Citizen Reporter

Buah Jatuh pun Tak Ada yang Berani Ambil

KAMI menginjakkan kaki di Bandar Udara Pulau Pinang, Malaysia, 28 Agsutus sore. Perjalanan kami terasa spesial

Buah Jatuh pun Tak Ada yang Berani Ambil
WILSEN YUNGNATA

OLEH WILSEN YUNGNATA, Mahasiswa International Accounting Program (IAP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis, sedang ikut KKN Internasional Universitas Syiah Kuala 2018, melaporkan dari Penang, Malaysia

KAMI menginjakkan kaki di Bandar Udara Pulau Pinang, Malaysia, 28 Agsutus sore. Perjalanan kami terasa spesial karena kami pergi dalam rangka Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Program perdana Unsyiah ini diikuti 14 mahasiwa dari berbagai fakultas, dengan dua orang pendamping serta tiga orang dosen pembimbing.

Dengan periode selama tiga minggu, program ini dilaksanakan di empat daerah di Malaysia, yaitu Kampung Anak Kurau, Taman Kota Wira, Taman Chandan Puteri, Taman Gerbang Meru, dan Universitas Kerbangsaan Malaysia

Sebagai kegiatan internasional, KKN internasional ini bertujuan membentuk mahasiwa yang mampu menerapkan ilmu yang telah dipelajarinya secara konkret dalam masyarakat. Kami juga dituntut untuk mampu beradaptasi, mandiri, dan punya kemampuan problem solving yang baik untuk setiap tantangan yang kami hadapi. Setiap rencana kami tuangkan dalam program-program yang dilaksanakan kepada masyarakat setempat, dengan budaya, adat, dan kebiasaan yang berbeda.

Lebih daripada itu, kami sebagai mahasiwa KKN internasional juga diharapkan dapat meraih nilai-nilai positif dan pelajaran berharga. Sehingga, setelah kami selesai dan kembali ke Aceh (Indonesia), kami dapat menjadi agen perubahan dan membagikan nilai-nilai positif dan pelajaran berharga tersebut.

Berbicara mengenai nilai-nilai positif, kami mendapat banyak pelajaran berharga selama di sini. Nilai-nilai tersebut mungkin terkesan sebagai hal yang kecil dan remeh, tetapi masih belum dapat dilaksanakan dengan baik di Aceh dan Indonesia umumnya. Kami juga percaya bahwa ketika kita mampu setia melakukan perkara kecil, kita akan dipercaya dan mampu melakukan hal yang besar nantinya.

Pelajaran pertama yang kami dapatkan di sini adalah tentang keramahtamahan masyarakatnya. Dalam KKN internasional ini kepada kami diterapkan sistem “keluarga angkat”, di mana kami dibagi menjadi dua hingga empat orang per kelompok kecil. Setiap kelompok kecil punya keluarga angkat yang menaunginya. Kami tinggal, beraktivitas, dan menghabiskan sebagian besar waktu kami bersama keluarga angkat dan penduduk sekitar.

Setelah berjalan dua minggu lebih dan sudah tinggal dalam empat daerah dengan empat keluarga angkat berbeda, kami selalu diterima sangat baik oleh seluruh keluarga angkat dan warga sekitar. Meski berbeda kewarganegaraan, tapi sama sekali kami tidak diperlakukan berbeda. Malah sebaliknya, kami sudah menjadi seperti keluarga sendiri bagi keluarga angkat dan masyarakat sekitar. Wajar kalau ketika akan berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya, perpisahan kami dengan keluarga angkat dan warga kampung setempat selalu diwarnai air mata haru, seakan kami tak kuat berpisah dari mereka.

Pelajaran kedua yang kami dapatkan adalah tentang nilai kejujuran. Saat tinggal di Kampung Anak Kurau, daerah sekitar kami banyak ditumbuhi pepohonan produktif. Mulai dari pohon rambutan, mangga, nangka, duku, rambai, langsat, pisang, hingga pohon durian. Meskipun pohon tersebut berbuah ranum, tapi tidak ada warga yang mengambil (mencuri) buahnya. Bahkan sampai jatuh dari pohonnya--saking masaknya–tetap saja tidak ada yang mengambil buah-buahan tersebut.

Bagi masyarakat sekitar, jika ingin mengambil buah tersebut, kita harus meminta izin pada pemiliknya. Bagi mereka, mengambil buah-buahan tanpa minta izin merupakan tindakan pencurian karena mengambil sesuatu yang bukan miliknya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved