Citizen Reporter

Salzburg dan Pesona Mozart

BARANGKALI ketika mendengar Austria, langsung saja asosiasi pikiran banyak orang tertuju kepada Wina atau Vienna

Salzburg dan Pesona Mozart
DR NAZAMUDDIN, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, melaporkan dari Salzburg, Austria

DR NAZAMUDDIN, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, melaporkan dari Salzburg, Austria

BARANGKALI ketika mendengar Austria, langsung saja asosiasi pikiran banyak orang tertuju kepada Wina atau Vienna karena beberapa organisasi PBB bermarkas di kota ini. Sementara, Salzburg lebih dikenal sebagai kota wisata yang sepanjang tahun ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai bangsa.

Kota yang mempunyai sejarah panjang ini tidak terlepas dari nama besar musisi Wolfang Amadeus Mozart, komposer musik klasik yang lahir, hidup, dan berkarya di kota ini pada abad ke-18. Salzburg juga menjadi terkenal pada tahun 1960-an karena film musikal The Sound of Music yang laku keras di dunia pada zaman itu.

Terbelah oleh Sungai Salzach (disebut Sungai Salzburg) dan dibentengi oleh gunung sekitarnya, Altstadt (kota tua) adalah bauran antara keindahan alam dengan keindahan arsitektur dan kekayaan sejarah. Maka tidak heran Altstadt menjadi titik destinasi sentral para wisatawan di Kota Salzburg. Terdaftar sebagai Unesco World Heritage Site tahun 1997, Altstadt menyimpan bukti sejarah panjang melalui ornamen-ornamen arsitektur baroque, yakni ukiran indah dan detail pada setiap lekukan bangunan kuno yang terus terpelihara dengan baik. Sudah pasti pelancong yang ke sini tidak melewatkan momen berswafoto di depan rumah kelahiran Mozart, sosok yang pesonanya masih terasa hingga kini. Di sekitar rumah itu berjejer banyak restoran, toko souvenir, toko-toko barang bermerek, dan hotel-hotel yang tentunya dengan harga yang dapat menguras dompet yang agak tipis.

Di atas gunung yang melingkari sekitar kota terdapat benteng Hohensalzburg, salah satu kastel terbesar di Eropa pada abad pertengahan, sekarang jadi destinasi wisata penting di sini.

Tidak itu saja, di sini juga berdiri satu universitas besar University of Salzburg yang berusia hampir 400 tahun. Di sinilah saya mengikuti konferensi yang bertema 2018 Salzburg Conference in Interdisciplinary Poverty Research pada 13-14 September 2018. Tentu saya tidak hendak menguraikan tentang apa yang dibicarakan dalam konferensi ini. Itu bagian kajian ilmiah para akademisi tentang kemiskinan yang ternyata bukan saja menjadi isu besar di negara-negara miskin dan sedang berkembang, tetapi juga menjadi isu di negara-negara maju yang dikaji oleh para akademisi. Antara lain adalah ketimpangan desa-kota, keadilan antarkelompok penduduk, pengemis dan gelandangan hingga masalah-masalah ruang kumuh (slums) di perkotaan. Berbagai latar belakang ilmuwan berkumpul dan mendiskusikan kemiskinan dari beragam dimensi: geografi, politik, sejarah, ekonomi, filsafat, dan sebagainya.

Kembali kita telusuri Salzburg untuk menjadi contoh yang patut ditiru oleh kota-kota di Indonesia, khususnya Banda Aceh yang sudah menjadi destinasi wisata penting akhir-akhir ini. Sepatutnyalah Banda Aceh menghidupkan kembali kota tua Banda Aceh yang sekarang seperti tidak berbekas. Mungkin kawasan Peulanggahan hingga sekitar Peunayong dan Krueng Aceh dapat dibenahi menjadi kawasan “kota tua” yang hidup dan menarik untuk dikunjungi wisatawan. Banyak kota di Indonesia sudah membenahi kota tua mereka, seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Banda Aceh dengan sungai yang membelah kota akan menjadi sangat atraktif jika sungai bersejarah dan indah ini dijadikan “Waterfront City”, kota yang menghadap air, bukan kota yang membelakangi air. Ketika Belanda membangun Koetaradja, Krueng Aceh adalah serambi kota.

Lihatlah Gedung De Javasche Bank yang sekarang menjadi Kantor Bank Indonesia Banda Aceh, Gedung Hollandsch-Inlandsche School (HIS) yakni sekolah menengah Belanda yang sekarang jadi markas Kodam Iskandar Muda, keduanya menghadap sungai. Kedua gedung ini sebenarnya juga terhubung dekat dengan stasiun kereta api (sekarang menjadi Barata Mal di depan Masjid Raya Baiturrahman). Kenapa setelah Indonesia merdeka, sungai justru dijadikan tempat buangan limbah dan dibelakangi oleh gedung-gedung? Kenapa bangunan-bangunan kuno berarsitektur tua di sekitar Penayong yang semestinya dilestarikan, dibiarkan sedikit demi sedikit hilang begitu saja, seolah tak ada sejarah yang perlu dikenang?

Sungai Salzburg menjadi waterfront city yang tertata indah. Pinggiran kiri dan kanan sungai berhadapan bangunan-bangunan kuno dan sebagian modern yang berbaur serasi. Sungai jadi bersih, antara satu sisi dengan seberangnya dihubungkan oleh jembatan, sebagian hanya untuk pejalan kaki. Alangkah indahnya juga jika antara kawasan depan Hotel Lading dan kawasan Hotel Medan terhubung dengan jembatan untuk pejalan kaki. Kawasan wisata kuliner dapat dihidupkan kembali. Maka, saya yakin kawasan itu akan berkembang menjadi kawasan wisata baru daripada membangun taman-taman yang tidak dilalui oleh manusia di beberapa tempat sepanjang Krueng Aceh dan Krueng Daroy. Apalagi antara satu dan lainnya tidak terintegrasi. Kawasan wisata yang hidup di banyak kota biasanya lintasan laluan orang-orang karena ada kegiatan lain, misalnya hotel, restoran, toko souvenir, dan lain-lain. Jarang orang datang khusus ke taman pinggir sungai untuk duduk-duduk.

Satu lagi yang dapat ditiru dari Kota Salburg, Austria, adalah transportasi umum yang sangat baik dengan jaringan yang luas ke segala penjuru kota dan luar kota hingga ke bandara. Melalui internet sebelum berangkat saya membeli Salzburg Card. Dengan harga 43 euro, kartu ini berlaku selama tiga hari naik Obus ke mana saja, termasuk transportasi dari Bandara ke Hupbahnhof (stasiun kereta api) yang juga terintegrasi dengan terminal bus kota. Kartu ini juga dapat digunakan untuk masuk gratis ke tempat-tempat wisata. Sungguh suatu sistem yang terintegrasi. Agaknya lebih efisien dibandingkan jika beli tiket bus per perjalanan dan harus bayar lagi ketika masuk tempat wisata. Informasi tentang rute dan harga menurut jumlah hari yang dipilih juga dengan mudah bisa dilihat di situs Tourismus Salzburg (Dinas Pariwisata Salzburg).

Dari terminal bus, cukup naik bus nomor tertentu yang melewati alamat yang dituju. Google maps kadangkala membantu dalam menunjukkan arah dan waktu tempuh. Jika ragu, tempat bertanya juga dengan mudah ditemukan. Di sekitar terminal bus selalu ada petugas Obus berseragam yang siap membantu, bahkan dalam tas kecil mereka selalu ada tiket yang siap dijual. Tidak perlu ragu karena mereka bukan calo, tapi petugas resmi. Tiket juga bisa dibeli di mesin tiket atau di toko-toko, biasanya di toko majalah dan toko rokok.

Di Hupbahnhof juga ada konter petugas yang selalu siap melayani, menjelaskan, dan membagi peta dan brosur-brosur gratis. Naik Obus di Salzburg sangatlah mudah dan waktu keberangkatan dan tiba di setiap halte biasanya tepat waktu, kalaupun bergeser biasanya hanya sekitar 1 hingga 2 menit. Ketepatan waktu, sopir berseragam, dan siap melayani, bus yang bersih, rute yang banyak dan mudah diakses adalah ciri-ciri transportasi publik di seluruh Eropa, lagi pula tidak ada polusi karena menggunakan listrik, bukan bahan bakar fosil.

Nah, bagaimana dengan Transkoetaradja (TransK)? Terkesan yang naik TransK selama ini adalah mereka yang tidak perlu mengejar waktu atau bukan pegawai. Pegawai yang ke kantor atau anak-anak sekolah tetap menggunakan kendaraan pribadi. Penumpang TransK justru ramai pada hari-hari libur untuk jalan-jalan ke pusat kota. Lagi-lagi bukan transportasi publik untuk digunakan sehari-hari ke tempat kerja atau sekolah. Memang kita masih jauh dari kondisi dan kemampuan dibandingkan dengan kota-kota di negara maju. Tapi paling tidak ada langkah bertahap menuju ke arah pelayanan transportasi publik yang sebenarnya diharapkan ketika direncanakan pada awalnya.

Mengamati dan belajar dari Kota Salzburg, Austria, satu pelajaran penting yang dapat diambil untuk Banda Aceh adalah mengintegrasikan sistem transportasi publik dengan pelayanan masyarakat sendiri dan pelayanan untuk wisatawan menuju dan menikmati destinasi wisata. Sangatlah penting diingat bahwa sektor pariwisata merupakan peluang sumber lapangan kerja yang terbuka luas dan dapat menjadi penyumbang pendapatan yang besar dalam perekonomian kota. Maka, pelayanan harus menjadi nomor satu.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved