Salam

Garansi Pemilu Damai di Aceh

Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Aceh, Ilham Saputra meyakini proses Pemilihan Umum (Pemilu) di Aceh

Garansi Pemilu Damai di Aceh
SERAMBINEWS.COM/FIKAR W EDA
Komisoner KPU, Ilham Saputra. 

Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Aceh, Ilham Saputra meyakini proses Pemilihan Umum (Pemilu) di Aceh akan berjalan aman dan lancar. Sejauh ini pihak KPU Aceh belum menemukan pelanggaran yang berarti.

Padahal Kemendagri menyatakan Provinsi Aceh menjadi salah satu daerah yang menempati tingkat kerawanan Pemilu tinggi. Indeks Kerawanan Pemilu (IKP) 2019 mencatat Aceh masuk dalam 15 daerah yang memiliki IKP di atas rata rata nasional.

Bahkan Aceh diklaim sebegai salah satu dari dua daerah yang memiliki tingkat kerawanan tertinggi dalam rangkaian Pemilu 2019. Satu daerah lainnya adalah Propinsi Papua.

Menurut Ilham, walau di Aceh ada kontestan Partai Lokal, tapi sejauh ini tak ada masalah berarti. Masih sama dengan proses Pemilu 2014 yang berlangsung damai di Aceh.

Pernyataan Ilham itu setidaknya menjadi garansi bagi terselenggaranya pesta demokrasi yang damai, nyaman dan dalam suasana hati yang gembira di Aceh. Bagaimanapun, selaku bagian utuh dari operator Pemilu di Aceh, Ilham tentu punya referensi untuk menyatakan klaim tersebut.

Sebelumnya, sebanyak 20 partai politik (parpol) dan 26 calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Aceh, menyepakati untuk melaksanakan kampanye damai dalam tahapan Pemilu 2019 di Aceh. Komitmen itu ditandatangani para pimpinan Parpol, calon DPD serta Forkopimda Aceh yaitu Plt Gubernur Nova Iriansyah MT, Kapolda Irjen Pol Rio Septianda Djambak, Pangdam IM Mayjen TNI Teguh Arief Indriatmoko, Wali Nanggroe Tgk Malik Mahmud Al Haytar, perwakilan Kajati Aceh dan Wakil Ketua KIP Aceh Tharmizi, pekan silam.

Inilah sebuah proses awal yang memberi harapan bagi terwujudnya sebuah perhelatan politik yang damai di Aceh. Kesepakatan tentang komitmen kampanye damai itu jelas menjadi garansi tersendiri bagi terselenggaranya Pemilu damai di Aceh. Karena semuanya juga bersepakat, bahwa komitmen itu bukan hanya sebatas retorika dan slogan belaka.

Perbedaan kubu atau bahkan baju dalam menjalani proses politik yang kini mulai menggelinding, hendaknya tidak malah menjadi picu putusnya hubungan silaturahmi dan silaturahim antara sesama warga di seantero Aceh.

Karena itu kepada masyarakat diminta untuk tidak menjadikan proses politik dan demokrasi menjadi gerbang perpecahan antar golongan atau kaum, atau bahkan antar anggota dalam keluarga.

Dinamika politik serta geliat dari hiruk pikuk pesta demokrasi bisa saja terjadi. Karena itulah buah manis dari demokrasi itu sendiri.

Pemilu damai di Bumi Aceh nantinya menjadi bukti telah terwujudnya sebuah Taman Demokrasi di Tanah Aceh. Demokrasi, yang damai serta jauh dari hiruk pikuk dan anarkisme, dan Pemilu 2019 hendaknya berlangsung sarat dalam aura kekeluargaan.

Perbedaan aliran politik adalah hal yang biasa, bahkan bisa jadi terjadi antara anggota dalam satu keluarga. Karena hal itu justru menjadi dinamika dalam sebuah proses demokrasi. Lebih dari itu, demokrasi justru akan menjadi perekat yang lebih erat atau the binding power bagi warga. Karenanya kita sama menggantung asa seperti Ilham Saputra, berharap terwujudnya pertunjukan politik yang santun, mendidik dan dalam situasi gembira di Aceh.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved