Kisah Anjing-anjing Penyelamat dalam Tragedi 9/11, Mati Sebagai Pahlawan

Akibatnya gedung pencakar langit tersebut runtuh dan menyebabkan 3.000 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka.

Kisah Anjing-anjing Penyelamat dalam Tragedi 9/11, Mati Sebagai Pahlawan
Intisari online

SERAMBINEWS.COM - Pada tanggal 11 September kemarin, kita menandai peringatan 17 tahun serangan teror di New York atau yang kita kenal dengan serangan 9/11.

Serangan teror tersebut terjadi kedia dua pesawat yang telah dibajak menabrak Menara Kembar World Trade Center.

Akibatnya gedung pencakar langit tersebut runtuh dan menyebabkan 3.000 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka.

Beberapa jam setelah peristiwa mengenaskan tersebut, pemerintah AS segera menerjunkan 10.000 petugas penyelamat darurat untuk melakukan upaya pencarian dan penyelamatan kepada korban.

Baca: Maulana Rizki, Bocah 8 Tahun Ini Kabur dari Panti Asuhan, Diduga Dijadikan Pencari Sumbangan

Hal ini dilakukan sebab semua korban dalam kondisi tertimbun reruntuhan bangunan.

Di tengah lautan kebisingan, kekacauan, kebingungan dan debu, pekerjaan mereka mulai melakukan tugasnya. Namun walau sudah berjam-jam, mereka baru sedikit menemukan korban.

Dan di saat semua orang bergerak menjauhi TKP, para pahlawan pemberani ini dengan gagah berani masuk ke TKP.

Mereka adalah 300 ekor anjing. 

Baca: Ini Penjelasan Cek Mad Soal Surat Pengunduran Diri dari Ketua DPW PA Aceh Utara
 

Ya, dilansir dari ladbible.com, para anjing tersebut membantu petugas dengan cara mencium aroma manusia yang berada di bawah reruntuhan.

Setiap mereka menemukan korban, mereka akan menggogong dan petugas akan datang membantu.

Itulah yang para anjing tersebut lakukan selama berhari-hari dan membuat mereka disebut Anjing Pahlawan 9/11.

Sayangnya, seluruh anjing pahlawan tersebut dilaporkan telah mati. 

Baca: Puluhan Tim Ikut Lomba Arung Jeram Takengon Rafting Festival

Anjing pahlawan terakhir yang hidup dari 9/11 adalah Bretagne (diucapkan Brit-nee). Sayangnya, dia meninggal pada tahun 2016, pada usia 16 tahun.

 
Pada saat serangan itu, dia adalah anjing golden retriever berusia dua tahun yang bekerja sehari-hari dengan pemilik, Denise Corliss.

Ketika menara jatuh, Bretagne dan Denise menghabiskan sepuluh hari di lokasi mulai dari penyelamatan hingga pemulihan.

Baca: Tamu Sering Isi Botol Minuman Dengan Air Kencing, Hotel di Negara Ini Tiadakan Minibar

Denise sendiri adalah seorang pemadam kebakaran relawan dengan Dinas Pemadam Kebakaran Cy-Fair. Jadi dia mulai melatih Bretagne untuk pekerjaan pencarian dan penyelamatan pada usia delapan minggu.

Pasca kejadian 9/11, Bretagne menjadi duta departemen pemadam kebakaran setempat.

Ketika Bretagne mati di rumah sakit hewan di Cypress, Texas, petugas pemadam kebakaran dan petugas pencarian dan penyelamatan kejadian 9/11 yang masih tersisa berjajar di trotoar untuk memberinya hormat.

Mayatnya juga dibungkus bendera Amerika.

Baca: Hasil Survei LSI, PDIP Berpotensi Jadi Pemenang Pileg 2019

Selain Bretagne, ada juga Apollo.

Apollo adalah anjing gembala Jerman dan pemiliknya Peter Davis dipanggil untuk membantu operasi penyelamatan setelah serangan teror 9/11.

Mereka adalah tim anjing pencarian dan penyelamat pertama yang tiba di lokasi, hanya 15 menit setelah runtuhnya menara.

Apollo hampir kehilangan nyawanya ketika ia nyaris tertindih puing-puing jatuh. Untungnya dia selamat, tapi dia jadi basah kuyup setelah jatuh ke kolam air.

Baca: TP PKK Aceh Lakukan Penyuluhan Jajanan Sehat Untuk Anak Sekolah Banda Aceh dan Aceh Besar

Anjing Gembala Jerman lainnya, Trakr, bersama dengan petugas Polisi Kanada James Symington, menemukan korban terakhir serangan 11 September di World Trade Center.

Trakr dapat menemukannya setelah dia terperangkap di bawah reruntuhan selama 27 jam, dan memberi tahu petugas pemadam kebakaran.

Karena Trakr adalah pahlawan yang luar biasa, DNA-nya dimasukkan ke dalam kontes kloning oleh Symington setelah kematiannya, pada bulan April 2009.

Artikel ini tayang pada Intisari Online dengan judul : Kisah Anjing-anjing Penyelamat dalam Tragedi 9/11, Mati Sebagai Pahlawan

Editor: Fatimah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help