Pertamina Batasi BBM Subsidi

Penyebab kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar bersubsidi di sejumlah wilayah Aceh

Pertamina Batasi BBM Subsidi
KENDARAAN antrean untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Lambhuk, Banda Aceh, Kamis (20/9) sore. 

BANDA ACEH - Penyebab kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar bersubsidi di sejumlah wilayah Aceh masih belum diketahui secara pasti. Namun dugaan sementara karena pasokan dari Pertamina ke SPBU tak sesuai order.

Laporan bahwa Pertamina tidak memasok BBM bersubsidi sesuai order diungkapkan oleh sejumlah petugas SPBU di Banda Aceh dan Aceh Besar kepada Wakil Ketua DPRA, Sulaiman Abda, Jumat (21/9).

“Stok bensin dan solar sering habis karena jumlah yang disalurkan Pertamina ke SPBU tidak sesuai order. Misalnya SPBU mengorder premium 16-24 kiloliter atau setara 16.000-24.000 liter/hari, yang dipenuhi hanya 8 kiloliter (8.000 liter) atau sepertiga dari permintaan. Begitu juga solar, diorder 16-24 kiloliter yang dipenuhi 8 kiloliter,” kata Sulaiman Abda mengutip hasil wawancaranya dengan pihak SPBU.

Sulaiman Abda juga mendapat laporan dari salah seorang sumber di SPBU yang menyebutkan kalau yang diantar oleh Pertamina hanya 8 kiloliter (8.000 liter), dalam waktu dua jam premium dan bio solarnya habis, setelah itu penjualan kedua jenis BBM itu distop lagi.

Berbeda dengan BBM bersubsidi, ternyata BBM non-subsidi seperti Pertalite, Pertamax, Dexlite, tersedia berapa pun yang diminta SPBU.

Masih menurut keterangan pihak SPBU kepada Sulaiman Abda, permintaan premium dan solar dalam beberapa bulan terakhir meningkat sangat tinggi. Salah satu penyebabnya tingginya permintaan premium karena harga Pertalite mencapai Rp 7.800/liter sedangkan premium Rp 6.550/liter atau selisih mencapai Rp 1.350/liter.

Begitu juga solar, selisih harga dengan dexlite lebih tinggi lagi yaitu mencapai Rp 3.500/liter sedangkan harga bio solar masih tetap Rp 5.150/liter dan dexlite Rp 9.000/liter.

“Truk angkutan pasir, angkutan sembako, pikap selalu minta bio solar, jarang dexlite yang harganya mencapai Rp 9.000/liter. Karena selisih harga yang cukup tinggi itulah para sopir angkutan barang, penumpang, bahkan mobil pribadi lebih mau antre untuk mendapatkan premium atau solar,” kata Sulaiman Abda melaporkan hasil penelusurannya.

Masih menurut penelusuran Sulaiman Abda, penjulan premium dan bio solar di SPBU belakagan ini baru dibuka pada waktu sepi yaitu menjelang shalat ashar atau setelah shalat magrib. Kondisi itu, menurut Wakil Ketua DPRA tersebut terlihat antara lain di SPBU Luengbata dan SPBU arah Lambaro. Kebijakan seperti ini dilakukan SPBU karena kuota premium dan solar yang diberikan Pertamina hanya 8.000 liter/hari.

“Penambahan kuota premium dan bio solar memang ada, tapi dilakukan kalau ada acara atau even besar di daerah seperti pada pelaksanaan PKA beberapa waktu lalu. Itu pun penambahannya pada hari Senin dan Jumat sedangkan Sabtu dan Minggu tidak ada penyaluran.

Ironisnya, lanjut Sulaiman, untuk BBM di luar bensin dan solar, berapapun diminta, pihak Pertamina langsung memenuhi.

Melalui Wakil Ketua DPRA, Sulaiman Abda, pihak SPBU menyarankan kepada pemerintah, kalau sudah tidak sanggup lagi mensubsidi harga jual bio solar dan premium, ada baiknya dihapus saja tapi BBM premium dan bio solar tetap dijual dengan harga standar pasar nasional.(*/her)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help