Opini

Akademikus Korup

BAGI para akademikus, “isu” adalah kebutuhan esensial. Mereka memerlukannya agar bisa menyelenggarakan

Akademikus Korup

Oleh Bisma Yadhi Putra

BAGI para akademikus, “isu” adalah kebutuhan esensial. Mereka memerlukannya agar bisa menyelenggarakan penelitian. Karier bahkan kehidupan rumah tangga akademikus dalam waktu atau keadaan tertentu bisa sangat dipengaruhi oleh kemampuan mereka menangkap lalu meneliti isu sampai “tuntas”.

Misalnya, ada dosen yang sedang dalam kesusahan karena sebagian besar gaji pokoknya tersedot untuk pembayaran cicilan mobil atau kredit swagriya. Dia kemudian bekerja ekstra keras menggarap penelitian-penelitian agar memperoleh uang tambahan untuk menafkahi keluarga. Kalau ingin memperoleh uang dari penelitian, maka harus punya isu untuk diteliti dan bisa disajikan dalam karya ilmiah.

Untungnya ketersediaan isu tidak pernah langka. Di sepanjang jalan yang mereka lalui saat menuju ke tempat kerjanya berjajaran bermacam persoalan yang bisa diteliti. Bahkan sebenarnya para akademikus itu sendiri juga adalah isu/masalah yang bisa dan menarik diteliti, baik oleh sesama akademikus maupun mereka yang nonakademikus, misalnya orang-orang yang berprofesi sebagai petani, birokrat, pedagang, bahkan politikus sekalipun.

Kalau akademikus bisa meneliti perilaku korup birokrat, keculasan-keculasan politikus, atau kualitas kesehatan masyarakat di suatu tempat, misalnya, masyarakat atau kelompok profesi nonakademikus pun boleh mengamati, meneliti, atau hanya mengomentari akademikus. Hasil dari penelusuran tersebut terbuka pula untuk pelbagai temuan, entah itu perkara-perkara yang harus dikecam, disanggah, dinasihati, atau diapresiasi.

Saat kuriositas pada tindak tanduk akademikus sudah dipunyai masyarakat, penyelidikan bisa dimulai. Pekerjaan penting yang tidak bisa ditiadakan dalam hal ini adalah keharusan mereka banyak bertanya pada banyak anggota akademi guna meraih keterangan atas suatu perkara yang hendak diketahui.

Satu persoalan yang bisa diteliti adalah kesahihan anggapan khalayak bahwa akademikus tidak mungkin berperilaku buruk seperti politikus atau pejabat korup. Sekiranya isu ini yang dipilih, masyarakat harus bersiap menghadapi kenyataan bahwa tidak sedikit akademikus yang ternyata mengamalkan tindakan-tindakan tak mendidik atau amoral yang mereka tentang sendiri saat dipraktikkan para politikus. Masyarakat harus bersiap menghadapi temuan adanya akademikus korup, manipulatif, dan bahkan antiintelektualisme.

Perbedaan mencolok
Orang banyak bilang akademikus dan politikus punya perbedaan cukup mencolok. Dalam banyak hal, terutama tingkat inteligensi, kualitas karakter, dan moralitas, akademikus dikatakan unggul telak. Yang satu guru, dianggap bijaksana karena hanya mengajarkan kebaikan. Yang satu lagi jaharu, dianggap durjana karena lebih banyak mengajarkan kebejatan.

Biasanya yang bicara begitu adalah mereka yang melihat banyak di dunia politik praktis, tetapi sedikit sekali mengetahui perilaku orang-orang di perguruan tinggi. Mereka tidak memperoleh gambaran realitas dari kedua ruang tersebut dalam kadar setara. Karena itulah semua akademikus kemudian dianggap pengajar kebaikan semata, dianggap berbeda sekali dengan para politikus yang penuh kelicikan dan kepalsuan.

Bahwa tindak-tanduk culas tak mungkin bisa mendapat tempat pada setiap orang yang menjadi akademikus, itu salah besar. Bahwa perangai korup atau kegemaran memanipulasi adalah hal yang khusus hanya ada pada politikus, tidak mungkin ada pada akademikus, juga tidak benar. Setiap orang yang kemudian menjadi akademikus tidak lantas otomatis terisolasi dari kelakuan-kelakuan jahat. Sifat-sifat yang dianggap bertolak belakang dengan “keluhuran” akademikus ternyata ada pula pada akademikus itu sendiri.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help