Mihrab

Mau Pahala Selamat, Jauhi Ghibah dan Namimah

HATI bagi seorang manusia muslim menjadi faktor utama dalam meraih kesuksesan dalam kehidupan

Mau Pahala Selamat, Jauhi Ghibah dan Namimah
Edi Syuhada

HATI bagi seorang manusia muslim menjadi faktor utama dalam meraih kesuksesan dalam kehidupan di dunia dan keselamatan di akhirat kelak. Ia bagaikan seorang komandan, jika ia baik, maka prajuritnya akan diatur menjadi baik. Namun sebaliknya apabila ia jahat, maka terbentuklah prajurit-prajurit yang jahat.

Hal ini sebagaimana ungkapan Rasulullah dalam sabdanya, “Dalam diri manusia ada segumpal daging yang kalau itu baik maka baiklah segalanya, jikalau itu rusak maka rusaklah segalanya, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati”.

Memiliki hati yang bersih dan sehat (qalbun salim) merupakan hal terpenting yang harus dibawa ketika menghadap Allah SWT. Sedangkan memelihara hati yang kotor dan berpenyakit (qalbun maridh) justru menjadi penyebab kesengsaraan dan penderitaan berkepanjangan di akhirat kelak.

Wakil Direktur Dayah Darul Ihsan Tgk. Hasan Krueng Kale, Siem, Aceh Besar, Tgk. Edi Syuhada mengungkapkan, hati yang kotor karena permasalahan dalam kehidupan sesama manusia, berdampak lahirnya penyakit batin. Di antaranya akibat perbuatan ghibah (gosip/menggunjing) dan namimah (adu domba) serta mengatakan dan menyebarkan kebohongan di tengah-tengah umat.

“Penyakit batin yang berbahaya di antaranya ghibah dan namimah. Kita tidak akan selamat kelak di hadapan Allah jika sampai akhir hayat masih membawa dosa ini, sebelum kita minta maaf dan dimaafkan oleh orang kita gunjingkan dan korban dari adu domba tersebut,” ujar Tgk. Edi Syuhada saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak Jeulingke, Rabu (19/9) malam.

Pentingnya membawa hati yang salim ketika menghadap Allah juga ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat As-Syu’ara ayat 88-89, yang artinya, “Yaitu pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”.

Ghibah dan namimah sendiri merupakan perbuatan yang sering kali menggelincirkan kaum muslimin sehingga gagal memiliki hati yang bersih. Hal ini dikarenakan kedua perbuatan ini sering terjadi tanpa kita sadari.

Tgk. Edi Syuhada menjelaskan, ghibah adalah membicarakan keadaan seseorang yang sekiranya keburukan itu sampai ke telinga orang yang dibicarakannya, ia tidak suka. Meskipun yang berghibah itu tidak bermaksud menjelekkannya. Baik tentang jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, akhlaknya, bentuk lahiriahnya dan sebagainya.

Caranya-pun bermacam-macam, di antaranya membeberkan aib (keburukan/cacat/kekurangan), menirukan gerak tertentu dari orang yang dijelekan dengan maksud mengolok-ngolok. Yang harus diwaspadai, dosa ghibah juga berdampak pada pahala ibadah yang telah susah payah kita tabung selama ini, akhirnya berpindah ke orang yang kita bicarakan. Akhirnya tabungan pahala kita selama ini lenyap tidak tersisa alias bangkrut.

Setelah ghibah, dipastikan akan timbul suu’zhan (buruk sangka). Setelah itu timbul hasud, kemudian pasti akan terjangkit namimah. Setelah itu timbul penyakit hati lainnya.

“Jadi sebaiknya, kalau kita mendengar ceramah agama, pengajian, atau nasihat apapun, jangan melihat kepada orang lain. Tunjukanlah bahwa nasihat atau anjuran itu untuk kita sendiri. Ketika kita mendengar ceramah untuk selalu beribadah dan berakhlak mulia, langsung katakan dalam hati bahwa ibadah kita masih kurang dan akhlak kita belum baik, jangan menunjuk kekurangan orang lain,” ujar Tgk Edi Syuhada.(nal)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved