Solar Subsidi Langka

Persediaan bahan bakar minyak (BBM) jenis biosolar di sebagian wilayah Aceh dalam empat bulan terakhir

Solar Subsidi Langka
KENDARAAN antrean untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Lambhuk, Banda Aceh, Kamis (20/9) sore. 

* Awak Angkutan Mengeluh

MEULABOH - Persediaan bahan bakar minyak (BBM) jenis biosolar di sebagian wilayah Aceh dalam empat bulan terakhir langka. Pasokannya juga macet-macet alias tidak lancar, seperti terjadi di Aceh Barat, Kota Banda Aceh, Lhokseumawe, dan Aceh Utara dalam pekan ini. Solar yang disubsidi pemerintah itu juga sering tidak tersedia di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Alhasil, pemilik kendaraan, terutama kendaraan angkutan umum, terpaksa menggunakan solar nonsubsidi jenis dexlie yang harganya jauh lebih mahal.

Amatan Serambi, Kamis (20/9) di Meulaboh, ibu kota Aceh Barat, terdapat empat SPBU masing-masing di Kuta Padang, Manekroo, Pasi Pinang, dan Suak Raya. Semua SPBU tersebut menjual biosolar (subsidi) dengan harga Rp 5.150/liter dan dexlie (nonsubsidi) Rp 9.000/liter. Namun, biosolar terkadang terlambat dipasok oleh Pertamina sehingga angkutan, terutama minibus L-300, sehingga awak angkutan terpaksa beralih ke dexlie yang lebih mahal.

Di Banda Aceh, keluhan sopir dan pengusaha angkutan itu bahkan dibahas dalam rapat yang digagas Dewan Pimpinan Cabang Organisasi Angkutan Darat (DPC-Organda) Kota Banda Aceh, Selasa (18/9) dengan melibatkan 23 peserta rapat dari kalangan pengusaha angkutan.

Ketua DPD Organda Aceh, H Ramli mengatakan, dalam empat bulan terakhir para sopir angkutan pelat kuning sulit mendapatkan solar subsidi di SPBU-SPBU dengan harga Rp 5.150/liter. Namun, karena kelangkaan biosolar tersebut, sopir pun harus beralih dan seperti “dipaksa” menggunakan BBM jenis Pertamina Dex yang harganya dua kali lipat dari harga solar subsidi, yakni Rp 10.500/liter.

“Ini dilema bagi sopir dan pengusaha angkutan, karena sejauh ini ongkos masih normal, sedangkan biaya operasional semakin besar akibat kelangkaan solar maupun premium di lapangan,” ujar Ramli kepada Serambi, Kamis (20/9).

Tarif normal dengan kondisi kelangkaan solar yang telah dirasakan selama empat bulan terakhir, lanjut Ramli, masih diberlakukan semua angkutan, mulai dari bus antarkota antarprovinsi (AKAP), serta angkutan kota dalam provinsi (AKDP) jenis minibus L-300.

“Berdasarkan kondisi di lapangan serta apa yang pernah kami tanyakan kepada petugas SPBU, mereka menjawab bahwa penyebab kelangkaan itu salah satunya adalah karena ada pengurangan jatah BBM jenis solar dan premium ke SPBU-SPBU. Misalnya, dari 16.000 kiloliter dikurangi menjadi 8.000 kiloliter,” sebutnya.

Lalu pertanyaannya, kata Ramli, pengurangan BBM bersubsidi itu, baik biosolar maupun jenis premium seharusnya disalurkan tepat sasaran kepada mereka yang membutuhkan. “Patut kita pertanyakan, peruntukkannya kepada siapa? Kami tidak menuding siapa yang menggunakan jatah solar subsidi yang dikurangi itu. Tapi, begitulah kondisinya saat ini dan sudah berlangsung empat bulan terakhir,” ujarnya.

Ia tambahkan bahwa solar subsidi itu langka sehingga dari 601 jumlah bus AKAP dan 4.377 unit jenis AKDP serta 6.577 unit truk yang seluruhnya pelat kuning dan berada di bawah Organda Aceh, harus beralih ke Pertamina Dex.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved