Salam

Mau Berpolitik di Aceh? Yang Rapilah

JAGAT politik Aceh pada akhir pekan lalu diwarnai oleh sebuah kejadian unik bin lucu

Mau Berpolitik di Aceh? Yang Rapilah
IST
Deklarasi Pemilu Damai di Sabang, Minggu (23/9/2018). 

JAGAT politik Aceh pada akhir pekan lalu diwarnai oleh sebuah kejadian unik bin lucu. Tim kampanye nasional pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Jokowi-Ma’ruf Amin melakukan hal yang menggelikan sekaligus membingungkan. Tim tersebut menunjuk tim kampanye di Aceh, tapi yang aneh ada dua surat keputusan (SK) yang beredar, memuat nama-nama berbeda, tapi keduanya diterbitkan pada tanggal yang sama.

SK dimaksud beredar Jumat, 21 September. Dalam SK Nomor 017/KPTS/TKN-JKWMA/IX/2018 yang ditunjuk sebagai Ketua Tim Kampanye Pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin di Aceh adalah Kamaruddin Abubakar alias Abu Razak yang juga Sekretaris Jenderal Partai Aceh (PA). Hanya saja pada SK itu terjadi kesalahan penulisan nama, tertulis ‘Kamarudin Abd Razak’. Selanjutnya pada posisi sekretaris diisi oleh Ketua DPD I Golkar Aceh, Drs Teuku M Nurlif, sedangkan bendaharanya politikus PPP Aceh, M Amin Said MHum.

Tak lama berselang, beredar lagi SK lain bernomor sama, yakni 017-A/KPTS/TKN-JKWMA/IX/2018. Cuma, dalam SK tersebut posisi ketua timnya sudah berubah. Bukan lagi ‘Kamaruddin Abd Razak’, melainkan Irwansyah alias Tgk Muksalmina. Pria semampai ini merupakan Ketua Majelis Tinggi (MTP) Partai Nanggroe Aceh (PNA). Sedangkan sekretaris tim kampanye versi kedua ini diisi oleh politikus Partai NasDem, Teuku Irwan Djohan dan bendaharanya, Teuku Syahreza Darwin, kader Partai Golkar Aceh.

Kedua SK tersebut sama-sama dikeluarkan pada 15 September 2018 dan ditandatangani oleh Ketua dan Sekretaris Tim Kampanye Nasional, Erick Thohir dan Hasto Kristiyanto dengan dibubuhi cap stempel yang sama.

SK penunjukkan tim kampanye daerah seperti ini tentu saja membuat bingung banyak orang di Aceh, terutama mereka yang namanya tercantum di dua SK tersebut. Yang juga ikut bingung pastilah petinggi partai yang mengusul nama-nama tersebut ke tim kampanye nasional di Jakarta. Kebingungan itu langsung terlihat ketika wartawan Serambi bertanya kepada Ketua DPW NasDem Aceh, Zaini Djalil, Sabtu siang. Sarjana hukum ini mengaku bingung. Ia bahkan tak berani memastikan mana di antara kedua SK itu yang benar, sebab hingga Sabtu sore pihaknya belum menerima secara resmi SK tim pemenangan di Aceh dari tim kampanye nasional di pusat.

Namun, kata Zaini, penentuan tim kampanye daerah itu sudah diatur dalam petunjuk teknis di mana nama ketua, sekretaris, dan bendahara diputuskan dalam rapat partai koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf di daerah. Ketentuannya: partai dengan suara terbanyak terpilih sebagai ketua, seterusnya sekretaris, hingga bendahara.

Dalam rapat partai koalisi beberapa waktu lalu, ungkap Zaini Djalil, suara terbanyak diraih oleh TM Nurlif (Golkar). Namun, karena tim kampanye nasional juga membuka peluang bagi tokoh di luar partai koalisi, maka muncullah nama Abu Razak, salah satu pentolan Partai Aceh. Menurut Zaini, yang mereka usulkan untuk ketua tim cuma dua, yakni TM Nurlif dan Abu Razak. Penentuan selanjutnya ada di tingkat pusat dan ia belum tahu bagaiman hasilnya.

Terkait nama Irwansyah alias Muksalmina, Teuku Irwan Djohan, dan Teuku Syahreza Darwin di dalam SK kedua itu, Zaini Djalil mengaku tak tahu dari mana nama-nama tersebut masuk SK. Zaini malah sudah bertanya ke Irwan Djohan, tapi Irwan juga tak tahu-menahu soal ini.

Hehe, fakta ini sungguh bikin kita geli, kan? Nah, silakanlah geleng-geleng kepala, sebelum menggeleng dilarang. Cuma, bagi kita yang bukan orang partai, realitas ini semakin membuktikan bahwa manajemen kepartaian di sejumlah partai memang banyak yang dikerjakan asal-asalan. Jauh dari kesan profesional. Salah satu buktinya, nama orang yang di-SK-kan bisa salah tulis, sehingga yang punya nama tersinggung dan merasa nama itu bukan namanya. Tentu saja ia tak mau mengemban tanggung jawab atas mandat yang diberikan bukan kepadanya, meski namanya mirip.

Bukti kedua, bagaimana mungkin tim kampanye nasional yang ketua dan sekretarisnya orang yang sama, mengeluarkan dua SK pada tanggal dengan nomor SK yang sama, namun nama orang yang ditunjuk beda. Kalau begini, sungguh sangat kentara kesan amatiran dalam tim kampanye Jokowi-Ma’ruf di Aceh. Kalau dari start-nya saja sudah bermasalah maka jangan berharap banyak pasangan nomor urut 1 ini menjadi nomor 1 dalam perolehan suara pemilih di Aceh.

Satu nasihat penting dari media ini bahwa kalau mau berpolitik dan ingin menang di Aceh, mbok ya yang rapilah manajemennya! Jika dari partai nasional tak bisa berharap banyak, ya belajarlah dari partai lokal dalam mengelola partai. Kedua, pastikan segera tim mana yang sebetulnya ditunjuk menjadi tim kampanye di Aceh. Minta maaf kepada tim yang SK-nya dibatalkan. Ketiga, jangan pikun sebelum masanya, apalagi pada masa-masa kampanye pemilu, sebab bisa sangat fatal akibatnya. Hehe.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved