Home »

Opini

Opini

Perempuan di ‘Ruang Terbelenggu’

SAYA sempat kaget bercampur sedih ketika membaca berita dengan headline “Nonmuhrim Haram Duduk Semeja”

Perempuan di ‘Ruang Terbelenggu’
SAIFANNUR, Bupati Bireuen

Sebentar lagi kita memasuki 2019, kita akan menghadapi pemilu. Seperti biasanya akan banyak para calon legislatif yang duduk dan bertemu di warung kopi. Kalau ini sudah dibatasi bagaimana para caleg perempuan di Bireuen bisa bebas berdiskusi. Apa lagi emak-emak dan janda-janda yang mencari sesuap nasi berjualan di warung kopi, kafe dan resto. Sedih ya mak? saya juga.

Ketika saya berdiskusi dengan seorang teman mengatakan bahwa ini hanya sebatas edaran. Boleh diikuti boleh juga tidak. Kalau demikian adanya, mengapa harus dibuat edaran itu? Sebagai perempuan, saya tahu kalau pejabat ingin melindungi kami perempuan, namun itu membatasi ruang kami sebagai perempuan yang bekerja, banyak diskusi, serta bertemu banyak orang di warung kopi.

Riset dan observasi
Tidak hanya itu, kami perempuan juga pencari nafkah. Mestinya, sebelum mengeluarkan edaran atau apa pun namanya, hendaknya riset terlebih dulu, observasi dan turun ke lapangan, serta diskusi dengan para aktivis perempuan, para perempuan pencari nafkah, masyarakat, pejabat terkait, ulama, serta pengusaha warung kopi, kafe dan restoran.

Atas hasil itulah, bapak membuat edaran tersebut. Kalau ruang gerak kami sudah dibatasi, di mana lagi kami harus berkreasi? Bagaimana lagi kami harus berdiskusi? Ke mana kami harus mencari rezeki? Apakah ketika kami ada urusan di Bireuen, harus keluar Bireuen dulu hanya untuk diskusi dengan yang bukan mahram? Sebegitu ngerikah dan tidak amannya kondisi Aceh buat perempuan, sehingga banyak peraturan yang dikeluarkan untuk perempuan?

Ada baiknya para bapak pejabat fokus dengan pejabat yang korupsi dan pejabat yang mesum. Buat surat edaran di setiap institusi. Biar negeri ini damai. Izinkanlah kami rakyat mencari rezeki dan tidak membatasi ruang gerak kami dalam berkreasi dan mencari nafkah. Biarkan masyarakat menikmati indahnya malam dan menikmati secangkir kopi di ruang publik. Pada masa konflik kita tidak bisa menikmati itu semua.

Semangat buat semua para perempuan di Bireuen terutama para calon legislatif, para pengusaha perempuan, para perempuan pencari rezeki. Para pejabat mungkin belum paham tentang perempuan. Mereka mungkin mau lihat the power of emak-emak zaman now, mampukah kita bertahan? Masa konflik saja kita mampu, apa lagi sekarang. Terima kasih buat bapak pejabat yang telah melindungi kami perempuan dengan caranya, jangan lupa bahagia. Nah!

* Siti Rahmah, penulis buku Jejak Setapak di Tanah Rencong, pemerhati masalah sosial dan perempuan. Email: srahmah83@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help