Kajati Aceh Diganti

Jaksa Agung RI, HM Prasetyo melakukan rotasi dan promosi sejumlah pejabat di lingkungan Kejaksaan

Kajati Aceh Diganti
Tribunnews.com/ Valdy Arief
HM Prasetyo 

BANDA ACEH - Jaksa Agung RI, HM Prasetyo melakukan rotasi dan promosi sejumlah pejabat di lingkungan Kejaksaan Agung (Kejagung) RI. Salah satu yang masuk daftar rotasi dan promosi adalah Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Aceh, Dr Chaerul Amir SH MH menjadi Direktur Ekonomi dan Keuangan pada Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kejagung RI.

Dengan dipromosikannya Chaerul Amir ke Kejagung RI, posisi Kajati Aceh yang ditinggalkannya digantikan oleh Irdam SH MH yang selama ini sebagai Wakil Kajati Sumatera Barat di Padang. Chaerul Amir menjabat Kajati Aceh sejak 23 Oktober 2017. Sedangkan Irdam, menurut informasi belum pernah bertugas di Aceh.

“Iya benar, SK-nya sudah ada,” kata Asisten Intel Kejati Aceh, Mukhlis SH kepada Serambi, Sabtu (15/9). Informasi itu diketahui setelah beredarnya list nama-nama pejabat kejaksaan yang diganti oleh Jaksa Agung di media sosial.

Kepala Seksi Penerangan dan Hukum (Kasipenkum) Kejati Aceh, H Munawal SH menambahkan, jadwal serah terima jabatan (sertijab) belum bisa dipastikan. Saat ini, Chaerul Amir masih melaksanakan tugasnya sebagai Kajati Aceh. “Bapak masih bertugas seperti biasa,” ujarnya.

Sekadar informasi, meski baru setahun menakhodai Kajati Aceh, Chaerul Amir telah banyak gebrakan yang dilakukan dalam penanganan kasus korupsi. Mantan kepala Biro Hukum dan Hubungan Luar Negeri Kejagung RI ini pernah membentuk Tim Operasi Desember (Opdes) 2017 dan berhasil mengungkap beberapa kasus.

Di antaranya kasus dugaan korupsi pada proyek pembangunan pasar modern di Aceh Barat Daya (Abdya) senilai Rp 58,68 miliar. Saat ini kasus itu sedang dalam penyidikan. Menurut penyidik, salah satu indikasi penyimpangan yang mencuat dalam kasus ini adalah disubkontrakkan pekerjaan pokok pembangunan Pasar Modern.

Selain itu, Kejati Aceh juga telah mengandeng KPK untuk menuntaskan tunggakan kasus korupsi seperti kasus pengadaan alat kesehatan CT Scan dan Kardiologi di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh tahun 2008 dengan tersangka mantan direktur RSUZA, dr Taufik Mahdi SpOG dan mantan Kepala Bagian Sublayanan dan Program RSUZA, Toni.

Lalu, perkara dugaan korupsi pada Perusahaan Daerah Kabupaten Simeulue (PDKS) tahun 2002-2012 dengan tersangka mantan bupati Simeulue, Darmili dan perkara dugaan korupsi perencanaan pembangunan Kanwil Kemenag Aceh tahun 2015 dengan nilai kontrak Rp 1,1 milliar lebih dengan pagu anggaran Rp 1,2 miliar yang bersumber APBN 2015.

Ada dua tersangka dalam perkara Kemenag Aceh yaitu Y selaku PPK pada Kemenag Aceh dan HS selaku Direktur Utama PT Supernova Jaya Mandiri. Saat ini, penyidik sedang mendalami kasus ini dengan menggeledah kantor Kemenag Aceh dan kantor PT Supernova Jaya Mandiri serta menahan dirut perusahaan itu. (mas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help