Opini

Perempuan Aceh dalam Adat dan Syariat

ADA satu kekosongan logika dalam pemerintahan syar’i di Aceh. Kekosongan itu adalah alpanya kesetaraan nilai penegakan

Perempuan Aceh dalam Adat dan Syariat
SERAMBINEWS.COM/FIKAR W EDA
Tokoh perempuan Aceh tandatangani lembar terima kasih untuk Presiden RI. 

Jika Islam adalah agama monoton, umatnya yang berjumlah 1,8 miliar jiwa di dunia ini hanya akan memiliki satu tipe warna aturan-aturan hukum Islam di-hujjah dari satu orang. Tapi kenyataannya adalah tidak. Dan ini tidak jauh dari sebab faktor natural yang Allah ciptakan dalam tempat-tempat berbeda, seperti faktor iklim, geografi, dan watak manusia yang mendiami tempat tersebut. Ajaran Islam yang semata-mata hanya mencontek dari pelaksanaan ajaran Islam kawasan lain, tanpa memertimbangkan kajian-kajian terkait masyarakat lokal di tempat sendiri akan mengakibatkan impotennya hukum-hukum Islam tersebut.

Dalam realita lebih jauh, pelaksanaan syariat seperti ini dapat dipastikan tidak hanya bergesekan dengan nilai-nilai dan budaya lokal, tetapi juga cenderung menimbulkan jurang lebih besar bagi prospek ketidakadilan yang akan dihadapi rakyat. Ketika saat-saat seperti ini muncul, olok-olok dari golongan yang tidak mengerti Islam secara natural tidak bisa dihindari. Meskipun dalam Alquran, Allah telah menegaskan azab yang pedih bagi pengolok-olok hukum-Nya, adalah kewajiban kita untuk menjalankan ajaran-Nya tanpa meninggalkan ketentuan-ketentuan umum, hak-hak dan kewajiban pada nilai kemanusiaan, termasuk pada perempuan.

* Nia Deliana, mahasiswi Program Doktoral bidang Sejarah dan Peradaban di Universitas Islam Antarbangsa Malaysia, peduli pelestarian adat lokal benda dan tak benda. Email: delianania@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved