Kupi Beungoh

Jalan Lurus Erdogan di Idlib – Suriah

Dengan menjaga kesepakatan Astana, bukankah Erdogan jelas sedang berjalan di atas jalan yang lurus?

Jalan Lurus Erdogan di Idlib – Suriah
Kolase Serambinews.com/AFP
Kolase foto Teuku Zulkhairi (penulis) dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan 

Mereka tidak ingin melihat mayat anak mereka sendiri. Dan untuk ini kita harus siap. Kami, IHH, akan berusaha melakukan persiapan. Namun kemampuan kami saja tidaklah cukup.  Kami memanggil semua orang termasuk; komunitas religi, NGO untuk membantu masyarakat Idlib.”

Kembali ke soal “jalan lurus Erdogan” di Idlib.

Kita patut menyebut kebijakan berani Erdogan di Idlib tersebut sebagai jalan yang lurus mengingat bahwa upaya Erdogan melindungi Idlib adalah sebagai realisasi atas kesepakatan Astana yang memasukkan Idlib dalam zona de eskalasi, zona yang harus dilindungi dari serangan militer.

Artinya, kesepakatan Astana yang disepakati Turki, Iran dan Rusia, hanya Turki yang memegang teguh perjanjian dan kesepakatan tersebut.

Sementara Rusia dan Iran jelas-jelas mengkhianatinya.

Dengan menjaga kesepakatan Astana, bukankah Erdogan jelas sedang berjalan di atas jalan yang lurus?

Meskipun tinggal Turki sendiri yang berkomitmen atas kesepakatan tersebut.

Presiden Turki dan pemimpin Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party) Recep Tayyip Erdogan dan istrinya Emine Erdogan menyambut hadirin dari balkon markas Partai AK yang berkuasa berikut keberhasilan pemilihannya dalam pemilihan presiden dan parlemen di Ankara, Turki, Senin (25/6/2018).
Presiden Turki dan pemimpin Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party) Recep Tayyip Erdogan dan istrinya Emine Erdogan menyambut hadirin dari balkon markas Partai AK yang berkuasa berikut keberhasilan pemilihannya dalam pemilihan presiden dan parlemen di Ankara, Turki, Senin (25/6/2018). (ANADOLU AGENCY/KAYHAN OZER)

Selanjutnya, jika benar Turki tidak akan berada di pinggir lapangan menyaksikan pembantaian di Idlib oleh rezim Bassar Assad, Rusia dan Iran, maka kebijakan Erdogan ini secara kemanusiaan sangat bisa dipahami sebagai kebijakan kemanusiaan tertinggi yang patut diapresiasi.

Sebab, di satu sisi, Turki ingin mencegah sekuat tenaga gelombang pengungsi yang bakal memasuki Turki.

Kehidupan dalam pengungsian tentu tidak lah ideal sebagus apapun Turki melayani pengungsi Suriah.

Di sisi lain, Turki  sedang ingin melindungi 2,5 juta penduduk Idlib dari pembantaian.

Bagaimana pun, 2,5 juta warga Idlib itu adalah orang Suriah asli yang seharusnya nyawa mereka dilindungi oleh rezim Bassar Assad.

Di atas kertas, Turki mungkin tidak akan mampu membendung serangan Rusia dan Iran di Idlib.

Apalagi, pada saat yang sama, Turki juga sedang terlibat ketegangan dengan Amerika Serikat, seperti dijelaskan di atas.

Jadi praktis Turki tidak punya kawan dalam persoalan Idlib.

Tapi, tentu tidak mustahil mengingat dalam sejarah umat manusia, tidak sedikit kaum yang berjumlah sedikit bisa mengalahkan kaum yang berjumlah lebih baik banyak dengan izin Allah Swt.

Misalnya seperti apa yang terjadi pada perang Badar yang dimenangkan pasukan Rasulullah Saw meskipun jumlah kaum musyrik saat itu lebih banyak.

Orang-orang melambai-lambaikan bendera Turki dan memegang telepon seluler ketika mereka berkumpul untuk Presiden Turki dan ketua Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party) Recep Tayyip Erdogan dari balkon markas Partai AK yang berkuasa menyusul keberhasilan pemilu dalam pemilihan presiden dan parlemen di Ankara, Turki pada 25 Juni 2018.
Orang-orang melambai-lambaikan bendera Turki dan memegang telepon seluler ketika mereka berkumpul untuk Presiden Turki dan ketua Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party) Recep Tayyip Erdogan dari balkon markas Partai AK yang berkuasa menyusul keberhasilan pemilu dalam pemilihan presiden dan parlemen di Ankara, Turki pada 25 Juni 2018. (ANADOLU AGENCY/MUSTAFA KAMACI)

Begitu juga dalam banyak pertempuran lainnya dalam sejarah Islam yang dimenangkan umat Islam meskipun jumlah musuh tidak sebanding.

Kalau Anda mengatakan mereka layak dibantai, itu artinya ada yang salah dalam cara kita memposisikan manusia.

Tapi tentu sangat mudah dipahami mengapa ada yang tetap menyalahkan Erdogan atas apapun kebijakan yang dibuatnya.

Tentu tidak semua orang akan melihat yang baik sebagai baik dan buruk sebagai buruk.

Banyak orang mengkritisi Erdogan atas dukungannya kepada Free Syirian Army (FSA), oposisi moderat di Suriah.

Tapi yang sering kita lihat, mereka yang mengkritisi Erdogan dalam konflik Suriah tidak pernah mengkritisi pemberontak Hauthi dukungan Iran yang mengkudeta pemerintahan yang sah di Yaman.

Mereka juga sama sekali tidak bersuara saat pemerintahan yang sah di Mesir dikudeta Jenderal As-Sisi yang didukung Israel bersama Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Amerika.

(Berdoa Bersama Presiden Erdogan)

(Erdogan ‘Magnet’ Menyatunya Dunia Islam)

Namun yang jelas, kontribusi Turki di bawah kepemimpin Erdogan untuk kemanusiaan tidak akan bisa dibantah siapapun.

Tidak ada negara di dunia yang lebih peduli kepada kemanusiaan kecuali Turki.

Meskipun jumlah penduduk Turki hanya sekitar jumlah penduduk dua provinsi di Indonesia, yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur, namun hingga saat ini faktanya Turki masih merawat sendirian 3,5 juta pengungsi Suriah.

LSM-LSM Turki juga membantu umat Islam di berbagai penjuru dunia.

Palestina, Muslim Arakan, negeri-negeri Afrika, Indonesia, dan tak terhitung banyaknya.

Lalu apakah kita ragu bahwa jalan Erdogan di Suriah adalah jalan yang lurus?

*) Penulis adalah Sekjend PW Badan Koordinasi Mubaligh Indonesia (Bakomubin) Provinsi Aceh.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved