Kalau Dilaporkan Langka Berarti Ada yang Salah

Bendahara Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (DPC Hiswana Migas)

Kalau Dilaporkan Langka  Berarti Ada yang Salah
SERAMBINEWS.COM/ZAINUN YUSUF
Mobil tangki Pertamina yang mengangkut 16.000 liter solar tiba di SPDN Kompleks PPI Ujung Serangga, Susoh, Kabupaten Abdya, Sabtu (19/8/2017) sore. 

BANDA ACEH - Bendahara Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (DPC Hiswana Migas) Aceh, H Nahrawi Noerdin, mengatakan menurut data Pertamina Aceh, kuota bio solar di Aceh selama tiga bulan terakhir bertambah dengan rata-rata penyaluran 1.027 kiloliter/hari.

“Bahkan penyaluran dalam bulan ini di Aceh, sampai tanggal 15 September 2018 sudah di angka 1.110 kiloliter/hari yang menunjukkan peningkatan 83 kiloliter/hari,” ujar Nahrawi menanggapi laporan Organda Aceh terkait sulitnya mendapatkan solar subsidi, kepada Serambi, Jumat (21/9),

Menurut Awi, sapaan akrab Nahrawi Noerdin, pasokan ada di kisaran 970-1.000 kiloliter/hari. Jika dipersentasekan dari realisasi harian bulan lalu, kini terjadi peningkatan sekitar 14 persen. “Jadi, ketika disebutkan bio solar subsidi langka, pasti ada sesuatu yang salah, sementara penyalurannya terus bertambah,” ungkapnya,

Bahkan, lanjut Awi, 97 persen pasokan gasoil (bahan bakar mesin disel) di Aceh, didominasi bio solar subsidi. Di samping bio solar, menurutnya ada produk lain yang dapat dijadikan alternatif dan harganya lebih murah, yakni BBM jenis dexliter Rp 9.000/liter, mungkin bila dibandingkan Pertamina Dex Rp 10.500/liter. “Harus diakui Pertamina Dex yang harganya mencapai dua kali lipat dari solar subsidi kualitasnya tentu lebih baik. Tapi ada produk lain yang tersedia selalu di SPBU di Aceh, yaitu Dexlite Rp 9.000/liter,” sebut Awi.

Terkait pengharapan sopir dan pengusaha angkutan supaya penyaluran solar subsidi harus tepat sasaran, Hiswana Migas Aceh menegaskan sepakat dengan hal tersebut.

Karena itu, lanjut Awi, Hiswana Migas sebagai organisasi yang menghimpun para pengusaha SPBU itu juga siap membantu mencari solusi terbaik menghadapi permasalahan penyaluran ini.

“Masalah penyaluran ini adalah masalah kita semua, jadi mari kita bersinergi mencari solusi terbaik. Organda Aceh juga tentu punya data tentang jumlah armada dan kebutuhan bahan bakarnya yang dapat menjadi masukan bagi Pertamina dalam menentukan kuota solar bersubsidi untuk Aceh. Kami dari Hiswana Migas juga siap menjembataninya,” pungkas Awi.(mir)

data dan fakta
bbm bersubsidi

* Stok bensin dan solar sering habis karena jumlah yang disalurkan Pertamina ke SPBU tidak sesuai order
* Misalnya SPBU mengorder premium 16-24 kiloliter atau setara 16.000-24.000 liter/hari, yang dipenuhi hanya 8 kiloliter (8.000 liter) atau sepertiga dari permintaan. Begitu juga solar, diorder 16-24 kiloliter yang dipenuhi 8 kiloliter
* Permintaan premium dan solar dalam beberapa bulan terakhir meningkat sangat tinggi
* Tingginya permintaan premium karena harga Pertalite mencapai Rp 7.800/liter sedangkan premium Rp 6.550/liter atau selisih mencapai Rp 1.350/liter
* Begitu juga solar, selisih harga dengan dexlite lebih tinggi lagi yaitu mencapai Rp 3.500/liter sedangkan harga bio solar masih tetap Rp 5.150/liter dan dexlite Rp 9.000/liter.
* Stok premium dan solar di Depo Pertamina Krueng Raya, Aceh Besar, hingga Jumat (21/9), premium sekitar 2.700 kiloliter lagi dan solar 518 kiloliter
* Menurut pihak Depo Pertamina Krueng Raya, belakangan ini ada kenaikan permintaan premium dan bio solar sekitar 3-5 persen dari penyalurannya 200-300 kiloliter/hari.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved