Azhari Cagee: Krisis Lapangan Kerja Sebab Human Trafficking

Pihak kepolisian baru-baru ini berhasil membongkar kasus human trafficking atau tindak pidana

Azhari Cagee: Krisis Lapangan Kerja Sebab Human Trafficking
IST
Azhari Cagee 

BANDA ACEH - Pihak kepolisian baru-baru ini berhasil membongkar kasus human trafficking atau tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di kawasan Lhokseumawe. Kasus itu terungkap berawal dari laporan seorang perempuan muda berinisial N yang mengaku jadi korban perdagangan manusia ke Malaysia.

Ketua Komisi I DPRA, Azhari Cagee, mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih atas kerja cepat polisi, namun juga meminta penegak hukum itu membongkar semua dugaan kasus serupa hingga ke akar-akarnya, sehingga tak memakan korban lagi di kemudian hari.

“Kita apresiasi kerja polisi. Kasus ini memang sangat tidak bisa kita tolerir, kita prihatin dan malu ada warga Aceh yang diperdagangkan seperti ini hingga bekerja tidak pantas di negeri jiran. Kami juga mengingatkan semua masyarakat Aceh tidak mudah terbujuk rayuan orang lain yang menjanjikan pekerjaan dengan iming-iming gaji besar. Jika ada tawaran seperti itu, lebih baik dikroscek dulu kebenarannya,” kata Azhari Cagee kepada Serambi, kemarin.

Di sisi lain, ia mengatakan, kasus human trafficking ini harus menjadi perhatian khusus Pemerintah Aceh. Tidak hanya sebatas penangan hukum, tapi harus ada pemikiran cerdas dari Pemerintah Aceh dan Pemkab/Pemko untuk mencegah terjadinya kasus serupa di masa mendatang.

Menurut Azhari, adanya perempuan-perempuan Aceh yang ditipu lalu diperdagangkan dan menjadi pekerja seks komersil (PSK) seperti baru-baru ini, penyebabnya adalah krisisnya lapangan pekerjaan di Aceh, sehingga ketika ada tawaran bekerja di luar, maka sangat mudah diterima.

“Pemerintah dan DPRA harus mengambil sikap. Kasus human trafficking ini terjadi pada perempuan-perempuan Aceh karena krisisnya lapangan kerja di daerah kita, ini yang perlu diperhatikan. Ini masalah utama, kita jangan fokus pada penanganan hukum saja. Pemerintah harus membuka lapangan kerja, kita juga dorong Pemerintah Pusat untuk merealisasikan KEK Arun misalnya, agar bisa menampung masyarakat kita bekerja,” sarannya.

Seperti diberitakan Serambi sebelumnya, korban human trafficking di Lhokseumawe, N dan D, awalnya berangkat ke Malaysia akhir 2017 karena diajak seorang perempuan berinisial Fau (29), warga Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Fau menjanjikan keduanya untuk bekerja pada sebuah kafee di Malaysia dengan iming-iming gaji Rp 6 juta-Rp 8 juta/bulan. (dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved