Salam

Solar dan Premium Langka, Ulah Siapa?

Sejak Pertamina gencarkan memasarkan produk-produk baru bahana bakar minya (BBM) seperti Pertamax, Pertalite, Pertaminadex, Biosolar

Solar dan Premium Langka, Ulah Siapa?
Petugas beraktivitas di Terminal BBM Krueng Raya, Aceh Besar, Rabu (21/6). PT Pertamina MOR I menambah persediaan BBM jenis bensin, pertalite, pertamax, solar, dan biosolar antara tiga hingga 23 persen dari jumlah pemakaian harian di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, dan Kepulauan Riau. ANTARA/Irwansyah Putra 

Sejak Pertamina gencarkan memasarkan produk-produk baru bahana bakar minya (BBM) seperti Pertamax, Pertalite, Pertaminadex, Biosolar dan lain-lain, masyarakat konsumen BBM berekonomi lemah di Aceh tidak pernah lancar memperoleh solar dan premium bersubsidi. Sebab, sejak tiga tahun terakhir, untuk memasarkan produk barunya yang nonsubsidi, Pertamina sudah mengurangi 50 persen jatah BBM untuk Aceh.

Oleh sebab itulah, masyarakat sangat sulit memperoleh BBM berharga murah itu. Jika pun ada, solar dan premium itu akan habis dalam waktu satu atau dua jam saja sehari. Bahkan, di sejumlah SPBU, sudah lama tak tersedia lagi pompa BBM jenis solar dan premium. Sedangkan di tempat lainnya cuma tersedia satu pompa, dari sebelumnya ada yang mencapai enam pompa premium dan solar di setiap SPBU.

Celakanya, kini pihak SPBU juga lebih gentol menjual BBM nonsubsidi karena keuntungannnya memang jauh lebih besar ketimbang menjual premium dan soler. Makanya, para nelayan, sopir kendaraan angkutan umum, dan masyarakat kecil pada umumnya sudah terpaksa mengonsumsi BBM orang kaya. Dan, masyarakat kelas bawah itu setiaop hari mengeluh ketika akan mengisi BBM. Artinya, pemerintah harus memikirkan kebijakan baru, sebab pembatasan pasokan BBM

bersubsidi kenyataannya sangat membebani masyarakat.

Terkait dengan kelangklaan BBM bersubsidi yang sengat dikeluhkan oleh masyaralat kelas bawah, ada beberapa pertanyaan yang ingin kita ajukan kepada pemerintah dan Pertamina. Pertama, kita juga mempertanyakan, apa memang boleh kini banyak SPBU tidak lagi menyediakan BBM bersubsidi? Bukan cuma BBMnya yang tidak ada, tapi pompanya juga sudah tidak ada lagi.

Kedua, kita juga mempertanyakan, mengapa pembatasan BBM bersubsidi harus terjadi di Aceh. Padahal, Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak hanya berlaku untuk pulau Jawa, Madura, dan Bali.

Sedangkan di luar ketiga pulau itu, pemerintah menugaskan Pertamina untuk menyalurkan premium dan solar yang berharga murah sesuai kebutuhan. Apa memang ada aturan baru lagi yang membolehkan pengurangan pasokan BBM berharga murah ke Aceh?

Dan, ketiga kapan masyarakat Aceh akan bisa memperoleh BBM berharga murah secara lancar setiap hari?

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved