dengan regulasi, sehingga tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

Mantan Ketua Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh, Dr Nasrulzaman, mengatakan, pihaknya bukannya melarang maupun menghalangi pembangunannya, tapi justru pembangunan itu harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan, supaya bisa melindungi kepentingan masyarakat itu sendiri dan tidak terbentur dengan regulasi, karena masuk di dalam kawasan TNGL.

Dikatakan, proyek tersebut hendaknya tidak terkesan untuk mencari keuntungan saja, melainkan harus memberikan manfaat untuk mengangkut hasil bumi tanpa menimbulkan masalah lainnya.

“Oleh karena itu diperlukan adanya pegangan tertulis berupa izin dari TNGL dan Kementerian Kehutanan agar mereka tidak terjerat hukum selama memasuki kawasan TNGL. Soalnya, jembatan ini dibangun lebih lebar dari yang ada dan apabila nantinya karena tidak ada izin dari TNGL maupun Kementerian Kehutanan, lalu tidak diberikan lagi izin melintas, lalu siapa yang akan bertanggung jawab dan proyek tersebut bisa jadi mubazir,” kata Nasrulzaman.

Menurut dia, pemerintah Aceh dalam beberapa tahun silam telah memprogramkan pembangunan jalan tembus yang menjadi prioritas Muara Situlen-Gelombang Subulussalam, tapi tidak terwujud pembangunannya, karena lokasi tersebut masuk kawasan TNGL dan tidak diberikan izin oleh Kementerian Kehutanan. Padahal, potensi dan aset masyarakat sangat besar di bidang pertanian di daerah itu dan sangat bermanfaat bagi masyarakat dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, tetap saja pemerintah tidak memberikan izin.

Terkait hal itu, Nasrulzaman juga meminta kepada pimpinan DPRA untuk membentuk tim investigasi mengecek lokasi pembangunan jembatan Gunung Setan Ketambe dan lokasi pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Lawe Sikap, Kecamatan Darul Hasanah.

Sementara itu, PPK 08 Wilayah Batas Gayo Lues-Kutacane Batas Sumut Satker Pelaksana Jalan Nasional (PJN) Wilayah I Aceh, Emi Efendi ST MT, kepada Serambi, mengatakan, terkait penentuan lokasi proyek merupakan usulan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara, berdasarkan surat mantan Bupati Agara Ir H Hasanuddin B MM tahun 2015. Secara geografis, pembangunan jembatan itu benar di wilayah atau koordinat TNGL, namun secara teknis tujuan dari pembuatan jembatan gantung Gunung Setan untuk menggantikan fungsi jembatan gantung lama yang secara teknis tidak memenuhi standar keamanan untuk pejalan kaki dan pelintasan roda dua.

Pengawas Lapangan, Ari, mengatakan, jembatan gantung menggunakan besi seling itu lebarnya 2,20 meter dengan panjang 96 meter. Dana yang tersedot mencapai Rp 2,4 miliar lebih dari APBN. Direncanakan, pembangunan jembatan tersebut selesai Desember 2018 dan di bawah pengawasan Tim Pengawal dan Pengamanan Pemerintah Daerah (TP4D) Kejaksaan Negeri Kutacane. “Jadi, mengenai pembangunan, masuk ke dalam kawasan TNGL tidak jadi masalah, walaupun kita belum mengantongi izin, tapi kita diminta tetap bekerja sesuai dengan target pembangunan,” kata Ari.(as)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help