Eksistensi Ungkapan Berbahasa Aceh

Lagee naga pajôh gapu ‘Seperti naga makan kapur sirih’ Ungkapan ini diucapakan elite politik Aceh

Eksistensi Ungkapan Berbahasa Aceh
DOK.SERAMBINEWS.COM
Kain sarung dengan label berbahasa Aceh. 

Oleh: Muhammad Iqbal, M.Pd., Dosen Tadris Bahasa Indonesia, FTIK, IAIN Lhokseumawe.

Lagee naga pajôh gapu ‘Seperti naga makan kapur sirih’ Ungkapan ini diucapakan elite politik Aceh, Apa Karya, untuk menggambarkan polemik APBA 2018 (Serambi Indonesia, 15/03/18).

Ungkapan sebagai kekayaan budaya merupakan satu khazanah budaya yang patut dilestarikan. Pelestariannya karena ungkapan berbahasa Aceh memiliki fungsi tertentu dalam masyarakat sehingga ungkapan digunakan ketika berkomunikasi.

Ungkapan berbahasa Aceh eksis karena memiliki kesinambungan antara komunikasi dan implementasinya dalam kehidupan bermasyarakat. Eksistensi ungkapan ini digunakan sebagai kritik sosial, bimbingan, dan nasihat guna mempererat persatuan dan kesatuan dalam bingkai budaya Indonesia. Ungkapan ini eksis sebab mampu mengedukasi penutur secara tidak sadar dan menyeluruh.

Sosiolinguistik merupakan alat untuk mengkaji bahasa dengan memperhitungkan hubungan antara bahasa dan masyarakat, khususnya masyarakat penutur bahasa itu. Setiap penutur mempunyai maksud tersendiri ketika berkomunikasi dalam konteks masyarakat. Maksud itu akan terlihat melalui kacamata sosiolinguistik.

Ungkapan berkembang dengan kalimat pendek yang disarikan dari pengalaman panjang. Ungkapan dapat dijadikan sebagai suatu kesimpulan ketika berkomunikasi. Kelompok kata ini secara khusus digunakan untuk mengantar maksud dengan arti kiasan yang dituturkan selembut mungkin dan mudah dipahami.

Ungkapan lahir berdasarkan pengalaman-pengalaman hidup seseorang dan diterjemahkan sebagai sesuatu yang memiliki nilai dalam pandangan dan pikiran, selanjutnya mampu mentransformasikan (ditularkan) kepada orang lain.

Maksud yang terkandung dalam ungkapan di Aceh begitu bervariasi. Seluruh ungkapan harus dipahami dan dikorelasikan dengan pengalaman sehari-hari untuk memahami maksud yang disampaikan. Keutuhan makna tersirat dibalik katakata dan perumpamaan yang dipakai mengggambarkan budaya yang ada di suatu tempat ungkapan itu dilahirkan.

Salah satu kelebihan ungkapan, yaitu maknanya mencakupi berbagai hal, misalnya, nilai pendidikan. Nilai pendidikan pun tidak sempit pada ruang lingkup belajar-mengajar saja, melainkan cakupannya sampai pada tatanan keluarga, alam, masyarakat, dan bahkan sampai pada fenomena alam yang fenomena itu bermanfaat bagi masyarakat seperti fenomena hujan. Jadi, sekompleks itulah makna dalam ungkapan di Aceh.

(1) Lagèe mie dengon tikôh ‘Seperti kucing dengan tikus’ Kisah perseteruan tikus dan kucing sudah dimulai sejak keduanya ada di muka bumi ini. Mengapa demikian? Karena dalam rantai makanan, tikus adalah makanan lezat kucing. Namun, kelicikan, kelincahan, dan kecepatan tikus enghindar dari mangsanya membuat kucing kesal.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved