Sining Gayo Resmi Tarian Aceh Tengah

Setelah punah sejak tahun 1942 atau masa peralihan dari penjajahan Belanda ke Jepang

Sining Gayo Resmi Tarian Aceh Tengah
DARI kiri kanan, Asisten II Setdakab Aceh Tengah, Mursyid, Ketua DPRK setempat, Ansaruddin Syarifuddin Naldin, Direktur Kerja Sama dan Pemberdayaan KI Kemenkumham RI, Dr Molan Karim, Peneliti Tari Sining Gayo, Salman Yoga, dan Kakanwil Kemenkumham Aceh, Agus Toyib, foto bersama seusai penyerahan surat pencatatan inventarisasi KI Komunal Ekspresi Budaya Tradisional terhadap Tari Sining Gayo di Kampus Unmuha Aceh, Banda Aceh, Senin (17/9). 

* Boh Giri Matang dalam Proses di Kemenkumham

BANDA ACEH - Setelah punah sejak tahun 1942 atau masa peralihan dari penjajahan Belanda ke Jepang karena tak pernah dimainkan lagi, Tari Sining Gayo kini resmi diakui sebagai tarian tradisional dari Aceh Tengah. Tarian dimainkan dua orang ini menceritakan tentang pembangunan rumah adat Gayo yang mengambil filosofi dari burung yang membangun sarangnya.

Pengakuan resmi ini menyusul penyerahan surat pencatatan inventarisasi Kekayaan Intelektual (KI) Komunal Ekspresi Budaya Tradisional terhadap tarian tersebut oleh Direktur Jenderal KI Direktorat Jenderal (Ditjen) KI Kemenkumham RI, Dr Freddy Haris yang diwakili Direktur Kerja Sama dan Pemberdayaan KI, Dr Molan Karim Tarigan kepada Ketua DPRK Aceh Tengah, Ansarudin Syarifudin Naldin, di Kampus Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Aceh, Banda Aceh, Senin (17/9).

Penyerahan itu seusai acara seremonial pembukaan Workshop KI bagi tenaga pengajar dan mahasiswa Unmuha, Unsyiah, dan UIN Ar-Raniry, Banda Aceh sekaligus penandatanganan perjanjian kerja sama tentang KI antara pimpinan ketiga kampus tersebut dengan Kakanwil Kemenkumham Aceh, Agus Toyib.

Agus Toyib ketika menjawab Serambi seusai acara seremonial ini mengatakan tari sining itu sudah sekitar delapan lalu diusul Salman Yoga ke Kanwil Kemenkumham Aceh untuk diakui sebagai KI Komunal Ekspresi Budaya Tradisional, sehingga pihak Pelayanan Hukum dan HAM Kanwil Kemenkumham Aceh meneruskan hal ini ke Ditjen KI Kemenkumham RI.

“Pak Salman Yoga adalah seniman asal Aceh Tengah yang meneliti tentang tari sining yang sebetulnya sudah punah itu. Penelitian dibiayai Kemendikbud itu dilakukan ke Belanda. Semua dokumen didapat di sana tentang tarian ini, ia rekonstruksi hingga menjadi sebuah tari sining yang utuh. Kemudian semua dokumen itu, ia serahkan ke kita sebagai syarat menjadi KI Komunal Bidang Budaya Tradisional dari Aceh Tengah yang dikeluarkan oleh Ditjen KI Kemenkumham RI,” jelas Agus Toyib.

Boh giri Matang
Didampingi Kadiv Pelayanan Hukum dan HAM Kanwil Kemenkumham Aceh, Sasmita MH, Agus mengatakan jika sudah mendapat pengakuan resmi seperti itu, maka KI Komunal suatu daerah, bahkan KI milik pribadi, tak bisa diklaim lagi milik daerah lain atau hasil karya orang lain. Oleh karena itu, ia mendorong Pemkab/Pemko se-Aceh menginventarisir setiap KI di daerah masing-masing untuk diusul ke Dirjen KI Kemenkumham RI melalui Bidang Pelayanan Hukum dan HAM Kanwil Kemenkumham Aceh guna mendapat surat pencatatan inventarisasi KI.

“Selain Pemkab Aceh Tengah dipimpin Pak Salman dalam pengajuan untuk mendapat pengakuan resmi terhadap tari sining tersebut, Pemkab Bireuen juga sudah mengajukan produk dari daerah itu, yaitu jeruk pamelo atau boh giri dari Matangglumpang Dua, Kecamatan Peusangan sebagai KI Komunal Bidang Geografis dari daerah tersebut. Saat ini sedang proses, tanah untuk penanaman boh giri dari Matang itu sudah dikirim ke Laboratorium Unsyiah dan hasilnya nanti akan kami kirim ke pusat,” timpal Sasmita.

Sasmita menambahkan jika nantinya sudah terbit surat pencatatan inventarisasi KI Komunal Bidang Geografis untuk boh giri Matangglumpang Dua itu, maka produk tersebut bisa dikemas lebih rapi untuk dikomersilkan, sehingga tak akan sama dengan jeruk sejenis dari daerah lain.

Kemarin, saat menerima Surat Pencatatan Inventarisasi KI berupa Tari Sining Gayo, Ketua DPRK Aceh Tengah, Syarifuddin Naldin didampingi Salman Yoga dan Asisten II Setdakab Aceh Tengah, Mursyid. Adapun acara workshop kemarin, menurut ketua panitia acara ini, Jailani MH, menampikan tiga pemateri, Dr Molan Karim Tarigan, Direktur Merek dan Indikasi Geografis Ditjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham RI, Fathlurrahman, dan Direktur Paten, Desain Tata Kelola Sirkuit Terpadu dan Rahasia Dagang, Dra Dede Mia Yusanti. Turut hadir dan memberi sambutan di awal acara ini kemarin, Rektor Unmuha, Muharrir Asy’ari.

Kemarin , di tempat yang sama, Serambi juga mewawancarai peneliti tari sining, Salman Yoga. Menurutnya, tarian yang diperkirakan sudah ada sejak adanya peradaban Gayo itu, punah sekitar tahun 1942 saat peralihan dari penjajahan Belanda ke Jepang.

Kemudian, dirinya meneliti ke Belanda tentang sejarah, filosofi, gerakan, musik, dan penampilan tarian ini, sehingga menjadi sebuah tarian utuh. Salman yang juga Dosen UIN Ar-Raniry, menjelaskan tarian ini antara lain menceritakan kebersamaan masyarakat Gayo membangun rumah adat yang diadopsi dari kebersamaan burung membangun sarangnya. Kemudian, kata Salman, tarian ini baru tiga kali dipentaskan, yaitu pada suatu even kesenian di Banda Aceh 2017, pelantikan Bupati/Wakil Bupati Aceh Tengah dalam tahun ini, dan saat pembukaan Pekan Kebudayaan Aceh di Banda Aceh, Agustus 2018. (sal)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved