Proyek Strategis Nasional Bukan Untuk Menzhalimi, Tetapi Untuk Mensejahterakan Rakyat

“(Dia-lah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap dan Dia-lah yang menurunkan air (hujan)

Proyek Strategis Nasional Bukan Untuk Menzhalimi, Tetapi Untuk Mensejahterakan Rakyat
Senator Aceh, Ghazali Abbas Adan didampingi oleh Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera Ir T Maksal Putra MT bersilaturrahmi dengan Kepala Pusat Bendungan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR, Dr Ir Ni Made Sumiarsih M.Eng di Kantor Kementerian PUPR, Jakarta Rabu (5/9) sore. 

Kedua bendungan di Kabupaten Pidie ini memang bagian dari PSN seperti yang ada di lokasi beberapa daerah di Indonesia danuntuk pembangunan kedua bendungan tersebut ananya multy years dari APBN sekitar Rp 3.5 triliun,” jelas Ghazali.Konsisten dengan apa yang ia diskripsikan serta sebagai wajud nyata dari keseriusan dan kesungguhan dukungan terhadap pentingnya kedua bendungan tersebut demi kemakmuran dan esejahteraan rakyat Pidie, sekaligus upaya kerja profesionalmelaksanakan fungsi representasi yang merupakan salah satu tugas pokok dan fungsi (tupoksi) anggota parlemen, maka Ghazali Abbas Adan sebagai Senator Aceh pada Rabu(05/09/2018) sore kembali bertemu dan bersilaturrahmi dengan Kepala Pusat Bendungan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR Dr Ir Ni Made Sumiarsih M.Eng di Kantor Kementerian PUPR Jakarta.

Ia didampingi Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera Ir T Maksal Putra MT dan KasatkerBendungan Aceh Asyari. Anggota Badan Akuntabilitas Publik (BAP) DPD RI ini kembali menyatakan dukungannya terhadap pembangunan dua bendungan itu dan menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemerintah pusatdengan menjadikan proyek pembangunan Bendungan Tiro dan Rukoh sebagai bagian dari PSN di Pidie Aceh.

“Dengan terwujudnya dua bendungan ini kelak sebagian besar rakyat Pidie yang hidupnya dari sektor pertanian akan beroleh kemakmuran dan kesejahteraan, karena menurut data dari Balai Wilayah Sungai Sematera I, sebanyak 18.000 hektar tanah sawah di Kabupaten Pidie akan terairi. Betapa tidak, apabila selama ini belasan ibu hektar sawah di Pidie itu hanyamengharapkan sumber air yang tidak menentu (baik dari air sungai dan curahan hujan yang sporadis), Insya Allah dengan adanya dua bendungan itu ketersediaan airakan dapat dipenuhi, dikelola dan diberdayakan sesuai keperluan dan akan dapat ditanami padi dua kali dan satu kali palawija dalam setahun,” ungkap Ghazali.

Dalam silaturrahmi tersebut Ghazali Abbas secara bergantian dengan Ir T Maksalmina Putra MT dan Asyari menjelaskan dialektika dan dinamika proses usaha demi terwujudnya kedua endungan itu. Selain itu secara gamblang menyampaikanharapan rakyat Pidie (termasuk sebagaimana disuarakan tokoh-tokoh Generasi Muda Pidie) terutama masyarakat yang tanahnya menjadi lokasi bendungan jangan sampaimerasa dirugikan, apalagi sampai terzhalimi karena proyek tersebut.

Terhadap harapan tersebut Kepala Pusat Bendungan Direktorat JenderalSumber Daya Air Kementerian PUPR, Dr Ir Ni Made Sumiarsih M.Eng menyatakan bahwa sangat wajar dan manusiawi belaka muncul harapan yang demikian dari masyarakat, terutama yang tanahnya menjadi lokasi proyek dengan konsekuensi akan terjadi relokasi tempat tinggal.“Negara sebagai inisiator pembangunan tidak akan menzhalimi akyatnya tetapi justru sebaliknya, pembangunan bertujuan mensejahterakan rakyat, disertai harapan agar Pemprov Aceh dan Pemkab Pidie serta semua elemen masyarakat, wabil khusus masyarakat yang kampungnya menjadi lokasi proyek agar pro-aktif memberi dukungan penuh demi mewujudkan dua proyek nasional itu. Dan apabila sudah nyata wujud dukungan tersebut, maka segera pula berbagai prosesnya pun akan dilaksanakan,” jelas Ni Made Sumiarsih.

Mantan anggota MPR/DPR RI 1992- 2004 itu menambahkan agar apa yang disampaikan Kepala Pusat Bendungan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR tersebut benar-benar terwujud, yakni pembangunan kedua bendungan Tiro dan Rukoh bukan menzhalimi tetapi untuk mensejahterakan rakyat, maka mestilah semua elemen masyarakat harus terus menerus memantau dan mengontrol setiap tahapan proses pembangunannya.

“Apa yang dikehendaki oleh firman Allah sebagimana saya diskripsikan di atas, yakni air anugerah Allah yang diturunkan- Nya dari langit itu yang kemudian dikumpul, dikelola, dikendali dan diberdayakan oleh hamba-hamba-Nya, termasuk dengan caramembuat bendungan, baik secara dan wujud yang sederhana, maupun secara moderen berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih dengan anggaran yang besar sampai sekitar Rp 3.5 triliun sebagaimana konsep Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR termasuk bendungan Tiro dan Rukoh di Kabupaten Pidie, niscayalah tanah mati/ kering menjadi lahan subur yang dapat menyuburkan tanaman yang ditanam oleh hamba-hamba Allah,” kata Ghazali.Dengan demikian jelas anggota PanitiaUrusan Legislasi Daerah (PULD) DPD RI ini, maka sekitar 18.000 hektar sawah di Kabupaten Pidie akan menjadi subur sehingga dapat memberi kemakmuran dan kesejahteraan bagi hamba-hamba Allah di Kabupaten yang memang sebagian besar mereka menopang hidup dari sektor partanian, Insya Allah. “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib (taraf hidup) sesuatu kaum, sehinggalah kaum itu itu sendiri dengan sadar dan pro-aktif berusaha untuk mengubahnya” (QS, Ar-Ra’du, ayat 11)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved